Tafsir An-Najah (Qs. 7: 8-9) Timbangan pada Hari Kiamat

وَٱلۡوَزۡنُ یَوۡمَىِٕذٍ ٱلۡحَقُّۚ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَ ٰزِینُهُۥ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ۞ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَ ٰزِینُهُۥ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ خَسِرُوۤا۟ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا یَظۡلِمُونَ ۞
“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”
(Qs. al-A'raf: 8-9)
Pelajaran (1) Timbangan Amal
(1) Kata (وَٱلۡوَزۡنُ) artinya timbangan yang bentuknya sudah diketahui masyarakat.
(2) Kata (ٱلۡحَقُّۚ) artinya di sini adalah adil.
(3) Kata (ثَقُلَتۡ) artinya berat, maksudnya di sini adalah timbangan kebaikannya lebih berat dibandingkan timbangan keburukannya.
(4) Kata (مَوَ ٰزِینُهُۥ) artinya timbangan-timbangan kebaikannya. Di sini digunakan lafazh jama', menurut al-Baidhawi karena terdapat beberapa hal yang harus ditimbang dan terdapat beberapa timbangan.
(5) Kata (خَفَّتۡ) artinya ringan timbangannya karena sangat sedikit amal kebaikannya.
(6) Kata (یَظۡلِمُونَ) artinya menzhalimi ayat-ayat Allah dengan cara mendustakannya.
Pelajaran (2) Perkataan Para Ulama
(1) Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat, “Sesungguhnya Allah ingin menampakkan keadilan-Nya kepada hamba-Nya pada hari kiamat dengan sesuatu yang telah mereka ketahui sebelumnya di dunia, yaitu berupa timbangan yang mempunyai tiang dan dua daun timbangan.”
Hal ini berdasarkan zhahir ayat dan hadits Rasulullah ﷺ.
(2) Ibnu Athiyah berkata bahwa masalah timbangan adalah masalah keyakinan yang tidak diketahui kecuali melalui teks dari al-Qur'an dan Sunnah. Masalah ini jika disandarkan kepada akal, maka akan bermunculan berbagai pendapat dari orang-orang atheis dan para zindiq. Mereka akan mengatakan bahwa timbangan, shirath, surga, neraka, hari kebangkitan, mahsyar, dan sejenisnya semuanya akan dianggap hanya gambaran dan tidak ada hakikatnya.
(3) Berkata Ibnu Baththah, “Ahlussunnah bersepakat untuk meyakini adanya timbangan. Begitu juga amal perbuatan para hamba akan ditimbang pada hari kiamat. Timbangan ini mempunyai tiang dan dua daun timbangan.” Hal yang sama juga dikatakan oleh az-Zujaj dan Ibnu Baththah.
Pelajaran (3) Yang Ditimbang pada Hari Kiamat
Para ulama berbeda pendapat tentang sesuatu yang akan ditimbang pada hari kiamat?
(1) Pendapat pertama mengatakan bahwa yang ditimbang pada hari kiamat adalah amal perbuatan manusia. Amal tersebut nanti akan diubah menjadi sesuatu yang bisa dilihat. Ini pendapat al-Hasan dan as-Suddi. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Hajar.
Dalilnya adalah sebagai berikut:
(a) Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ
“Dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhanallahi wa bihamdihi dan Subhanallahil ‘Azhim.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
(b) Hadits Abu Darda' radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,
مَا مِنْ شَيْءٍ فِي الْمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika ditimbang (di hari Kiamat) daripada akhlak yang mulia.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, Abu Daud dan Ahmad)
(2) Pendapat kedua mengatakan apa yang akan ditimbang pada hari kiamat adalah catatan amal manusia. Ini pendapat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.
Dalilnya adalah:
(a) Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَفَلَكَ عُذْرٌ، فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً، فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ، فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: احْضُرْ وَزْنَكَ، فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ، مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ فَقَالَ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: "فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ، فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ
“Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat ketika itu dibentangkan sembilan puluh sembilan gulungan catatan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini? Apakah para (Malaikat) pencatat amal telah menganiayamu?,’ Dia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku,’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?,’ Dia menjawab: ‘Tidak Wahai Rabbku.’ Allah berfirman: “Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikitpun. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu yang di dalamnya terdapat kalimat, "Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.”
Lalu Allah berfirman: ‘Hadirkan timbanganmu.’ Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?,’ Allah berfirman: ‘Sungguh kamu tidak akan dianiaya.’ Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa ilaaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada satu pun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat Nama Allah.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim dan Ahmad. Hadits ini dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Hakim, disetujui oleh adz-Dzahabi dan dihasankan oleh at-Tirmidzi)
(3) Pendapat ketiga mengatakan bahwa yang akan ditimbang pada hari kiamat adalah pemilik amal yaitu manusia. Ini pendapat ‘Ubaid bin ‘Umar.
Dalilnya adalah:
(a) Hadits Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda,
إنّه لَيَأْتي الرَّجُلُ العَظِيمُ السَّمِينُ يَومَ القِيامَةِ، لا يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَناحَ بَعُوضَةٍ، وقالَ: اقْرَؤُوا، {فَلا نُقِيمُ لهمْ يَومَ القِيامَةِ وزْنًا}
“Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.” Lalu Nabi saw bersabda: ”Bacalah”. “Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105). (HR. al-Bukhari dan Muslim)
b. Hadits Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu,
أنّ عبدَ اللهِ بنَ مسعودٍ كان يحتَزُّ لرسولِ اللهِ ﷺ سواكًا مِن أراكٍ وكان في ساقَيْهِ دقَّةٌ فضحِك القومُ فقال النَّبيُّ ﷺ: (ما يُضحِكُكم مِن دقَّةِ ساقَيْهِ والَّذي نفسي بيدِه إنّهما أثقَلُ في الميزانِ مِن أُحُدٍ).
“Yang menyebabkan kalian tertawa karena kecil kedua betisnya. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, kedua betisnya lebih berat timbangannya daripada gunung Uhud.” (HR.Ibnu Hibban. Hadits ini dishahihkan oleh al-Haitsami di dalam al-Majma' az-Zawaid)
Kesimpulannya, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir bahwa semua pendapat di atas semuanya benar dan bisa digabungkan, yaitu adakalanya yang ditimbang adalah amal perbuatannya, adakalanya catatan-catatan amalnya, dan adakalanya diri orang yang bersangkutan.
Pelajaran (4) Tiga Golongan
Ibnu al-Qayyim menukil perkataan Hudzaifah bin Yaman dan ‘Abdullah bin Mas'ud serta beberapa sahabat lainnya, bahwa manusia pada hari kebangkitan akan terbagi menjadi tiga golongan, yaitu:
(1) Pertama adalah orang yang kebaikannya lebih berat dari keburukannya, maka dia akan masuk surga.
(2) Kedua adalah orang yang keburukannya lebih berat daripada kebaikannya, maka dia akan masuk neraka.
(3) Ketiga adalah orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang, maka dia termasuk golongan penduduk al-A'raf.
Semua ini terjadi setelah adanya qisas dan pengembalian hak-hak yang terzhalimi sewaktu di dunia.
Pelajaran (5) Hikmah dibalik Timbangan
Pertanyaannya: Bukankah Allah Maha Mengetahui tentang amal perbuatan hamba-Nya? Hikmah apa dibalik adanya timbangan pada hari kiamat?
Ibnu al-Jauzi menjawab dengan lima poin, yaitu:
(1) Untuk menguji hamba-Nya, apakah beriman dengan adanya timbangan ini atau tidak.
(2) Untuk menampakkan kebahagiaan dan kesengsaraan di akhirat
(3) Untuk memberitahukan kepada hamba-Nya tentang kebaikan dan keburukan yang dimilikinya.
(4) Untuk menegakkan hujjah atas mereka.
(5) Untuk memberitahukan bahwa Allah Maha Adil, tidak menzhalimi hamba-Nya sedikitpun.
Ibnu al-Jauzi menambahkan bahwa kedudukan timbangan ini seperti buku catatan amal yang menulis amal perbuatan manusia secara detail dan tidak ada yang terlupakan sedikitpun.
Pelajaran (6) Ayat-ayat Timbangan
Beberapa ayat yang semakna dengan ayat di atas adalah sebagai berikut:
(1) Firman-Nya,
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (Qs. al-Anbiya’: 47)
(2) Firman-Nya,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (Qs. an-Nisa’: 40)
(3) Firman-Nya,
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ ۞ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ ۞ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ ۞ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۞ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ ۞ نَارٌ حَامِيَةٌ۞
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Qs. al-Qari’ah: 6-11)
(4) Firman-Nya,
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ ۞ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۞ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ۞
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (Qs. al-Mu’minun: 101-103)
***
Karawang, Senin, 11 September 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-78
Lihat isinya
Lihat isinya »