Karya Tulis
6 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 169-170) Generasi Lemah & Generasi Unggul


فَخَلَفَ مِن بَعدِهِم خَلفٌ وَرِثُواْ ٱلكِتَـٰبَ یَأخُذُونَ عَرَضَ هَـٰذَا ٱلأَدنَىٰ وَیَقُولُونَ سَیُغفَرُ لَنَا وَإِن یَأتِهِم عَرَضٌ مِّثلُهُۥ یَأخُذُوهُۚ أَلَم یُؤخَذ عَلَیهِم مِّیثَـٰقُ ٱلكِتَـٰبِ أَن لَّا یَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلحَقَّ وَدَرَسُواْ مَا فِیهِۗ وَٱلدَّارُ ٱلـَٔاخِرَةُ خَیرٌ لِّلَّذِینَ یَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعقِلُونَ . وَٱلَّذِینَ یُمَسِّكُونَ بِٱلكِتَـٰبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ إِنَّا لَا نُضِیعُ أَجرَ ٱلمُصلِحِینَ .

“Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: "Kami akan diberi ampun." Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

(Qs. al-A'raf: 169-170)

 

Pelajaran (1) Pengantar

(1) Dua ayat di atas menjelaskan tentang beberapa sifat generasi buruk yang berbeda dengan sifat pendahulu mereka. Yang dimaksud di sini menurut al-Qasimi adalah kaum Yahudi.

Sudah menjadi sunatullah bahwa generasi yang semakin jauh dari generasi pertama akan semakin menurun kualitasnya.

Ini berlaku pada setiap umat, baik umat Nabi Musa, yaitu kaum Yahudi yang sedangkan kita bahas pada ayat ini; maupun umat Nabi Isa, yaitu kaum Nasrani, begitu juga umat Nabi Muhammad ﷺ, yaitu: umat Islam.

(2) Adapun yang dimaksud generasi pendahulu mereka adalah generasi yang disebutkan dalam firman-Nya,

وَقَطَّعنَـٰهُم فِی ٱلأَرضِ أُمَمًاۖ مِّنهُمُ ٱلصَّـٰلِحُونَ وَمِنهُم دُونَ ذَ ٰ⁠لِكَۖ وَبَلَونَـٰهُم بِٱلحَسَنَـٰتِ وَٱلسَّیِّـَٔاتِ لَعَلَّهُم یَرجِعُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-A’raf: 167)

(a) Menurut Ibnu Katsir jika generasi sebelumnya terdiri dari orang shalih dan orang yang tidak shalih, maka generasi penggantinya ini adalah generasi yang tidak ada kebaikannya sedikitpun.

(b) Namun menurut Qatadah yang dimaksud dengan generasi sebelumnya adalah para rasul dan nabi mereka.

(3) Kata (خَلفٌ) “khalfun” artinya generasi buruk. Berbeda dengan kata (خلف) “khalafun” yang berarti generasi baik. Makna ini sesuai dengan apa yang disebutkan di dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

يَحْمِلُ هذا العلمَ من كلِّ خلَفٍ عُدُولُهُ، ينفونَ عنه تحريفَ الغالينَ، وانتحالَ المُبْطِلينَ، وتأويلَ الجاهِلينَ

“Ilmu (agama) ini dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, ta’wil orang-orang jahil dan pemalsuan orang-orang bathil.” (HR. Ahmad dan al-Baihaqi. Hadits ini dihasankan oleh al-'Alai. Disebutkan al-Albani di dalam ash-Shahihah.)

(4) Ayat di atas, disampaikan Allah dalam al-Qur'an agar generasi Islam menjauhi dari sifat-sifat generasi buruk kaum Yahudi tersebut. Tidak berhenti di situ saja, Allah juga memberikan beberapa tips (langkah) untuk membentuk generasi yang baik dan tangguh di masa mendatang.

Oleh karenanya, bab ini akan dibagi menjadi dua pasal, yaitu: pasal pertama, membahas tentang empat sifat generasi buruk; sedangkan pasal kedua, membahas tentang tujuh langkah untuk membentuk generasi yang baik dan tangguh.

 

Pelajaran (2) Empat Sifat Generasi Buruk dan Lemah

Empat sifat generasi buruk ini telah disebutkan dalam ayat ini secara berurutan. Berikut keterangannya yang lebih terperinci:

(1) Sifat Pertama: Mengabaikan Kitab Suci.

وَرِثُواْ ٱلكِتَـٰبَ

“Mewarisi al-Kitab (Taurat).”

(a) Maksud Kitab di sini adalah Kitab Taurat.

Jadi generasi ini mempunyai kitab suci yaitu Taurat yang diwariskan dari para orang tua dan guru-guru mereka. Diwasiatkan kepada mereka agar membaca dan mempelajari serta mengamalkan isinya. Tetapi mereka berpaling dari wasiat ini dan menganggap remeh isi kitab suci tersebut, dan tentunya tidak mau mengamalkan isinya. Mereka telah menzhalimi diri mereka sendiri.

(b) Menurut al-Qurthubi, sebenarnya mereka telah membaca, mempelajari, dan memahami isi kitab Taurat, hanya saja mereka dengan sengaja menyelisihi isinya dan tidak mau mengamalkannya, karena pergi dengan kehidupan dunia.

(c) Oleh karena itu Ibnu al-Qayyim mengatakan setiap orang berilmu yang lebih mementingkan dunia, dipastikan dia tidak akan adil dan tidak berkata benar ketika berfatwa atau menghukumi orang lain, begitu juga dalam pernyataan-pernyataannya.

Hal itu dikarenakan kebanyakan hukum-hukum Allah bertentangan dengan kepentingan sebagian orang khususnya para pejabat.

(d) Generasi yang mewarisi kitab, kemudian berbuat zhalim terhadap diri sendiri telah disebutkan di dalam firman-Nya,

ثُمَّ أَورَثنَا ٱلكِتَـٰبَ ٱلَّذِینَ ٱصطَفَینَا مِن عِبَادِنَاۖ فَمِنهُم ظَالِمٌ لِّنَفسِهِۦ وَمِنهُم مُّقتَصِدٌ وَمِنهُم سَابِقٌُ بِٱلخَیرَ ٰ⁠تِ بِإِذنِ ٱللَّهِۚ ذَ ٰ⁠لِكَ هُوَ ٱلفَضلُ ٱلكَبِیرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Qs. Fathir: 32)

Di dalam ayat ini, Allah telah membagi generasi yang mewarisi kitab menjadi tiga, yaitu: sabiqun, muqtasidun dan zhalimun.

(2) Sifat Kedua: Cinta Dunia.

یَأخُذُونَ عَرَضَ هَـٰذَا ٱلأَدنَىٰ

“(yang) mengambil harta benda dunia yang rendah ini.”

(a) Generasi ini mengabaikan kitab suci mereka karena sudah tergiur dengan gemerlapnya dunia. Mereka tertipu dengan kenikmatan dunia yang sementara dan lupa terhadap kehidupan akhirat

(b) Berkata Mujahid, “Ketika melihat dunia mereka langsung mengambilnya, tanpa peduli apakah itu halal atau haram, sambil  berharap berharap Allah akan  mengampuni dosa-dosa mereka.”

(c) Kata (عَرَضَ) artinya kesenangan dunia. Sedangkan kata (ٱلأَدنَى) menurut al-Qasimi mempunyai dua arti, yaitu

  • Dekat atau cepat berakhir. Yaitu dunia hanyalah kesenangan sementara jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang langgeng dan abadi.
  • Rendah, maksudnya bahwa kesenangan dunia ini adalah kesenangan daripada kualitas rendah.

(d) Sifat dunia yang rendah dan hina telah disebutkan di dalam firman-Nya,

وَلَو شِئنَا لَرَفَعنَـٰهُ بِهَا وَلَـٰكِنَّهُۥۤ أَخلَدَ إِلَى ٱلأَرضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلكَلبِ إِن تَحمِل عَلَیهِ یَلهَث أَو تَترُكهُ یَلهَثۚ ذَّ ٰ⁠لِكَ مَثَلُ ٱلقَومِ ٱلَّذِینَ كَذَّبُواْ بِـَٔایَـٰتِنَاۚ فَٱقصُصِ ٱلقَصَصَ لَعَلَّهُم یَتَفَكَّرُونَ

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Qs. al-A'raf: 176)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa kitab suci akan mengangkat derajat seseorang, tetapi justru orang tersebut lebih cenderung memilih "bumi" yang konotasinya rendah dan hina.

(e) Generasi yang cinta dunia ini juga telah disebutkan oleh Allah dalam ayat lain dengan ungkapan generasi yang meliputi bisikan hawa nafsunya sebagaimana di dalam Firman-Nya,

فَخَلَفَ مِن بَعدِهِم خَلفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَ ٰ⁠تِۖ فَسَوفَ یَلقَونَ غَیًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Qs. Maryam: 59)

(3) Sifat Ketiga: Meremehkan Dosa.

وَیَقُولُونَ سَیُغفَرُ لَنَا

“Dan berkata: "Kami akan diberi ampun".”

(a) Salah satu dampak dari cinta dunia yang berlebihan adalah meremehkan dosa. Mereka menganggap bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka dan tidak akan menyiksa mereka di akhirat.

(b) Sifat ini mirip dengan sifat kaum Yahudi yang ingin hidup lama di dunia dan menganggap bahwa mereka tidak akan disiksa di akhirat nanti, sebagaimana dalam beberapa firman-Nya,

  • Firman-Nya,

وَمِنهُم أُمِّیُّونَ لَا یَعلَمُونَ ٱلكِتَـٰبَ إِلَّا أَمَانِیَّ وَإِن هُم إِلَّا یَظُنُّونَ . فَوَیلٌ لِّلَّذِینَ یَكتُبُونَ ٱلكِتَـٰبَ بِأَیدِیهِم ثُمَّ یَقُولُونَ هَـٰذَا مِن عِندِ ٱللَّهِ لِیَشتَرُواْ بِهِۦ ثَمَنًا قَلِیلًاۖ فَوَیلࣱ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَت أَیدِیهِم وَوَیلٌ لَّهُم مِّمَّا یَكسِبُونَ .

“Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. al-Baqarah: 78-79)

  • Firman-Nya,

وَقَالُوا لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّا أَیَّامًا مَّعدُودَةًۚ قُل أَتَّخَذتُم عِندَ ٱللَّهِ عَهدًا فَلَن یُخلِفَ ٱللَّهُ عَهدَهُۥۤۖ أَم تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعلَمُونَ

“Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?"” (Qs. al-Baqarah: 80)

  • Firman-Nya,

أَلَم تَرَ إِلَى ٱلَّذِینَ أُوتُواْ نَصِیبًا مِّنَ ٱلكِتَـٰبِ یُدعَونَ إِلَىٰ كِتَـٰبِ ٱللَّهِ لِیَحكُمَ بَینَهُم ثُمَّ یَتَوَلَّىٰ فَرِیقٌ مِّنهُم وَهُم مُّعرِضُونَ

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).” (Qs. Ali 'Imran: 23)

  • Firman-Nya,

ذَ ٰ⁠لِكَ بِأَنَّهُم قَالُواْ لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّا أَیَّامًا مَّعدُودَ ٰ⁠تٍۖ وَغَرَّهُم فِی دِینِهِم مَّا كَانُواْ یَفتَرُونَ

“Hal itu adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung." Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan.” (Qs. Ali 'Imran: 24)

(c) Berkata Qatadah, “Dalam hal ini, mereka telah berangan-angan kepada Allah dengan angan-angan yang sangat tinggi.”

Dikatakan berangan-angan karena mereka dengan sengaja melakukan banyak dosa, tanpa ada rasa takut akan siksaan Allah. Kemudian setelah itu, dengan mudahnya mereka ingin diampuni oleh Allah.

(d) Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, pernah berkata bahwa:

  • Al-Quran akan menjadi lusuh di dalam hati sebagian kalangan, sebagaimana lusuhnya baju.
  • Mereka membacanya tetapi tidak merasakan kenikmatan sedikitpun darinya.
  • Mereka memakai baju domba padahal hatinya, seperti serigala.
  • Ketika melakukan perbuatan dosa, tidak ada rasa takut sedikitpun kepada Allah.
  • Jika malas dalam beramal, mereka akan mengatakan kami akan sampai juga pada tujuan. Jika berbuat dosa, mereka akan mengatakan bahwa Allah akan mengampuni kita. Toh, kita tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun.

(4) Sifat Keempat: Terus Menerus dalam Perbuatan Dosa.

وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ

“Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga).”

(a) Sifat keempat dari generasi buruk dan lemah adalah mereka nyaman untuk berbuat dosa dan betah dalam kubangan maksiat secara terus-menerus, tidak mau beranjak darinya.

(b) Berkata al-Baghawi, “Ayat ini menunjukkan bahwa mereka sangat tamak terhadap dunia dan tetap bersikukuh untuk mengerjakan perbuatan dosa dan maksiat.”

(c) Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa mereka tidak pernah puas dengan kesenangan dunia.

Ini sesuai dengan beberapa hadits, diantaranya:

  • Hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

لَوْ أنَّ لِابْنِ آدَمَ وادِيًا مِن ذَهَبٍ أحَبَّ أنْ يَكونَ له وادِيانِ، ولَنْ يَمْلَأَ فاهُ إلّا التُّرابُ، ويَتُوبُ اللَّهُ على مَن تابَ.

“Sekiranya anak Adam memiliki sebukit emas, niscaya ia akan mengharapkan dua bukit emas lagi, dan tidaklah mulutnya dipenuhi melainkan dengan tanah, dan Allah akan menerima taubat siapa yang bertaubat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

  • Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، ومِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَؤُلاَءِ الأَرْبَعِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu', dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan aku berlindung kepada-Mu dari empat perkara tersebut.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Abu Daud dan an-Nasai. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih al-Jami'.)

(d) Ini berbeda dengan generasi yang baik dan tangguh, ketika tergelincir dalam sebuah dosa, mereka langsung ingat kepada Allah dan meminta ampun atas dosa yang telah mereka kerjakan sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya,

وَٱلَّذِینَ إِذَا فَعَلُواْ فَـٰحِشَةً أَو ظَلَمُواْ أَنفُسَهُم ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱستَغفَرُواْ لِذُنُوبِهِم وَمَن یَغفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَم یُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُم یَعلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Qs. Ali 'Imran: 135)

(e) Berkata Ibnu Abbas, “Mereka telah berkata batil dan mewajibkan kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosa yang terus-menerus mereka lakukan dan tidak ada keinginan sedikitpun untuk bertobat.”

 

Pelajaran (3) Tujuh Langkah Membentuk Generasi Unggul

Setelah menyebutkan empat sifat generasi yang buruk dan lemah, selanjutnya pada ayat ini, Allah menjelaskan tujuh langkah untuk membina generasi yang baik dan dan tangguh.

Berikut ini adalah sebagian rinciannya:

(1) Langkah Pertama: Berjanji kepada Allah untuk Selalu Menegakkan Kebenaran kapan dan dimana saja berada.

ألَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثاقُ الكِتابِ أنْ لا يَقُولُوا عَلى اللَّهِ إلّا الحَقَّ.

“Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.”

(a) Asy-Syinqithy menafsirkan perjanjian pada ayat di atas seperti perjanjian yang disebutkan di dalam firman Allah,

وَإذْ أخَذَ اللَّهُ مِيثاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الكِتابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنّاسِ ولا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وراءَ ظُهُورِهِمْ واشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ ما يَشْتَرُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.” (Qs. Ali ‘Imran: 187)

(b) Menurut al-Qurthubi, ayat ini sangat menekankan kepada setiap orang agar mengatakan kebenaran di dalam syariat dan dalam masalah hukum.

(2) Langkah Kedua: Mempelajari Kitab Suci dengan Sungguh-sungguh.

وَدَرَسُواْ مَا فِیهِۗ

“Padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya.”

Menurut al-Qasimi makna “dirasah” pada ayat ini adalah mengulang-ulang dalam membaca al-Kitab dan mempelajari isinya.

(3) Langkah Ketiga: Mementingkan Kehidupan Akhirat di atas Kehidupan Dunia.

وَٱلدَّارُ ٱلـَٔاخِرَةُ خَیرٌ لِّلَّذِینَ یَتَّقُونَۚ

“Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa.”

(a) Bagi orang yang bertakwa kehidupan yang sesungguhnya dan abadi adalah kehidupan akhirat, bukan kehidupan dunia.

(b) Oleh karena itu, Ali bin Abi Thalib ketika mendefinisikan Takwa, menyebutkan salah satu unsurnya yang penting adalah selalu mempersiapkan kematian dan hari akhir. Beliau berkata,

الخوف من الجليل و العمل بالتنزيل و الرضا بالقليل و الاستعداد ليوم الرحيل

“Takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan al-Qur’an yang diturunkan, ridha dengan sesuatu yang sedikit, persiapan untuk hari kepergian (ke akhirat).”

(4) Langkah Keempat: Selalu Berpikir dan Merenung.

أَفَلَا تَعقِلُونَ

“Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?”

(a) Berpikir dan merenung sangat penting dalam menata kehidupan ini. Orang yang cerdas akan lebih mengutamakan kesenangan abadi daripada kesenangan sementara. Dia rela bertahan dan bersabar meninggalkan kesenangan sementara, demi untuk meraih kebahagiaan abadi.

(b) Hal ini sesuai dengan hadist Syadad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

الكَيِّسُ مَن دان نفسَه وعمِل لما بعدَ المَوتِ والعاجِزُ مَن أتبَعَ نفسَه هواها وتمنّى على اللهِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits ini Hasan.)

(c) Kunci kesuksesan adalah mampu menahan diri dan bersabar terhadap godaan dan kesenangan yang berseliweran di depannya. Sebaliknya orang yang gagal adalah mereka yang tidak mampu bersabar dan menahan diri dari godaan dunia.

(d) Orang yang mampu menahan diri akan masuk surga sedang orang tidak bisa menahan diri akan masuk neraka sebagaimana di dalam firman-Nya,

فَأَمَّا مَن طَغَىٰ . وَءَاثَرَ ٱلحَیَوٰةَ ٱلدُّنیَا . فَإِنَّ ٱلجَحِیمَ هِیَ ٱلمَأوَىٰ . وَأَمَّا مَن خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفسَ عَنِ ٱلهَوَىٰ . فَإِنَّ ٱلجَنَّةَ هِیَ ٱلمَأوَىٰ .

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (Qs. an-Nazi'at: 37-41)

(e) Oleh karena itu, di dalam al-Qu'ran banyak disebutkan perintah untuk berpikir dan merenung. Orang yang cerdas, minimal harus memiliki dua sifat yaitu tadzakur dan tafakkur. Ini sebagaimana yang tersebut di dalam firman-Nya (Qs. Ali Imran: 190-191)

(5) Langkah Kelima: Berpegang Teguh kepada Kitab Suci.

وَٱلَّذِینَ یُمَسِّكُونَ بِٱلكِتَـٰبِ

“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Kitab (Taurat).” (Qs. al-A’raf: 170)

(a) Di akhir zaman orang yang berpegang teguh kepada kitab suci bagaikan orang yang memegang bara api, karena dahsyatnya tantangan dunia yang harus dihadapinya.

(b) Bahkan menurut al-Qasimi bahwa yang dimaksud dengan memegang teguh kitab suci adalah memegang teguh ajaran agamanya.

(c) Ini sesuai dengan apa yang disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

المُتمسِّكُ يومئذٍ بدِينه كالقابضِ على الجَمرِ

“Pada hari itu sedikit yang berpegang dengan agamanya, seperti seorang yang memegang bara api.” (HR. Ahmad. Berkata al-Albani di dalam ash-Shahihah bahwa sanadnya jayyid.)

(d) Mujahid berpendapat bahwa yang dimaksud pada ayat ini adalah orang-orang beriman dari Ahlul Kitab, seperti: Abdullah bin Salam dan beberapa rekannya yang berpegang teguh kepada Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, mereka tidak manipulasinya, menyembunyikannya ataupun menjualnya dengan harga murah.

(6) Langkah Keenam: Selalu Menegakkan Shalat.

وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ

“Dan mendirikan shalat.”

(a) Menegakkan shalat secara kontinue dan sungguh-sungguh adalah cara yang paling efektif untuk menempa diri dan memperbaiki jiwa. Karena dengan shalat, seseorang akan selalu terkoneksi dengan Allah. Otomatis jiwanya akan tercelup dengan bacaan-bacaan dan doa-doa yang ada dalam shalat.

(b) Hal ini menjadikan seseorang memiliki kepribadian yang tangguh, sehingga tidak mudah menyeleweng dari tuntunan agama, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah di dalam firman-Nya,

ٱتلُ مَا أُوحِیَ إِلَیكَ مِنَ ٱلكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنهَىٰ عَنِ ٱلفَحشَاءِ وَٱلمُنكَرِۗ وَلَذِكرُ ٱللَّهِ أَكبَرُۗ وَٱللَّهُ یَعلَمُ مَا تَصنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Ankabut: 45)

(7) Langkah Ketujuh: Selalu Memperbaiki Diri dan Lingkungan Sekitarnya.

إِنَّا لَا نُضِیعُ أَجرَ ٱلمُصلِحِینَ

“Karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

(a) Generasi yang baik dan tangguh tidak hanya memperbaiki diri dirinya sendiri tapi juga berpikir keras untuk memperbaiki orang lain dan lingkungan sekitarnya. Dalam ungkapan lain dia selalu beramar ma'ruf dan nahi munkar.

(b) Pada ayat ini sifat menegakkan shalat disandingkan dengan perbuatan amar ma'ruf nahi mungkar.  Menegakkan shalat adalah perbaikan kepada diri sendiri, sedang beramar ma'ruf nahi mungkar adalah perbaikan kepada orang lain.

(c) Kita dapatkan juga hal ini dalam dalam firman-Nya yang lain,

یَـٰبُنَیَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأمُر بِٱلمَعرُوفِ وَٱنهَ عَنِ ٱلمُنكَرِ وَٱصبِر عَلَىٰ مَاۤ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَ ٰ⁠لِكَ مِن عَزمِ ٱلأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Qs. Luqman: 17)

Ayat ini menjelaskan bahwa Luqman Hakim melakukan pembinaan kepada anaknya, yang kelak menjadi generasi penerus, dengan cara memerintahkannya untuk selalu menegakkan shalat, dan beramar ma'ruf nahi mungkar, memperbaiki diri sendiri serta memperbaiki orang lain.

 

***

Karawang, Ahad, 3 Desember 2023

KARYA TULIS