Karya Tulis
77 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 12-15) Kesombongan Iblis


قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَۖ قَالَ أَنَا۠ خَیۡرࣱ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِی مِن نَّارࣲ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِینࣲ

“Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".”

(Qs. al-A’raf: 12)

 

Pelajaran (1) Huruf Tambahan

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَۖ

“Allah berfirman: ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’”

(1) Para ulama berbeda pendapat di dalam menafsirkan ayat di atas:

(a) Pendapat pertama mengatakan bahwa kata (مَنَعَكَ) mengandung suatu makna, yaitu: “Apakah yang mencegahmu, dan memaksamu untuk tidak bersujud di saat Aku perintahkan kamu untuk melakukannya.” Ini pendapat ath-Thabari yang dipilih Ibnu Katsir.

(b) Pendapat kedua mengatakan bahwa huruf (لا) pada (أَلَّا تَسۡجُدَ) adalah huruf tambahan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

(2) Mereka beralasan bahwa pada ayat lain tidak menggunakan huruf tambahan tersebut, yaitu firman-Nya,

 قَالَ یَـٰۤإِبۡلِیسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِیَدَیَّۖ

“Allah berfirman: ‘Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?’” (Qs. Shad: 75)

Al-Qasimi mengatakan bahwa huruf tambahan pada ayat di atas yang mempunyai dua fungsi:

(a) Untuk menjelaskan bahwa yang dikecam adalah keengganan iblis untuk melakukan sujud.

(b) Untuk menegaskan bahwa iblis benar-benar tidak mau sujud.

(3) Di dalam al-Qur'an, huruf tambahan seperti ini banyak ditemukan, diantaranya:

(a) Firman Allah,

لا أُقْسِمُ بِيَوْمِ القِيامَةِ

“Aku bersumpah demi hari kiamat” (Qs. al-Qiyamah: 1)

(b) Firman Allah,

وحَرامٌ عَلى قَرْيَةٍ أهْلَكْناها أنَّهم لا يَرْجِعُونَ

“Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami).” (Qs. al-Anbiya’: 95)

(c) Firman Allah,

لِّئَلَّا یَعۡلَمَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَـٰبِ أَلَّا یَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَیۡءࣲ مِّن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَأَنَّ ٱلۡفَضۡلَ بِیَدِ ٱللَّهِ یُؤۡتِیهِ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِیمِ

“(Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Qs. al-Hadid: 29)

(d) Firman Allah,

وَأَقۡسَمُوا۟ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَیۡمَـٰنِهِمۡ لَىِٕن جَاۤءَتۡهُمۡ ءَایَةࣱ لَّیُؤۡمِنُنَّ بِهَاۚ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡـَٔایَـٰتُ عِندَ ٱللَّهِۖ وَمَا یُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَاۤ إِذَا جَاۤءَتۡ لَا یُؤۡمِنُونَ

“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah." Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman.” (Qs. al-An'am: 109)

(4) Asy-Syinqithy telah membahas masalah ini secara detail di dalam buku khusus yang diberi judul Daf'u Iham al-Idhthirab 'an Ayati al-Kitab.

(5) Berkata az-Zujaj, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi, “Pertanyaan Allah kepada Iblis, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Ini adalah pertanyaan yang tujuannya kecaman kepada Iblis atas tindakannya tersebut. Makanya, dia tidak mau bertaubat kepada Allah.”

 

Pelajaran (2) Penggunakan Qiyas

قَالَ أَنَا۠ خَیۡرࣱ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِی مِن نَّارࣲ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِینࣲ

“Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".”

(1) Ini pernyataan iblis yang membandingkan dirinya dengan Adam dari sisi penciptaan. Para ulama menyebutkan bahwa iblis menggunakan analogi atau lebih sering dikenal dengan Qiyas.

(2) Berkata Ibnu ‘Abbas, “Yang pertama kali menggunakan qiyas adalah Iblis, tetapi dia salah dalam penggunaannya. Barangsiapa yang meng-qiyaskan sesuatu dengan akalnya, dia akan disandingkan Allah dengan iblis.”

(3) Berkata Ibnu Sirin, “Tidaklah matahari disembah, kecuali karena menggunakan qiyas.”

(4) Ibnu ‘Abdul Barr di dalam Jami' al-‘Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa Qiyas yang dilarang adalah Qiyas yang dilakukan ketika terdapat nash yang jelas, atau menolak nash dengan akal yang rusak atau hanya mengandalkan praduga semata, sebagaimana yang dilakukan oleh iblis. Allah berfirman,

وما كانَ لِمُؤْمِنٍ ولا مُؤْمِنَةٍ إذا قَضى اللَّهُ ورَسُولُهُ أمْرًا أنْ يَكُونَ لَهُمُ الخِيَرَةُ

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Qs. al-Ahzab: 36)

Para ulama juga menyebutkan suatu kaidah,

إذا صَحَّ الأثَرُ بَطَلَ النَّظَرُ

“Jika terdapat atsar yang shahih, maka tertolaklah penggunaan akal.”

Tetapi jika tidak ada nash dari al-Qur'an maupun sunnah, maka boleh menggunakan Qiyas sebagai salah satu cara mengistinbatkan sebuah hukum. Inilah yang dilakukan para ulama selama ini.

(5) Tidak jauh berbeda dengan Ibnu ‘Abdul Barr, Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ al-Fatawa-nya juga menerangkan pembagian Qiyas, yaitu:

(a) Qiyas fasid, yaitu qiyas yang bertentangan dengan nash,

(b) Qiyas shahih, yaitu qiyas yang sesuai dengan nash,

(c) Qiyas yang belum ada kejelasan hukumnya.

(6) Al-Qasimi di dalam tafsirnya telah menjelaskan masalah Qiyas ini secara panjang lebar dengan menukil perkataan para ulama, di antaranya apa yang telah disebutkan di atas.

(7) Jauh sebelumnya, al-Qurthubi juga menukil beberapa perkataan ulama tentang kebolehan menggunakan qiyas, diantaranya:

(a) Perkataan al-Bukhari bahwa tidak ada kebenaran yang terjaga pada diri seseorang, kecuali melalui al-Qur'an atau Sunnah atau ijma' (kesepakatan para ulama), tetapi jika tidak ada pada ketiganya, maka dibolehkan menggunakan Qiyas.

(b) Berkata Abu Tamam al-Maliki, “Para ulama sepakat untuk menggunakan Qiyas, diantaranya mereka mengqiyaskan emas dan perak dalam zakat.”

(c) Perkata Ali bin Abi Thalib kepada Abu Bakar ash-Shiddiq, “Rasulullah telah meridhai dirimu untuk agama kami (menjadi imam shalat), tentunya kami akan ridha pada dirimu untuk dunia kami (menjadi khalifah).” Di sini, beliau meng-qiyaskan kekhilafahan dengan imam dalam shalat.

(d) Abu Bakar ash-Shiddiq meng-qiyaskan kewajiban membayar zakat dengan kewajiban melaksanakan shalat, sehingga beliau berani memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat.

(e) Umar bin al-Khattab pernah menulis kepada Abu Musa al-Asy'ari yang berpesan untuk menggunakan Qiyas di dalam mengistinbatkan hukum.

(f) Ali bin Abi Thalib meng-qiyaskan orang yang minum khamr dengan orang yang menuduh seseorang berzina, sehingga beliau mencambuk peminum khamar dengan 80 cambukan.

(8) Kemudian al-Qurthubi berkata, “Ini semuanya menunjukkan bahwa Qiyas adalah salah satu unsur penting dalam agama dan merupakan pegangan kaum muslimin, di mana para mujtahid merujuk kepada cara seperti ini. Adapun penggunaan Qiyas yang dilarang adalah yang tidak merujuk kepada dasar-dasar yang telah disebutkan di atas, karena hal itu hanyalah praduga semata dan bisikan syetan. Allah berfirman,

وَلَا تَقۡفُ مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولࣰا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Qs. al-Isra': 36)

 

Pelajaran (3) Antara Tanah dan Api

خَلَقۡتَنِی مِن نَّارࣲ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِینࣲ

“Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”

(1) Ath-Thabari menyebutkan bahwa iblis menganggap api lebih utama daripada tanah, padahal keutamaan itu semata pemberian Allah.

Dalam hal ini, Allah telah memberikan beberapa keutamaan kepada tanah di atas api, diantaranya:

(a) Struktur tanah menunjukkan sifat hati-hati, wibawa, lembut dan sabar. Itu semua mengantarkan Nabi Adam untuk bertaubat, tawadhu', dan bersimpuh di hadapan Allah. Sehingga Allah memilihnya, menerima taubatnya dan memberikan hidayah kepadanya. Sebaliknya api sifatnya ringan, mudah diterbangkan, tajam dan tinggi. Ini semua yang menyeret Iblis menjadi makhluk yang sombong dan berbahaya.

(b) Tanah adalah faktor pemersatu, sedangkan api penyebab cerai berai.

(c) Tanah adalah sumber kehidupan, karena di atasnya banyak pohon dan tumbuh-tumbuhan menjadi hidup. Sedangkan api adalah sumber bencana.

Perbedaan tanah dan api juga di atas, juga disampaikan oleh al-Baghawi, Ibnu al-Jauzi, al-Qasimi dan lainnya.

(d) Al-Qurthubi menambahkan bahwa dalam riwayat disebutkan jika di surga tanahnya berasal dari wewangian, sebaliknya tidak terdapat riwayat yang menyatakan bahwa di dalam surga terdapat api atau di neraka terdapat tanah.

(e) Tanah tidak membutuhkan api, sedangkan api membutuhkan tempat, sedang tempatnya adalah tanah

(f) Tanah bisa dijadikan sebagai masjid dan statusnya suci bisa untuk tayamum. Berbeda dengan api.

(2) Firman-Nya,

خَلَقۡتَنِی مِن نَّارࣲ

“Engkau ciptakan saya dari api.”

Asy-Syinqithy mengatakan di ayat ini disebutkan bahwa Iblis diciptakan dari api. Tetapi di ayat lain disebutkan bahwa Iblis diciptakan dari api yang sangat panas, yaitu firman-Nya,

والجانَّ خَلَقْناهُ مِن قَبْلُ مِن نارِ السَّمُومِ

“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Qs. al-Hijr: 27)

Di surat ar-Rahman disebutkan bahwa Iblis diciptakan dari api menyala yang tidak ada asapnya, sebagaimana di dalam firman-Nya,

وَخَلَقَ الجانَّ مِن مارِجٍ مِن نارٍ

“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (Qs. ar-Rahman: 15)

 

Pelajaran (4) Kesombongan Iblis

 قَالَ فَٱهۡبِطۡ مِنۡهَا فَمَا یَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِیهَا فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّـٰغِرِینَ

“Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina".” (Qs. al-A'raf: 13)

(1) Firman-Nya,

قَالَ فَٱهۡبِطۡ مِنۡهَا

“Allah berfirman: ‘Turunlah kamu dari surga itu’.”

Al-Mawardi menyebutkan tiga penafsiran pada ayat ini;

(a) Turun dari langit ke bumi.

(b) Turun dari surga.

(c) Turun dari tempat yang mulia hasil dari ketaatan ke tempat rendah karena kemaksiatan.

(2) Firman-Nya,

فَمَا یَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِیهَا

“Karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya”

(a) Berkata ar-Razi, ayat di atas menunjukkan bahwa bersikap sombong di hadapan Allah akan menyebabkan seseorang mendapatkan adzab yang pedih dan dikeluarkan dari golongan para wali.

(b) Ayat di atas tidak menunjukkan bahwa sikap sombong hanya dilarang di surga saja, dan boleh dilakukan di tempat lain. Tetapi maknanya, menurut al-Mawardi bahwa orang yang sombong tidak pantas menjadi penghuni surga.

(3) Firman-Nya,

إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّـٰغِرِینَ

“Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.”

Mempunyai dua makna, hina karena maksiat di dunia dan hina karena mendapatkan siksa di akhirat.

 

Pelajaran (5) Penangguhan Iblis

قَالَ أَنظِرۡنِیۤ إِلَىٰ یَوۡمِ یُبۡعَثُونَ ۞ قَالَ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِینَ ۞

“Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan." Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh".” (Qs. al-A'raf: 14-15)

(1) Terdapat dua pendapat tentang penangguhan yang diminta oleh Iblis, yaitu:

(a) Yang dimaksud adalah penangguhan siksaan.

(b) Yang dimaksud adalah penangguhan kematian.

(2) Al-Kalbi berpendapat bahwa Allah memberikan penangguhan ajal kepada iblis. sampai peniupan sangkakala pertama. Kemudian dia akan merasakan mati selama 40 tahun lamanya, sehingga ditiupkan sangkakala yang kedua.

(3) Allah mengabulkan permohonan iblis, ahli maksiat sebagai bentuk ujian dan penegasan hujjah atasnya. Sebaliknya, Allah juga mengabulkan permohonan orang shalih yang taat, sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Demikian perkataan al-Mawardi.

 

***

Karawang, Rabu, 13 September 2023

KARYA TULIS