Ilmu
1268 Hits

Qs. Al Maidah 82 - 92, Pengaruh Yahudi dan Nasrani


 (Qs. 5: 82) menjelaskan bahwa orang yang paling keras permusuhannya terhadap umat Islam adalah orang Yahudi dan orang Musyrik.

 

Allah memberi kelebihan kepada orang Yahudi berupa; kecerdasan, kekayaan, dan kekuasaan. Mereka memusuhi Islam karena khawatir umat Islam mengambil alih kekuasaan dan kekayaan mereka.

 

2⃣ (Qs. 5: 82) Orang-orang Nasrani lebih dekat dengan umat Islam karena dalam diri mereka terdapat dua kelompok;

a. Qissis (para Pendeta) yang mempelajari Al Kitab

b. Ruhban (para Ahli Ibadah)

 

Kedua sifat itulah yang membuat mereka tidak takabbur.

 

3⃣ (Qs. 5: 83) Oleh karenanya banyak dari kaum Nasrani yang jujur, mereka tersentuh hatinya saat mendengar Al Qur'an dan akhirnya memeluk  Islam.

 

4⃣ (Qs. 5: 84) Mereka menemukan kebenaran yang selama ini mereka cari, ternyata ada di dalam Islam dan berita tentang kedatangan Nabi Muhammad yang membawa kebenaran sudah tertulis dalam kitab mereka. 

 

5⃣ (Qs. 5: 85) Maka Allah memberikan balasan pada mereka (orang Nasrani yang masuk Islam) pahala yang besar berupa surga. 

 

6⃣ (Qs. 5: 86) Sedangkan sebagian lain yang tidak mau beriman pada Nabi Muhammad dan tidak mau masuk Islam maka Allah menyediakan bagi mereka neraka Jahim. 

 

7⃣ (Qs. 5: 87) Karena banyaknya interaksi dengan Ahlu kitab, sebagian umat Islam terpengaruh dengan model ibadahnya para Ruhban (Ahli Ibadah Nasrani) yang cenderung meninggalkan dunia secara berlebihan sehingga mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, seperti meninggalkan pernikahan, tidak mau memakai baju bagus, tidak mau makan makanan enak, dsb. 

 

Maka Allah melarang umat Islam mengikuti gaya/pola berfikir mereka yang mengharamkan hal-hal baik yang dihalalkan oleh Allah sekaligus melarang untuk bertindak berlebihan dalam segala hal termasuk dalam beribadah, karena pada hakikatnya ajaran Islam  adalah agama pertengahan.

 

Larangan berlebihan dalam agama ini juga Allah sebutkan dalam Qs. An Nisa: 71 dan Al Maidah: 77

 

8⃣ (Qs 5 : 88) Allah memerintahkan umat Islam untuk makan dari rezeki Allah yang halal dan thayyib.

 

Memakan yang halal dan tahyyib merupakan simbol ajaran Islam yang pertengahan. Maksudnya perintah menikmati rezeki (makanan) dengan dua syarat, halal dan tayyib. 

 

Dari sini diketahui, bahwa Islam berada di tengah-tengah antara ekstrim kiri (Nasrani) yang mengharamkan sesuatu yang halal dan ekstrim kanan (Yahudi) yang menghalalkan sesuatu yang haram. Bersikap pertengahan seperti ini merupakan hakekat Ketakwaan kepada Allah.

 

9⃣ (Qs. 5 : 89) Allah memberikan pentunjuk pada umat Islam yang terpengaruh dengan ibadahnya umat Nasrani dan terlanjur bersumpah dengan nama Allah untuk mengharamkan pada dirinya apa yang dihalalkan Allah,  agar mereka membayar kaffarah jika melanggar sumpahnya, yaitu memberikan makanan kepada 10 orang miskin, atau memberikan pakaian yang layak kepada mereka atau membebaskan budak. Jika tidak bisa memenuhi tiga pilihan di atas maka harus diganti dengan puasa tiga hari.