Karya Tulis
67 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 16-18) Tipu Daya Iblis


  قَالَ فَبِمَاۤ أَغۡوَیۡتَنِی لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَ ٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus’.”

(Qs. al-A'raf: 16)

 

Pelajaran (1) Sumpah Iblis

(1) Ketika diputuskan menjadi makluk yang dikeluarkan dari surga, Iblis melakukan perlawanan, dan berkeinginan untuk menyesatkan manusia dengan segala cara.

(2) Firman-Nya,

قَالَ فَبِمَاۤ أَغۡوَیۡتَنِی

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat.”

Ibnu al-Jauzi menyebutkan bahwa kata (أَغۡوَیۡتَنِی) dari kata (الإغواء) yang mempunyai dua arti:

(a) menyesatkan,

(b) menghancurkan, sebagaimana dalam firman-Nya,

فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Qs. Maryam: 59)

Sebelumnya, al-Mawardi menambahkan dua makna lagi, yaitu:

(c) menyiksa,

(d) mengecewakan.

(3) Huruf (ب) pada firman-Nya,

فَبِمَاۤ أَغۡوَیۡتَنِی

Menurut al-Qasimi, menunjukkan arti sumpah, yaitu: aku bersumpah dengan penyesatan-Mu atas diriku, maka akan menghalangi manusia dari jalan-Mu. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain,

قالَ فَبِعِزَّتِكَ لأُغْوِيَنَّهُمْ

“Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (Qs. Shad: 82)

Atau menunjukkan suatu alasan, yaitu karena Engkau telah menyesatkan-ku, maka akan menghalangi manusia dari jalan-Mu.

(4) Al-Qurthubi menyebutkan beberapa hal terkait dengan ayat ini, diantaranya:

(a) Ahlus-sunnah wal-Jama’ah berkeyakinan bahwa Allah yang menyesatkan manusia dan menciptakan kekafiran. Di sini Iblis menisbatkan penyesatan kepada Allah dan ini benar. Karena tidak ada di wujud di dunia, kecuali diciptakan oleh Allah dan atas kehendak-Nya.

(b) Kelompok Syi'ah Imamiyah dan Qadariyah dalam hal ini menyelisihi Ahlus-sunnah wal-Jama’ah. Biasanya, kedua kelompok sesat ini mengikuti bisikan iblis. Hanya saja kali ini, mereka mengkritisinya dan mengatakan bahwa iblis telah melakukan kesalahan, karena menisbatkan kesesatan kepada Allah.

(c) Jawabannya, anggap saja iblis salah dalam hal ini, karena memang dia adalah makhluk yang berbuat salah. Tetapi bagaimana pendapat kalian terhadap perkataan Nabi Nuh ‘alaihi as-salam, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya,

وَلَا یَنفَعُكُمۡ نُصۡحِیۤ إِنۡ أَرَدتُّ أَنۡ أَنصَحَ لَكُمۡ إِن كَانَ ٱللَّهُ یُرِیدُ أَن یُغۡوِیَكُمۡۚ هُوَ رَبُّكُمۡ وَإِلَیۡهِ تُرۡجَعُونَ

“Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Qs. Hud: 34)

Di sini Nabi Nuh juga menisbatkan penyesatan kepada Allah.

(d) Thawus bin Kaisan (w. 102 H) salah seorang ulama senior tabi'in, suatu hari didatangi oleh seorang laki-laki di Masjidil Haram. Dia seorang ahli fiqih, mempunyai kecenderungan kepada kelompok Qadariyah. Ketika dia duduk di depan Thawus, dia langsung berkata kepadanya, “Kamu duduk dengan kehendakmu atau kami didudukkan?” Mendengar hal itu, seseorang menegurnya, “Wahai Thawus kenapa anda berbicara seperti itu kepada seorang ahli fiqih? Thawus menjawab, “Iblis lebih pintar darinya, iblis mengatakan, ‘Tuhan, Engkau telah menyesatkan-ku.’ Sedang orang ini mengatakan, ‘Aku telah menyesatkan diriku sendiri’.”

(5) Firman-Nya (لَأَقۡعُدَنَّ) menurut ar-Razi hal ini menunjukkan bahwa iblis benar-benar secara terus menerus ingin menggoda manusia dan menyesatkannya dari jalan Allah. Atau menurut al-Qasimi seperti duduknya para penjegal dan perampok untuk mengawasi orang-orang yang lewat di jalan, kemudian merampok mereka.

(6) Firman-Nya,

صِرَ ٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ

“Jalan Engkau yang lurus.”

Maksudnya adalah agama Allah, atau al-Qur’an, atau agama Islam.

Berkata Ibnu al-Qayyim, “Semuanya maknanya satu, yaitu setiap jalan yang mengantar kepada Allah.”

Berkata Makky, “Agama disebut sebagai jalan, karena mengantarkan seseorang kepada keselamatan.

(7) Ayat di atas sesuai dengan hadits Sabrah bin al-Fakih al-Makhzumi,

عَنْ سَبْرَة بْنِ أَبِي فَاكِه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يَقُولُ: "إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لِابْنِ آدَمَ بِطُرُقِهِ، فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْإِسْلَامِ، فَقَالَ: أَتُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ؟ ". قَالَ: "فَعَصَاهُ وَأَسْلَمَ". قَالَ: "وَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ: أَتُهَاجِرُ وَتَدَعُ  أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ، وَإِنَّمَا مَثَلُ الْمُهَاجِرِ كَالْفَرَسِ فِي الطّوَل؟ فَعَصَاهُ وَهَاجَرَ، ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ، وَهُوَ جِهَادُ النَّفْسِ وَالْمَالِ، فَقَالَ: تُقَاتِلُ فَتُقْتَلُ، فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقَسَّمُ الْمَالُ؟ ". قَالَ: "فَعَصَاهُ، فَجَاهَدَ". قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ مِنْهُمْ فَمَاتَ، كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، أَوْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ، أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، أَوْ وَقَصته دَابَّةٌ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يَدْخُلَهُ الْجَنَّةَ"

“Dari Sabrah bin Abi Fakih, ia berkata: saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

"Setan mengintai untuk menghalang-halangi anak Adam di seluruh jalannya, ia menghalanginya di jalan Islam, lalu berkata: "Apakah engkau masuk Islam dan meninggalkan agamu, agama bapakmu dan bapaknya bapakmu?" Ia pun menentangnya kemudian masuk Islam. Kemudian setan menghalanginya di jalan Hijrah, lalu berkata: "Apakah engkau akan berhijrah dan meninggalkan negri serta langitmu? -sesungguhnya perumpamaan orang yang berhijrah seperti kuda yang dikendalikan tali kusir-, ia pun menentangnya, kemudian berhijrah. Kemudian setan duduk menghalanginya di jalan Jihad, lalu berkata: "Apakah engkau akan berjihad -yaitu berjuang dengan jiwa dan harta- lalu engkau berperang, dan terbunuh sehingga isterimu akan dinikahi orang lain, dan hartamu dibagi-bagi? ia pun menentangnya, kemudian berjihad." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa melakukan hal tersebut, maka menjadi hak atas Allah 'azza wa jalla untuk memasukkannya ke Surga, dan barangsiapa yang terbunuh maka menjadi hak atas Allah 'azza wa jalla untuk memasukkannya ke Surga, dan jika ia tenggelam maka menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke Surga, atau ia dijatuhkan kendaraannya maka menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam Surga".” (HR. Ibnu Hibban, dishahihkan al-Mundziri di dalam at-Targhib wa at-Tarhibat-Tarhib, dan al-'Iraqi di dalam Takhriju al-Ihya’)

 

Pelajaran (2) Menyesatkan dari Berbagai Arah

 ثُمَّ لَـَٔاتِیَنَّهُم مِّنۢ بَیۡنِ أَیۡدِیهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَیۡمَـٰنِهِمۡ وَعَن شَمَاۤىِٕلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَـٰكِرِینَ

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Qs. al-A'raf: 17)

(1) Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat di atas:

(a) Dari arah depan maksudnya adalah membuat keragu-raguan tentang akhirat karena akhirat adalah masa depan seakan-akan ia berada di depan mereka

(b) Dari belakang maksudnya adalah membuat mereka cinta terhadap dunia karena dunia telah berlalu dan berada di belakang dan ia adalah sesuatu yang akan ditinggal

(c) Dari arah kanan maksudnya adalah membuat mereka malas berbuat kebaikan dan ketaatan. Al-Qurthubi menyebutkan dalilnya, yaitu firman-Nya,

قَالُوۤا۟ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡیَمِینِ

“Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka): ‘Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan’.” (Qs. ash-Shaffat: 28)

(d) Dari arah kiri maksudnya membuat mereka senang untuk berbuat maksiat dan keburukan.

(2) Menurut ath-Thabari, maksud dari mendatangi dari empat arah adalah iblis akan menghalangi seluruh jalan kebaikan dan mendukung seluruh jalan kejahatan dan keburukan.

(3) Ayat ini, tidak menyebutkan arah dari atas, karena menurut Ibnu ‘Abbas, rahmat Allah turun dari atas. Berkata Qatadah, “Iblis akan mendatangimu wahai anak Adam dari segala penjuru, kecuali dari atas. Karena dia tidak bisa menghalangi mu dari rahmat Allah.” Disebutkan oleh al-Wahidi.

(4) Firman-Nya,

وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَـٰكِرِینَ

Maksudnya tidak bersyukur di sini adalah mereka tidak bertauhid, tidak menyembah Allah, tetapi justru malah melakukan kesyirikan dan mentaati Iblis.

(5) Berkata Ibnu Katsir, “Iblis berani mengatakan hal di atas karena berdasarkan perkiraan dari dirinya bahwa manusia akan mengikuti ajakannya.” Ini sebagaimana dijelaskan di dalam firman-Nya,

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ ۞ وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (Qs. Saba’: 20-21)

(6) Empat arah yang akan didatangi iblis di atas, sesuai dengan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu,

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ: لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ يَدْعُ هَؤُلَاءِ الدَّعَوَاتِ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: "اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوَرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعاتي، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وعن شمالي، ومن فَوْقِي، وأعوذ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي".

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa tiada doa yang selalu dibaca oleh Rasulullah ﷺ di waktu pagi dan petangnya, melainkan doa berikut: “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada Engkau keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada Engkau pemaafan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga, dan harta benda saya. Ya Allah, tutupilah aurat-aurat saya dan amankanlah rasa takut saya. Ya Allah, peliharalah saya dari arah depan, dari arah belakang, dari arah kanan, dari arah kiri, dan dari arah atas saya. Dan saya berlindung kepada Kebesaran-Mu, agar saya tidak disiksa dari arah bawah saya.” (HR. Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al- Hakim, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih. Hadits ini juga dishahihkan oleh Syu’aib al-Arnauth.)

(7) Di dalam riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan juga,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: "اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ، وَأَهْلِي وَمَالِي، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَتي، وَآمِنْ رَوْعَتِي وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدِي وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وعن شمالي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِكَ اللَّهُمَّ أَنْ أُغْتَال مِنْ تَحْتِي

Dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ seringkali membaca doa berikut, yaitu: Ya Allah, saya memohon pemaafan dan keselamatan dalam urusan agama, dunia, keluarga, dan harta benda saya. Ya Allah, tutupilah aurat saya dan amankanlah rasa takut saya, dan peliharalah saya dari arah muka, belakang, kanan, kiri, dan dari arah atas saya. Dan saya berlindung kepada Engkau, wahai Allah, janganlah saya diadzab dari arah bawah saya."

(Berkata Ibnu Katsir, “Hadits ini diriwayatkan secara munfarid oleh Imam Bazzar”, dan ia menilainya sebagai haditst hasan.)

 

Pelajaran (3) Keluarnya Iblis dari Surga

قَالَ ٱخۡرُجۡ مِنۡهَا مَذۡءُومࣰا مَّدۡحُورࣰاۖ لَّمَن تَبِعَكَ مِنۡهُمۡ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكُمۡ أَجۡمَعِینَ

“Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya".” (Qs. al-A'raf: 18)

(1) Kata (مَذۡءُومࣰا) artinya tercela dan dibenci. Sedangkan kata (مَّدۡحُورࣰاۖ) artinya terusir dan dijauhkan dari rahmat Allah.

(2) Firman-Nya,

لَّمَن تَبِعَكَ مِنۡهُمۡ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكُمۡ أَجۡمَعِینَ

“Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya.”

Berkata al-Jasymiyu, sebagaimana yang dikutip oleh al-Qasimi,

(a) Allah berfirman seperti di atas, karena tidak ada yang masuk ke dalam neraka Jahannam kecuali Iblis dan kelompoknya dari golongan setan, serta orang-orang kafir dan fasik dari golongan manusia. Karena mereka tunduk dan patuh kepada iblis serta meninggalkan perintah Allah. Makanya, di sini Allah menggabungkan mereka dalam satu perkataan.

(b) Pertanyaannya: kenapa neraka Jahanam dijadikan sempit, sedang surga dijadikan luas?

Jawabannya: karena neraka Jahannam berfungsi sebagai tempat tahanan. Sedangkan surga berfungsi sebagai istana tempat tinggal raja.

(c) Pertanyaannya, apa hikmah dari firman Allah,

لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنكُمْ

“Aku benar-benar akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya.”

Jawabannya: ini sebagai bentuk kelembutan Allah, agar manusia mengikuti jalan para nabi. Dan pelajaran bagi iblis dan kelompoknya karena isinya teguran dan larangan.

(3) Kata (مِنكُمۡ) menurut Rasyid Ridha menunjukkan bahwa sebagian orang-orang beriman yang mengikutinya iblis, dalam beberapa maksiat, Allah akan mengampuninya atau menerima taubatnya, sehingga tidak masuk neraka Jahannam.

(4) Ayat ini semakna dengan beberapa ayat lain, diantaranya:

(a) Firman-Nya,

قالَ فالحَقُّ والحَقَّ أقُولُ لَأمْلَأنَّ جَهَنَّمَ مِنكَ ومِمَّنْ تَبِعَكَ مِنهم أجْمَعِينَ

“Allah berfirman: "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan".” (Qs. Shad: 84)

(b) Firman-Nya,

قَالَ ٱذۡهَبۡ فَمَن تَبِعَكَ مِنۡهُمۡ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاۤؤُكُمۡ جَزَاۤءࣰ مَّوۡفُورࣰا ۞وَٱسۡتَفۡزِزۡ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتَ مِنۡهُم بِصَوۡتِكَ وَأَجۡلِبۡ عَلَیۡهِم بِخَیۡلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكۡهُمۡ فِی ٱلۡأَمۡوَ ٰ⁠لِ وَٱلۡأَوۡلَـٰدِ وَعِدۡهُمۡۚ وَمَا یَعِدُهُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ إِلَّا غُرُورًا ۞

“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga".” (Qs. al-Isra': 63-64)

(c) Firman-Nya,

فَكُبْكِبُوا فِيها هم والغاوُونَ وَجُنُودُ إبْلِيسَ أجْمَعُونَ

“Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya.” (Qs. asy-Syu’ara: 94-95)

 

***

Karawang, Jum'at, 15 September 2023

KARYA TULIS