Karya Tulis
197 Hits

Tafsir An-Najah (Qs.2:74) Bab 51 - Hati Yang Keras


Hati yang Keras

 

ثُمَّ قَسَتۡ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَٱلۡحِجَارَةِ أَوۡ أَشَدُّ قَسۡوَةٗۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلۡحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنۡهُ ٱلۡأَنۡهَٰرُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخۡرُجُ مِنۡهُ ٱلۡمَآءُۚ وَإِنَّ مِنۡهَا لَمَا يَهۡبِطُ مِنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”

(Qs. al-Baqarah: 74)

 

 (1) Hukuman bagi Pembunuh

Setelah Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya dengan menghidupkan orang yang sudah mati, sekaligus memberitahukan siapa sebenarnya yang membunuh, ternyata kerabat dan ahli waris pembunuh tetap tidak percaya dengan kesaksian korban yang bisa hidup kembali. Walaupun begitu, hukum Allah ditegakkan, sang pembunuh akhirnya dibunuh juga sebagai balasan perbuatan-Nya. Hukum ini sering disebut “al-Qishash” sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡقِصَاصُ فِي ٱلۡقَتۡلَىۖ ٱلۡحُرُّ بِٱلۡحُرِّ وَٱلۡعَبۡدُ بِٱلۡعَبۡدِ وَٱلۡأُنثَىٰ بِٱلۡأُنثَىٰۚ فَمَنۡ عُفِيَ لَهُۥ مِنۡ أَخِيهِ شَيۡءٞ فَٱتِّبَاعُۢ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَأَدَآءٌ إِلَيۡهِ بِإِحۡسَٰنٖۗ ذَٰلِكَ تَخۡفِيفٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَرَحۡمَةٞۗ فَمَنِ ٱعۡتَدَىٰ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَلَهُۥ عَذَابٌ أَلِيمٞ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (Qs. al-Baqarah: 178)

 

(2) Hati yang Keras

Ketidakpercayaan mereka terhadap kekuasaan Allah yang diperlihatkan di depan mata mereka secara langsung dan terhadap mukjizat Nabi Musa menunjukkan bahwa hati mereka keras, bahkan lebih keras dari batu. Artinya batu dan gunung saja luluh jika diturunkan kepadanya al-Qur’an, sebagaimana di dalam firman-Nya,

لَوۡ أَنزَلۡنَا هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلٖ لَّرَأَيۡتَهُۥ خَٰشِعٗا مُّتَصَدِّعٗا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ   

“Kalau sekiranya Kami turunkan al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Qs. al-Hasyr: 21)

Bahkan batu dalam surat (al-Baqarah: 74) ini bisa berfungsi dan bermanfaat karena takut kepada Allah, paling tidak ada 3 manfaat:

(a) Batu-batu tersebut memancarkan air darinya sehingga mengalir sungai-sungai.

(b) Batu-batu tersebut terbelah, kemudian darinya keluar mata air.

(c) Batu-batu tersebut meluncur dari atas pegunungan ke bawah.

Semua itu terjadi karena batu-batu tersebut takut kepada Allah.

 

(3) Batu pun Bisa Menangis

Dari dua ayat di atas yaitu (Qs. al-Hasyr: 21) dan (Qs. al-Baqarah: 74) bisa disimpulkan bahwa gunung dan batu yang selama ini dianggap keras dan tidak bisa ditembus bisa terpecah belah dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar, seperti mengalirkan air darinya dan membentuk sungai-sungai yang airnya jernih, dan di antara sungai-sungai tersebut terdapat batu-batu yang besar dan batu-batu kecil yang yang semua bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Begitu juga hati manusia, jika ada rasa takut kepada Allah dia akan melembut. Dan jika hati melembut maka akan menimbulkan manfaat yang sangat banyak dalam kehidupan manusia, seperti timbul rasa kasih sayang kepada anak kecil, orang tua, orang miskin, orang sakit dan menjauhi dari perbuatan jahat yang membahayakan orang lain. Hati yang lembut ini akan selalu mengadakan perbaikan-perbaikan di muka bumi.

Salah satu ayat yang menunjukkan cara melembutkan hati, sehingga tunduk dengan segala perintah Allah adalah. Sebagaimana firman-Nya:

أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hadid: 16)

Sebagian ulama menafsirkan tiga aktifitas batu di atas seperti aktifitas manusia yang sedang menangis karena takut kepada Allah.

(a) Batu yang terpancar darinya air sungai adalah batu yang menangis dan air matanya keluar sangat banyak.

(b) Batu yang terpecah dan mengeluarkan air adalah batu yang menangis tetapi air matanya sedikit.

(c) Batu yang jatuh dari atas gunung adalah batu yang menangis hatinya tanpa mengeluarkan air mata.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa benda-benda mati bisa beraktifitas sebagaimana makhluk hidup jika Allah mengizinkannya. Hal ini banyak di sebutkan di dalam al-Qur’an di antaranya:

(a) Firman Allah,

لَوۡ أَنزَلۡنَا هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلٖ لَّرَأَيۡتَهُۥ خَٰشِعٗا مُّتَصَدِّعٗا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

“Kalau sekiranya Kami turunkan al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Qs. al-Hasyr: 21)

(a) Firman Allah,

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومٗا جَهُولٗا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (Qs. al-Ahzab: 72)

(b) Firman Allah,

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا 

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Qs. al-Isra’: 44)

(c) Firman Allah,

وَٱلنَّجۡمُ وَٱلشَّجَرُ يَسۡجُدَانِ

“Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan keduanya tunduk kepada-Nya.” (Qs. ar-Rahman: 6)

(d) Firman Allah,

أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ إِلَىٰ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٖ يَتَفَيَّؤُاْ ظِلَٰلُهُۥ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَٱلشَّمَآئِلِ سُجَّدٗا لِّلَّهِ وَهُمۡ دَٰخِرُونَ ۞ وَلِلَّهِۤ يَسۡجُدُۤ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن دَآبَّةٖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ ۞

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri? Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.” (Qs. an-Nahl: 48-49)

(e) Firman Allah,

وَقَالُواْ لِجُلُودِهِمۡ لِمَ شَهِدتُّمۡ عَلَيۡنَاۖ قَالُوٓاْ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنطَقَ كُلَّ شَيۡءٖۚ وَهُوَ خَلَقَكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ   

“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit mereka menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan".” (Qs. Fushshilat: 21)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa benda-benda mati bisa beraktifitas sebagaimana makhluk hidup dengan izin Allah. Ini sekaligus menunjukkan bahwa Allah Maha Mampu berbuat apa saja.

 

***

Jakarta, Rabu, 4 Januari 2022

KARYA TULIS