Tafsir An-Najah (Qs. 7: 10-11) Kemuliaan Manusia

وَلَقَدۡ مَكَّنَّـٰكُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَجَعَلۡنَا لَكُمۡ فِیهَا مَعَـٰیِشَۗ قَلِیلࣰا مَّا تَشۡكُرُونَ
“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
(Qs. al-A'raf: 10)
Pelajaran (1) Persesuaian Ayat
(1) Menurut Ibnu Asyur ayat ini lanjutan dari (ayat 3) di atas, yang melarang orang-orang beriman mengambil wali selain Allah. Karena hanya Allah-lah yang menciptakan mereka dan memberikan mereka fasilitas hidup di muka bumi. Tetapi sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak bersyukur.
(2) Jauh sebelumnya, ar-Razi menyampaikan bahwa ketika Allah memerintahkan manusia untuk mengikuti perintah Allah dalam al-Qur’an dan menaati rasul-Nya (ayat 3), Allah memberikan ancaman kepada siapa saja yang menyelisihinya dengan siksaan di dunia (ayat 4 dan 5) dan siksaan di akhirat (ayat 8 dan 9). Kemudian pada (ayat 10) ini, Allah memerintahkan mereka untuk tetap menaati para nabi dengan cara lain, yaitu: memberikan kepada mereka berbagai kenikmatan di dunia ini, kenikmatan tersebut wajib untuk disyukuri.
Hal yang sama juga disampaikan oleh al-Biqai.
Pelajaran (2) Sedikit yang Bersyukur
1. Kata (مَكَّنَّـٰكُمۡ)
(a) Maksudnya menurut al-Qurthubi, “Kami jadikan bumi ini sebagai tempat tinggal dan Kami sediakan di dalamnya semua fasilitas hidup.”
(b) Sedangkan al-Qasimi mengatakan bahwa maksudnya, “Kami jadikan kalian mampu bertahan hidup di muka bumi ini dengan memanfaatkan ciptaan Allah yang disediakan untuk kalian.”
(2) Kata (مَعَـٰیِشَۗ)
(a) Menurut az-Zujaj artinya segala sesuatu yang menyebabkan seseorang menjadi hidup.
(b) Sedangkan ar-Razi mengatakan bahwa nikmat Allah kepada manusia dalam hal ini terbagi dua, yaitu: pertama, apa yang Allah ciptakan secara langsung seperti buah-buahan dan berbagai tumbuhan. Kedua, apa yang diusahakan manusia dengan izin Allah, seperti rumah dan lainnya. Semuanya wajib untuk disyukuri.
(3) Kalimat (قَلِیلࣰا مَّا تَشۡكُرُونَ)
(a) Menurut Ibnu ‘Abbas artinya, “Sedikit dari kalian yang mensyukuri nikmat-Ku dan taat kepada-Ku.”
(b) Ayat ini menurut al-Biqai, menyindir orang-orang yang telah diberikan nikmat oleh Allah di dunia ini, tetapi justru menyembah selain-Nya.
(c) Adapun menurut Abu Hayyan ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang diperintahkan untuk mengikuti wahyu yang diturunkan Allah (ayat 3).
Pelajaran (3) Penciptaan Nabi Adam
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَـٰكُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنَـٰكُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلَـٰۤىِٕكَةِ ٱسۡجُدُوا۟ لِـَٔادَمَ فَسَجَدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِبۡلِیسَ لَمۡ یَكُن مِّنَ ٱلسَّـٰجِدِینَ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.” (Qs. al-A'raf: 11)
(1) Pada ayat yang lalu, Allah telah menyebutkan beberapa nikmat-Nya kepada manusia; maka pada ayat ini, Allah menjelaskan permulaan proses penciptaan manusia tersebut. Demikian yang disampaikan oleh al-Qurthubi.
(2) Jauh sebelumnya, Ibnu Athiyah telah menyampaikan bahwa ayat ini bermaksud menyadarkan kita tentang suatu pemberian nikmat yang luar biasa dengan adanya permulaan penciptaan manusia dari yang tidak ada menjadi ada. Kemudian menjadikannya sebaik-baik bentuk.
(3) Menurut Ibnu Katsir pada ayat ini, Allah mengingatkan manusia tentang kemuliaan bapak mereka, yaitu Adam. Allah juga menjelaskan kepada mereka perihal musuh mereka (yaitu iblis) dan kedengkiannya terhadap keturunannya, supaya mereka bersikap waspada terhadap musuh ini dan jangan sampai mengikuti rayuannya.
Pernyataan ini diulang kembali oleh al-Qasimi di dalam tafsirnya yang bernama Mahasinu at-Ta’wil.
(2) Firman-Nya,
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَـٰكُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنَـٰكُمۡ
Ibnu al-Jauzi menyebutkan delapan pendapat para ulama di dalam menafsirkan ayat di atas, tetapi yang lebih mendekati kebenaran adalah pendapat yang mengatakan bahwa maksud ayat di atas adalah penciptaan Nabi Adam dan proses pembentukan tubuhnya. Pendapat ini dipilih oleh ath-Thabari dan Ibnu Katsir, dan diikuti oleh para ahli tafsir lainnya.
Berkata ath-Thabari, “Kami katakan bahwa pendapat ini paling mendekati kebenaran, karena setelah ini dilanjutkan dengan Firman-Nya, ‘Kemudian Kami katakan kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam.’ Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa Allah menyuruh para malaikat untuk sujud kepada Adam sebelum Dia menciptakan anak keturunannya di dalam perut ibu mereka, bahkan sebelum menciptakan ibu mereka (yaitu Siti Hawa).”
(3) Pertanyaannya: Mengapa Allah menggunakan kata 'kalian' (dalam bentuk jama') pada ayat ini, padahal maksudnya di sini adalah penciptaan Nabi Adam dan pembentukan tubuhnya?
Jawabannya:
(a) Menurut Ibnu Qutaibah, kemudian diikuti oleh Abu as-Su'ud bahwa semua manusia mempunyai hubungan yang erat dengan penciptaan Nabi Adam karena mereka adalah keturunannya yang tidak jauh berbeda bentuknya dengan Nabi Adam. Sekaligus sebagai motivasi bagi mereka agar bersyukur terhadap nikmat penciptaan ini.
(b) Menurut Ibnu Katsir, karena Adam adalah bapak umat manusia. Ini seperti firman Allah kepada Bani Israil yang hidup di masa Nabi ﷺ, yaitu:
وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى
“Dan Kami naungi kalian dengan awan, dan Kami turunkan kepada kalian manna dan salwa.” (Qs. al-Baqarah: 57)
Padahal yang dimaksud adalah nenek moyang mereka yang hidup di masa Nabi Musa ‘alaihi as-salam. Tetapi karena hal tersebut merupakan karunia Allah yang telah diberikan kepada nenek moyang mereka yang merupakan asal mereka, maka seakan-akan hal tersebut terjadi pada anak-anak mereka. Tetapi firman Allah (pada ayat 11 di atas) berbeda maknanya dengan firman-Nya di tempat lain,
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.” (Qs. al-Mu’minun: 12)
Makna yang dimaksud ialah bahwa Adam diciptakan dari saripati tanah, sedangkan anak cucunya diciptakan dari nutfah (air mani). Pengertian ini dibenarkan, mengingat makna yang dimaksud dengan insan ialah jenisnya tanpa ada penentuan.
Pelajaran (4) Sujud kepada Adam
ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلَـٰۤىِٕكَةِ ٱسۡجُدُوا۟ لِـَٔادَمَ فَسَجَدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِبۡلِیسَ لَمۡ یَكُن مِّنَ ٱلسَّـٰجِدِینَ
(1) Pertanyaannya sujud adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah, kenapa Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam?
Al-Mawardi menyebutkan jawaban dari para ulama,
(a) Perintah sujud kepada Nabi Adam di sini adalah sujud untuk penghormatan, bukan sujud untuk penyembahan, karena sujud penyembahan hanya kepada Allah saja.
(b) Maksudnya di sini adalah perintah sujud kepada Allah dengan menghadap ke arah Nabi Adam. Jadi, Nabi Adam dijadikan sebagai kiblat, sebagaimana Ka'bah dijadikan kiblat shalat kaum muslimin.
(2) Al-Makki menyebutkan bahwa Allah memerintahkan hal itu sebagai bentuk ujian kepada para malaikat termasuk di dalamnya Iblis, agar terlihat kehendak-Nya di kemudian hari pada diri Iblis.
(3) Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa dahulu Iblis adalah bagian dari malaikat yang menjaga perbendaharaan surga, dan diamanahi untuk menjaga langit yang terendah dan bumi. Setelah dia mampu mengusir jin yang membuat kerusakan di bumi, dia merasa bangga dan menjadi sombong, sehingga tidak mau sujud kepada Adam.
(4) Berkata Qatadah, as-Suddi, adh-Dhahak, dan al-Kalbi bahwa Iblis pernah mengatakan dirinya adalah Tuhan sebagaimana firman Allah,
وَمَن یَقُلۡ مِنۡهُمۡ إِنِّیۤ إِلَـٰهࣱ مِّن دُونِهِۦ فَذَ ٰلِكَ نَجۡزِیهِ جَهَنَّمَۚ كَذَ ٰلِكَ نَجۡزِی ٱلظَّـٰلِمِینَ
“Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: "Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zhalim.” (Qs. al-Anbiya': 29)
(5) Ibnu Juraij menambahkan bahwa setelah Iblis mengatakan seperti itu, turunlah ayat ini, yaitu Iblis tidak mau sujud kepada Adam.
***
Karawang, Senin, 11 September 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-78
Lihat isinya
Lihat isinya »