Karya Tulis
125 Hits

Tafsir An-Najah (Qs.2:89) Bab 57 - Kedengkian Kaum Yahudi


Kedengkian Kaum Yahudi

 

وَلَمَّا جَاۤءَهُمْ كِتٰبٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْۙ وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۚ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهٖ ۖ فَلَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ۞ بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ اَنْ يَّكْفُرُوْا بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بَغْيًا اَنْ يُّنَزِّلَ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۚ فَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ عَلٰى غَضَبٍۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ مُّهِيْن ۞ وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا نُؤْمِنُ بِمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُوْنَ بِمَا وَرَاۤءَهٗ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُوْنَ اَنْۢبِيَاۤءَ اللّٰهِ مِنْ قَبْلُ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۞ وَلَقَدْ جَاۤءَكُمْ مُّوْسٰى بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَنْتُمْ ظٰلِمُوْنَ ۞ وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَۗ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاسْمَعُوْا ۗ قَالُوْا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاُشْرِبُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۗ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهٖٓ اِيْمَانُكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ۞ 

“Dan setelah sampai kepada mereka Kitab (al-Qur'an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar. Sangatlah buruk (perbuatan) mereka menjual dirinya, dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Dan kepada orang-orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan, Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur'an),” mereka menjawab, “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka ingkar kepada apa yang setelahnya, padahal (al-Qur'an) itu adalah yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah (Muhammad), “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang beriman? Dan sungguh, Musa telah datang kepadamu dengan bukti-bukti kebenaran, kemudian kamu mengambil (patung) anak sapi (sebagai sesembahan) setelah (kepergian)nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zhalim, Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab, “Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati.” Dan diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah, “Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh kepercayaanmu kepadamu jika kamu orang-orang beriman!”

(Qs.Al-Baqarah {2} : 89-93)

 

 

(1) Sebab Turunnya Ayat

Dahulu kaum Yahudi Khaibar sering berperang di suku Ghathafan. Kaum Yahudi sering kali mengalami kekelahan. Maka mereka berdoa kepada Allah: “Ya Allah demi kemuliaan Muhammad, nabi ummi yang telah engkau janjikan akan utus kepada kami di akhir zaman, maka kami mohon engkau menangkan kami atas mereka (Suku Ghathafan).”

Setiap berperang mereka mengucapkan doa tersebut, sehingga mereka memperoleh kemenangan. Namun ketika nabi tersebut sudah datang kepada mereka, mereka ingkar dan tidak mau beriman kepadanya.

Sebagian mengatakan bahwa yang berdoa seperti doa di atas adalah Yahudi Madinah agar dimenangkan terhadap suku Aus dan Khazraj. Ketika datang Nabi Muhammad yang selama ini mereka tunggu dan mereka beritahukan kepada Aus dan Khazraj, justru mereka menolaknya dengan alasan itu bukan nabi yang mereka maksud. Padahal sebenarnya mereka mengharapkan nabi tersebut dari kalangan Bani Israel, tetapi ternyata yang datang adalah Nabi dari kalangan Nabi Ismail.

 

(2) Kedustaan Kaum Yahudi

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ اَنْ يَّكْفُرُوْا بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بَغْيًا اَنْ يُّنَزِّلَ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۚ فَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ عَلٰى غَضَبٍۗ وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ مُّهِيْن

“Sangatlah buruk (perbuatan) mereka menjual dirinya, dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Dan kepada orang-orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan.” (Qs. al-Baqarah: 90)

Ayat di atas menunjukkan beberapa hal:

(a) Mereka menjual diri mereka untuk mendapatkan kesenangan dunia maka perbuatan tersebut dianggap perbuatan yang sangat buruk. Karena biasanya orang menjual sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. Inilah yang dilakukan orang beriman yang menjual dirinya untuk mendapatkan ridha Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَاد

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Qs. al-Baqarah: 207)

Ayat ini turun kepada Syuhaib Ar-Rumi yang berhijrah meninggalkan seluruh hartanya demi mencari ridha Allah.

Bandingkan antara kaum Yahudi dengan sahabat Syuhaib.

(b) Kaum Yahudi mengkafiri apa yang diturunkan Allah (al-Qur’an) karena Baghyan (hasad dan dengki) terhadap Nabi Muhammad yang dipilih Allah sebagai nabi terakhir dari kalangan Bani Ismail. Sedangkan kaum Yahudi mengharap nabi terakhir dari kalangan Bani Israel.

(c) Kenabian adalah karunia Allah yang diberikan kepada yang Allah kehendaki bukan karena seseorang atau sekelompok manusia. Pilihan Allah pasti banyak hikmah di baliknya.

Allah berfirman,

 لّٰهُ اَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسٰلَتَهٗۗ

“Allah lebih mengetahui di mana dia meletakkan tugas kerasulan-Nya.” (Qs .al-an’am: 124)

(d) Kaum yahudi adalah kaum yang mengetahui kebenaran Nabi Muhammad, tetapi menutupi dan mengingkarinya. Kaum seperti itu akan mendapatkan murka dari Allah. Allah berfirman,

 فَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ عَلٰى غَضَبٍۗ

“Maka mereka mendapat murka di atas murka.” (Qs. al-Baqarah: 90)

Kita diminta untuk berlindung dari kaum yang sifatnya seperti itu. Allah berfirman,

غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ

“Bukan jalan orang-orang yang dimurkai (Allah).” (Qs. al-Fatihah: 7)

 

(3) Beriman kepada Kitab Sebelumnya

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اٰمِنُوْا بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا نُؤْمِنُ بِمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُوْنَ بِمَا وَرَاۤءَهٗ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُوْنَ اَنْۢبِيَاۤءَ اللّٰهِ مِنْ قَبْلُ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur'an),” mereka menjawab, “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka ingkar kepada apa yang setelahnya, padahal (al-Qur'an) itu adalah yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah (Muhammad), “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang beriman?” (Qs. al-Baqarah: 91)

Pelajaran dari ayat di atas:

(a) Jika dikatakan kepada mereka (kaum Yahudi), “Berimanlah dengan apa yang Allah turunkan (al-Qur’an).” Mereka akan mengatakan, “Kami cukup beriman dengan kitab yang diturunkan kepada kami (Taurat dan Injil).”

(b) Kaum Yahudi mengetahui bahwa al-Qur’an itu benar dari Allah yang datang untuk membenarkan Kitab Taurat dan Injil. Allah berfirman,

اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْ ۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui(nya).” (Qs. al-Baqarah: 146)

(c) Bantahan untuk mereka adalah “Jika kalian benar beriman kepada Taurat dan Injil, kenapa kalian membunuh para Nabi Allah. Padahal membunuh para Nabi itu hukumnya haram dalam Kitab Taurat dan Injil. Jadi pengakuan bahwa kalian beriman kepada Taurat dan Injil adalah pengakuan tidak benar dan bohong belaka.”

 

(4) Pelanggaran Bani Israel

وَلَقَدْ جَاۤءَكُمْ مُّوْسٰى بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَنْتُمْ ظٰلِمُوْنَ

“Dan sungguh, Musa telah datang kepadamu dengan bukti-bukti kebenaran, kemudian kamu mengambil (patung) anak sapi (sebagai sesembahan) setelah (kepergian)nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zalim.” (Qs. al-Baqarah: 92)

Ayat 92 dan 93 menjelaskan kembali tentang penyelewengan Bani Israel terhadap ajaran nabi mereka, sekaligus untuk membantah pengakuan (klaim) mereka bahwa mereka beriman kepada Taurat dan Injil. Di antara penyelewengan mereka adalah:

(a) Nabi Musa telah diutus kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat agar mereka yakin dengan kenabiannya. Di antara mukjizat-mukjizat (al-Bayiad) tersebut adalah, angin badai, belalang, kutu, katak, tongkat, tangan, pembelahan laut, penaungan awan, makanan al-Manna dan as-Salwa, batu dan mukjizat-mukjizat lainnya.

Dengan itu semuanya, semestinya Bani Israel bertambah imannya terhadap Nabi Musa dan bersyukur terhadap nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. Tetapi  justru mereka kufur terhadap nikmat-nikmat tersebut dan menjadikan patung anak sapi sebagai sesembahan.

Perbuatan tersebut adalah perbuatan zhalim, karena menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Nikmat dari Allah mestinya disyukuri dan hanya menyembah kepada-Nya, bukan malah menyembah patung anak sapi. Maka Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya,

وَاَنْتُمْ ظٰلِمُوْنَ

“Sedangkan kalian telah berbuat zhalim.” (Qs. al-Baqarah: 92)

(b) Bani Israel telah berjanji kepada Allah sampai-sampai Gunung Thursina diangkat di atas mereka untuk menguatkan janji tersebut, tetapi setelah itu mereka melanggar juga dengan mengatakan,

سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا

“Kami mendengar dan kami tidak mentaati.” (Qs. al-Baqarah: 93)

(c) Dan yang lebih fatal lagi, Bani Israel justru semakin mencintai patung anak sapi tersebut meresap ke dalam hati mereka. Di dalam hadits Abu Darda radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حبَك الَّشْيَء يْعِمي ويِصُّم

“Kecintaanmu kepada sesuatu, membuatmu buta dan tuli.” (HR. Abu Daud)

Ketiga hal di atas menunjukkan bahwa pengakuan (klaim) kaum Yahudi bahwa mereka beriman dengan Taurat bertolak dengan sendirinya. Seandainya pelanggaran yang tersebut di atas adalah bentuk keimanan, maka betapa buruknya keimanan menurut versi mereka itu.

Semua itu disebutkan di atas terangkum di dalam firman-Nya,

وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّوْرَۗ خُذُوْا مَآ اٰتَيْنٰكُمْ بِقُوَّةٍ وَّاسْمَعُوْا ۗ قَالُوْا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاُشْرِبُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۗ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهٖٓ اِيْمَانُكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Sinai) di atasmu (seraya berfirman), “Pegang teguhlah apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab, “Kami mendengarkan tetapi kami tidak menaati.” Dan diresapkanlah ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah patung) anak sapi karena kekafiran mereka. Katakanlah, “Sangat buruk apa yang diperintahkan oleh kepercayaanmu kepadamu jika kamu orang-orang beriman!” (Qs. al-Baqarah: 93)

Wallahu A'lam.

 

***

Jakarta, Sabtu 8 Januari 2022

KARYA TULIS