Ilmu
65428 Hits

Tafsir Surat An-Nas


Dr. Ahmad Zain An Najah, MA



قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِنْ شَرِّ الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ مِنَ الجِنَّةِ وَالنَّاسِ



“Katakanlah: Aku berlindung kepada Robb manusia, Raja manusia, Sembahan (Ilaah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia, dari golongan jin dan manusia.”

Surat ini turun bersamaan dengan surat Al Falaq, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam terkena sihir yang dilakukan oleh Labid bin al-A’shom seorang Yahudi yang meletakkan rontokan rambut Rasulullah yang berjumlah 11 helai di bawah sebuah batu yang berada di bawah sumur yang berair. Oleh karenanya, jumlah ayat dari dua surat An Nas dan Al Falaq adalah 11 ayat ; surat an-Nas berjumlah 6 ayat sedang surat al-Falaq berjumlah  5 ayat.

Dalam surat ini, Allah memerintahkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam untuk berlindung kepada Allah dari was-was syaitan. Perintah kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam berarti juga perintah kepada umatnya. Di dalam kehidupan sehari-hari, jika kita ingin berlindung dari bahaya  apapun juga, kita akan berlindung kepada sesuatu yang kuat. Umpamanya kita ingin menghindari dari bahaya banjir, maka kita akan berlindung di suatu tempat yang tinggi dan kuat yang bisa menahan arus banjir. Atau kita ingin terhindar dari sambaran petir, maka kita akan mencari rumah yang dilengkapi dengan perlengkapan penangkal petir, begitu seterusnya.

Kaitannya dengan surat An-Nas ini adalah kita diperintahkan berlindung dari bahaya godaan syetan, yang selalu membisikan ke dalam dada manusia. Syetan adalah musuh yang sangat berbahaya, kita tidak bisa melihat mereka, tetapi mereka melihat kita. Oleh karena itu kita memerlukan perlindungan dari serangan-serangan syetan  yang datang bertubi-tubi, tiada henti-hentinya tersebut. Maka Allah menjelaskan bahwa tidak ada tempat berlindung dari itu semua kecuali Allah. Pertanyaannya adalah kenapa harus kepada Allah, seberapa kekuatan yang dimiliki-Nya sehingga kita harus berlindung kepada-Nya ? Maka Allah menjelaskan itu semua pada ayat-ayat di bawah ini :    

Pertama :

 قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ


“Katakanlah: Aku berlindung kepada Robb manusia. “


Maksud Allah sebagai Rabb manusia adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pemilik, pengatur, penguasa dan pemberi rezeki seluruh umat manusia. Bahkan Allah juga Rabb (pencipta, pemilik, pengatur, penguasa, pemberi rezeki) seluruh Alam semesta ini beserta isinya, termasuk di dalamnya para syetan  yang selalu menggoda manusia. Artinya sangat wajar dan memang seharus begitu, kita berlindung dari kejahatan syetan kepada Rabb (Dzat Yang Menciptakan Syetan itu sendiri), sehingga dipastikan bisa menanganinya, dan dipastikan kita akan selamat.

Mengakui Allah sebagai Rabb (Pencipta, Pemilik, Perawat, Pemberi Rezeki, Yang Menurunkan hujan, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang Memberi Sakit, Yang Menyembuhkan), adalah bentuk dari Tauhid Rububiyah. Orang yang menyakini bahwa selain Allah, seperti Jin, para wali-wali Allah yang sudah meninggal dalam kuburan-kuburan mereka, para dukun, bahwa mereka bisa memberikan manfaat dan mudharat, bisa mengabulkan permohonan berupa harta, jodoh atau anak, maka dia telah mensyirikan Allah dalam Rububiyah-NYa.

Orang-orang musyrik kadang mentauhidkan Allah dalam Rububiyah-Nya, sebagaimana di dalam firman Allah  :

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“ Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur".( Qs Yunus (10) : 22-23 )

Begitu juga Iblis kadang mengakui  Allah sebagai pencipta, sebagaimana di dalam firman Allah  :

قَالَ ياإِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلاَّ تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ قَالَ لَمْ أَكُن لاِسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِى إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

“ Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?" Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat".  Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah  ( hidupkan aku ) kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan".Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. “  ( Qs al-Hijr (15) : 32-37 )

Oleh karenanya, belum tentu orang yang mentauhidkan Rububiyah, pasti dia telah mentauhid Uluhiyah. Belum tentu orang yang mengakui bahwa sang pencipta adalah Allah, pasti dia hanya menyembah Allah saja.

Di dalam banyak firman-Nya, Allah swt mengajak orang-orang musyrik yang telah mengakui Tauhid Rububiyah agar mereka meningkatkan  hal itu untuk mengakui Tauhid Uluhiyah, salah satunya di dalam firman Allah :

قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ (59) أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ (60) أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (61) أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ (62) أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (63) أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (64)

 

Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.  Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?"

Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).

Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?  Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).

Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).

Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".( Qs An Naml : 59- 64 )

 

Kedua :

مَلِكِ النَّاسِ

“ (Allah adalah) Raja Manusia “

Allah sebagai raja manusia yang sebenarnya, penguasa manusia yang sebenarnya. Dia-lah raja manusia di dunia dan akherat.  Adapun manusia yang menjadi raja di dunia ini, bukanlah raja yang sebenarnya. Mereka sebenarnya tidaklah memiliki apa-apa, kecuali dengan izin Raja Manusia  yaitu Allah.

Ayat ini ditujukan kepada dua kelompok manusia :

Kelompok Pertama : Kepada rakyat dan masyarakat umum.  

Sebagian masyarakat terlalu mengagungkan pemimpin dan raja mereka, sehingga memberikan hak kepada mereka yang sebenarnya hanya milik Allah saja.

Ayat ini mengingatkan kepada mereka semuanya bahwa satu-satunya Raja yang berhak disembah adalah Allah subhanahu wa ta’ala, tidak yang lainnya.

Orang-orang Nasrani telah menyembah para pendeta dan tokoh-tokoh agama mereka dengan cara mentaati mereka secara membabi buta, walaupun mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah ataupun mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, merekapun tetap mentaatinya. Inilah bentuk penyembahan mereka terhadap para pendeta tersebut. Allah berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ  وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

        “ Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan “( Qs at Taubah ( 9 ) : 31)

 Salah seorang sahabat yang bernama Adi bin Hatim ketika mendengar ayat ini, beliau berkata kepada Rasulullah : “ Wahai Rasulullah, sebenarnya mereka tidak menyembah para pendeta tersebut. “ Maka Rasulullah bersabda : “ Bukankah para pendeta itu mengharamkan sesuatu yang halal dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya ? Itulah bentuk peribadatan mereka kepada para pendeta tersebut.”    

Oleh karenanya, seorang muslim tidak boleh mentaati seorang pemimpin yang memerintahkan kepada sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, karena sesungguhnya sebenar-benar raja dan pemimpin adalah Allah.

Kelompok Kedua : ayat ini ditujukan kepada para raja, dan para penguasa.

 Ayat ini menjelaskan bahwa sebenarnya manusia itu bukanlah penguasa, tetapi mereka hanyalah pemegang amanat kekuasaan yang diberikan Allah kepada mereka. Bukankah Allah yang mengangkat seorang raja dan melengserkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman  :

 قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير

“ Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( Qs Ali Imran : 26 )

 Oleh karena itu, seseorang tidak boleh menyebut dirinya raja diraja, atau Syahinsyah ( untuk orang Persia ), Syah Jihan ( untuk orang India ) karena raja diraja adalah Allah subhanahu wa ta’ala.   Dalam suatu hadist Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda : 

  إنَّ أَخْنَعَ اسْمٍ عِنْدَ اللهِ - عز وجل - رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ  

 “ Sesungguhnya serendah-rendah nama di sisi Allah adalah orang yang menamakan dirinya raja diraja “ ( HR Bukhari dan Muslim)

 

Ketiga :

 إِلَهِ النَّاسِ

 ( Allah adalah)  Sesembahan Manusia

“ Ilah “ artinya sesembahan. Kalimat :“ La Ilaha illallah “  artinya tiada yang berhak disembah kecuali Allah. Para ulama menyebut kalimat ini sebagai kalimat tauhid  “ Tauhid Uluhiyah. “.  Apa itu Tauhid Uluhiyah ?

Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan Allah di dalam ibadah, yaitu seseorang tidaklah boleh beribadah kecuali kepada Allah, tidaklah bertawakkal kecuali kepada Allah, tidaklah meminta kecuali kepada Allah, tidaklah mengharap kecuali kepada Allah, tidaklah takut kecuali kepada Allah.

Tauhid Uluhiyah ini adalah tauhid yang dibawa para nabi sejak nabi Nuh hingga nabi Muhammad.  Karena tauhid inilah, maka diciptakan syurga dan neraka, ditiupkan terompet peperangan antara pembela  tauhid ini dengan para musuhnya. Karena tauhid inilah, maka manusia dan jin diciptakan. Karena tauhid inilah para nabi diusir dari kampung halaman mereka. Tuhid Uluhiyah ini merupakan inti dakwah para Rasul, inti dari agama Islam, inti dari kandungan Al Qur’an dan inti dari surat Al Fatihah.

Di dalam surat an-Nas ini ada tiga macam tauhid : Tauhid Rubiyah, Tauhid Mulkiyah, Tauhid Uluhiyah.

Perbedaan mendasar antara Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah  bahwa Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah di dalam perbuatan-Nya ( Allah sebagai subyek ), sedangkan Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan Allah di dalam ibadah. ( Allah sebagai obyek ). Tauhid Rububiyah hampir semua makhluq mengakuinya, termasuk iblis. Sedangkan Tauhid Uluhiyah hanya orang muslim saja yang mengakuinya.  

Keempat :

مِنْ شَرِّ الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ

Dari Kejahatan (Bisikan) Syaitan Yang Biasa Bersembunyi “

 

Di dalam ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa sifat syetan adalah suka bersembunyi dan lari terbirit - birit, khususnya jika mendengar adzan dan  mendengar nama Allah disebut. Ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah :

 

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya."( HR Bukhari dan Muslim )

Syetan itu duduk di hati manusia, jika dia lengah, segera dia membisikan ke dalamnya, jika manusia itu mengingat Allah, dia akan lari.

Di dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa  syetan itu akan membisikan ke dalam hati manusia di saat ia sedih sekali dan di saat ia gembira sekali, namun jika dia mengingat Allah, maka syetan itu akan bersembunyi.

Telah terbukti, bahwa orang yang sedang dirundung kesedihan yang amat sangat dan kesenangan yang amat sangat tanpa disertai dengan menyebut  nama Allah, maka syetan akan merasukinya, dan begitulah sering terjadi kesurupan, yang kadang menimpa juga kepada orang-orang Islam yang lengah mengingat Allah.

Di salah satu pesantren yang terletak di daerah Jawa Barat, sering terjadi kesurupan massal yang menimpa beberapa santriwatinya. Setelah diselidiki, ternyata jiwa para santriwati yang kesurupan tersebut sangat labil dan kosong. Salah seorang santriwati kedapatan sangat sedih sekali kehilangan teman akrabnya yang sedang pulang karena sakit. Nah, kesedihan yang berlarut, tanpa diiringi dengan dzikir kepada Allah, akan menjadi korban bisikan syetan dan berlanjut kepada kesurupan, na’udzubillahi min dzalik.

 

 Ini sesuai dengan   firman Allah :

 

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَاناً فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ حَتَّى إِذَا جَآءَنَا قَالَ يالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ وَلَن يَنفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذ ظَّلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِى الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ

 

“  Barang siapa yang berpaling dari Mengingat Allah ( Petunjuk Allah ) Yang Maha Pemurah (yaitu Al Qur'an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” ( Qs. Az Zukhruf : 36)

 

Kelima :

 

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ

“ Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia. “

 

Bisikan syetan pada hati manusia sangat banyak dan beragam, semuanya mengarahkan kepada kemaksiatan dan kejahatan.

Bisikan ini ditujukan kepada  shodrun ( dada ) manusia. Kenapa shodrun ( dada ), tidak qalbun ( hati ), dan tidak pula fuad ( hati ) ?  Jawabannya bahwa sebenarnya tiga kata itu  maknanya sama, hanya berbeda dalam penggunaannya saja. Shodrun ( Dada ) adalah tempat dimana ada fuad dan  qalbun ( hati ).

Qalbun berarti sesuatu yang sering berbolik-balik.  bisa membalikkan qalbun hanyalah Allah swt. Di dalam doa’ disebutkan :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

“ Ya Allah, Yang Membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku ini agar selalu berada di dalam agama-Mu “  ( HR Tirmidzi )

Hadist lengkapnya adalah sebagai berikut :

 

 عَن شَهْرُ بْنُ حَوْشَبٍ قَالَ قُلْتُ لِأُمِّ سَلَمَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ فَتَلَا مُعَاذٌ { رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا }

 

Dari Syahr bin Hausyab ia berkata; aku katakan kepada Ummu Salamah; Wahai Ummul mukminin, apakah doa Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam yang paling sering, apabila ada padamu? Iaberkata; doa beliau yang paling sering adalah: "Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii 'Alaa Diinika" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu).

Ummu Salamah berkata; wahai Rasulullah, betapa sering anda berdoa: "Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii 'Alaa Diinika" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu).

Beliau berkata: "Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun melainkan hatinya berada diantara dua jari diantara jari-jari Allah, barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan meluruskannya dan barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan membelokkannya."

Kemudian Mu'adz membaca ayat: "Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami." ( HR Tirmidzi, beliau berkata; hadits ini adalah hadits hasan)

Bisikan syetan kepada manusia meliputi bisikan dalam masalah aqidah dan ibadah.

Dalam masalah aqidah, syetan membisikan manusia agar ragu-ragu dengan Allah, sampai-sampai dia menanyakan : “ Siapa yang menciptakan Allah ? Ini sebagaimana yang terdapat dalam hadist Abu Hurairah :

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ

عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ فَيَقُولُ اللَّهُ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثْلِهِ وَزَادَ وَرُسُلِهِ

 

Dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Manusia senantiasa bertanya-tanya hingga ditanyakan, 'Ini, Allah menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah', maka barangsiapa mendapatkan sesuatu dari hal tersebut, maka hendaklah dia berkata, 'Aku beriman kepada Allah'." 

Dari Hisyam bin Urwah dengan sanad ini, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setan datang kepada salah seorang dari kalian lalu berkata, 'Siapakah yang menciptakan langit, siapakah yang menciptakan bumi? ' lalu dia menjawab, 'Allah', kemudian menyebutkan dengan semisalnya, dan dia menambahkan kalimat, 'Dan Rasul-Nya'.( HR Muslim )

Adapun bisikan syaitan dalam ibadah adalah : merasa keluar angin dalam sholat, padahal itu hanya bisikan syaitan saja. Dalam hal ini Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan sesuatu yang kurang beres dalam perutnya, lalu rancu baginya perkara tersebut, apakah keluar atau tidak, maka janganlah dia keluar dari masjid hingga dia mendengar suara (kentut) atau mendapatkan baunya."  ( HR Bukhari dan Muslim )

Termasuk bisikan syetan dalam ibadah adalah seseorang melamun dalam sholat dan mengingat sesuatu, sehingga dia lupa berapa rekaat dia sudah sholat. Ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah :

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى

 

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya."( HR Bukhari dan Muslim )

Termasuk bisikan syaitan dalam ibadah, adalah berlama-lama di kamar mandi, atau merasa bahwa air kencingnya belum bersih, atau belum keluar semua. Ada juga sebagian orang yang sudah keluar kamar mandi, masuk lagi dan terus begitu berkali-kali. Maka untuk menghilangkan bisikan syetan seperti itu, para ulama menganjurkan untuk membasahi celana kita dengan air, sehingga ketika merasa ada sesuatu yang keluar dari anggota tubuhnya, dan didapatkan celananya basah, akan terbetik bahwa basah tersebut penyebabnya adalah air bersih yang dipercikkan. Dengan demikian hilanglah bisikan syetan tersebut.

 

Bisikan syetan juga mempunyai dua bentuk :

 

Bentuk Pertama: Fitnah Syubhat, yaitu bisikan syetan ke dalam hati manusia agar salah di dalam memahami ajaran agama Islam ini. Fitnahi ini terjadi akibat kebodohan. Fitnah Subhat inilah yang menimpa kaum Nashrani, maka mereka menjadi  orang-orang yang sesat ( Dhallun). Fitnah ini kemudian merembet kepada orang-orang Islam, sehingga  merasuki sebagian orang-orang sufi, aliran-aliran sesat dan ahli bid’ah dan sejenisnya.  

Bentuk Kedua : Fitnah Syahwat,  yaitu bisikan syetan ke dalam hati manusia agar bermaksiat kepada Allah dan agar mengikuti hawa nafsunya. Seseorang yang terkena fitnah syahwat ini, akan lebih mementingkan kesenangan dunia dibandingkan kehidupan akherat. Fitnah Syahwat inilah yang menimpa orang-orang Yahudi, sehingga mereka dimurkai Allah ( Maghdhubi ‘Alaihim), karena mereka   mempunyai ilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmu tersebut. Kemudian fitnah ini merembet kepada kaum muslimin dan menimpa sebagian orang-orang yang berilmu tetapi tidak mau mengamalkan ilmunya, bahkan cenderung untuk bermaksiat dan lebih mementingkan kehidupan dunia daripada akherat.   

 

Keenam :  

مِنَ الجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“ Dari golongan jin dan manusia.”

Allah menerangkan pada ayat keenam ini bahwa yang membisikan ke dalam dada manusia itu adalah syetan dari golongan jin dan dari golongan manusia. Ini sesuai dengan firman Allah :

 

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيِّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ الإِنْسِ وَالجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ القَوْلِ غُرُورًا


            “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.” (QS. Al-An’am: 112)

Adapun Iblis berasal dari golongan Jin, sebagaimana dalam firman Allah :

إِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

 

“ Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” ( Qs al-Kahfi : 50 )

Dari dua ayat di atas bisa disimpulkan bahwa iblis dan syaitan adalah dua istilah yang mempunyai titik berbeda dan kesamaan. Perbedaannya adalah syetan terdiri dari dua golongan ; golongan manusia dan jin, sedangkan iblis dari golongan jin saja. Sedangkan titik kesamaannya adalah bahwa kedua-duanya berasal dari golongan jin. Jadi, syaitan lebih umum dari iblis.

 

Perbandingan Antara Surat An Naas Dan Surat Al Falaq

 

Di sana ada beberapa perbedaan antara Surat An Naas dan Surat al Falaq, diantaranya adalah bahwa dalam surat al-Falaq kita diperintahkan meminta perlindungan dengan menggunakan nama Allah “ ar-Rabb “ saja,  dari empat hal : kejahatan makhluq, kejahatan malam, kejahatan tukang sihir, dan kejahatan orang yang hasad. Sedangkan dalam surat An Naas kita diperintahkan untuk meminta perlindungan dengan menggunakan tiga nama Allah, yaitu, Rabb, Malik dan Ilah, dari satu kejahatan saja, yaitu kejahatan syetan yang mempunyai dua sifat : bersembunyi, dan membisikan pada dada manusia.

Perbedaan di atas menunjukkan bahwa kejahatan syetan yang selalu bersembunyi dan membisikan kepada dada manusia jauh lebih berbahaya dari pada kejahatan empat hal yang disebutkan dalam surat al- Falaq, karena bahaya bisikan syetan akan menimpa hati dan keyakinan, sedangkan bahaya empat hal di atas hanya menimpa fisik dan badan manusia. Wallahu A’lam .