Karya Tulis
39 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 19-20) Bisikan Syetan


 وَیَـٰۤـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ فَكُلَا مِنۡ حَیۡثُ شِئۡتُمَا وَلَا تَقۡرَبَا هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ

فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ

“(Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim".”

(Qs. al-A'raf: 19)

 

Pelajaran (1) Pohon yang Terlarang

(1) Ayat ini adalah lanjutan dari ayat yang berbicara tentang proses penciptaan manusia pertama dan hubungannya dengan iblis.

Ayat ini diturunkan dengan tujuan untuk memberikan petunjuk kepada manusia agar tidak tergelincir dan tertipu dengan godaan dan rayuan Iblis yang sebelumnya telah menggelincirkan Nabi Adam.

(2) Firman-Nya,

وَیَـٰۤـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ أَنتَ وَزَوۡجُكَ ٱلۡجَنَّةَ

“(Dan Allah berfirman): ‘Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga’.”

Menurut Rasyid Ridha ayat ini lanjutan dari firman Allah,

ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ

“Kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam".”

Karena menurut mayoritas ulama, bahwa keluarnya Iblis dari surga terjadi setelah dia menggoda Nabi Adam ‘alaihi as-salam.

(3) Firman-Nya,

وَیَـٰۤـَٔادَمُ ٱسۡكُنۡ

““(Dan Allah berfirman): ‘Hai Adam bertempat tinggallah kamu.”

Perintah kepada Nabi Adam untuk tinggal di surga, maksudnya adalah memberikan izin untuk tinggal, bukan perintah tugas.

Berkata Ibnu Katsir, “Allah menceritakan bahwa Dia mengizinkan Nabi Adam dan Hawa bertempat tinggal di surga dan memakan semua buah-buahan yang ada di dalamnya, kecuali satu pohon.”

(4) Firman-Nya,

أَنتَ وَزَوۡجُكَ

“Kamu dan istrimu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa perempuan mengikuti laki-laki dalam kehidupan rumah tangga dan di dalam kehidupan secara umum. Ini sesuai dengan fitrah manusia.

(5) Firman-Nya (ٱلۡجَنَّةَ) maksudnya menurut mayoritas ulama Ahlus-sunnah adalah surga di akhirat yang sudah dikenal di masyarakat selama ini. Sedangkan menurut kelompok Mu'tazilah adalah kebun suatu tempat yang tinggi di bumi ini. Allah ciptakan kebun ini untuk tempat tinggal Nabi Adam dan Siti Hawa. Mereka pun berbeda pendapat di dalam menentukan tempatnya. Demikian yang sampaikan oleh ath-Tanthawi.

Ibnu al-Qayyim di di dalam bukunya Hadi al-Arwah telah menyebutkan dalil dari masing-masing kelompok tentang masalah surga ini secara panjang lebar, tetapi tidak memilih satupun dari dua pendapat tersebut.

(6) Firman-Nya,

وَلَا تَقۡرَبَا هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ

“Dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini.”

Larangan mendekati pohon menunjukkan larangan keras untuk memakannya. Karena mendekati saja terlarang, apalagi memakannya. Ini dikuatkan lagi dengan kalimat berikutnya,

فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّـٰلِمِینَ

“Lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim.”

Bahwa memakannya menyebabkan dirinya masuk dalam kategori orang-orang yang zhalim.

 

Pelajaran (2) Bisikan Syetan

فَوَسۡوَسَ لَهُمَا ٱلشَّیۡطَـٰنُ لِیُبۡدِیَ لَهُمَا مَا وُۥرِیَ عَنۡهُمَا مِن سَوۡءَ ٰ تِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّاۤ أَن تَكُونَا مَلَكَیۡنِ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَـٰلِدِینَ

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".” (Qs. al-A'raf: 20)

(1) Kata (وَسۡوَس) menurut ar-Raghib artinya bisikan jahat. Kata ini pada asalnya adalah bunyi perhiasan dan suara pelan. Allah berfirman,

وَنَعْلَمُ ما تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ونَحْنُ أقْرَبُ إلَيْه مِن حَبْلِ الوَرِيدِ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qs. Qaf: 16)

Adapun yang dimaksud bisikan syetan kepada manusia adalah adanya pikiran jahat dalam diri manusia untuk melakukan sesuatu yang membawa mudharat pada jiwa, badan dan pergaulan.

(2) Firman-Nya,

لِیُبۡدِیَ لَهُمَا مَا وُۥرِیَ عَنۡهُمَا مِن سَوۡءَ ٰ تِهِمَا

“Untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka berdua yaitu auratnya.”

(a) Menurut al-Qasimi ayat di atas menunjukkan bahwa membuka aurat adalah salah satu perkara yang paling berat dan tercela sifatnya. Makanya, disebut dengan “sau'ah” karena membuat malu seseorang.

(b) Berkata al-Hakim, “Sebagian kalangan berpendapat dengan ayat di atas bahwa menutup aurat hukumnya wajib dan itu sudah ada pada syariat Nabi Adam ‘alaihi as-salam.”

(c) Berkata al-Asham, “Ayat di atas menunjukkan bahwa Adam dan Hawa tidak senang bertelanjang, walaupun tidak ada orang lain. Ini berarti, bertelanjang itu suatu hal yang tidak baik, walaupun tidak ada yang melihatnya, kecuali dalam keadaan darurat atau ada kebutuhan untuk melakukan hal itu.”

(d) Menurut Ibnu al-Qayyim, syetan mengetahui bahwa Adam dan Hawa jika memakan buah yang dilarang, akan terbuka aurat keduanya dan itu adalah bentuk kemaksiatan. Sebuah kemaksiatan bisa merobek penutup antara Allah dan hambanya. Maka, ketika keduanya bermaksiat terbukalah auratnya, yang lahir (baju) dan yang batin (ketakwaan).

Hal ini dikuatkan dengan haditst yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bermimpi melihat laki-laki dan wanita yang berzina dalam keadaan telanjang.

Dengan demikian, jika seseorang bermimpi melihat dirinya telanjang, itu menunjukkan bahwa agamanya tidak benar.

(e) Kemudian Ibnu menjelaskan bahwa setan tipu daya kepada manusia dari pintu sesuatu yang dia inginkan. Dalam hal ini Adam menginginkan agar bisa tinggal di surga selamanya. Dari sinilah tipu daya syetan masuk, sehingga terjadilah apa yang terjadi.

Menurut beliau tergelincirnya Adam dari surga karena terkena fitnah syubhat dan syahwat. Fitnah syahwat berupa keinginannya untuk tinggal di surga selamanya, sedangkan fitnah syubhat berupa keyakinannya bahwa tidak akan berbohong orang yang bersumpah dengan nama Allah.

 

Pelajaran (3) Tinggal di Surga Selamanya

 وَقَالَ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَـٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّاۤ أَن تَكُونَا مَلَكَیۡنِ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَـٰلِدِینَ

“Dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".”

(1) Maksudnya agar kamu berdua 'tidak' menjadi dua malaikat. Ada kata 'tidak' yang disembunyikan.

Ayat-ayat yang semakna dengan ayat di atas, antara lain adalah:

(a) Firman-Nya,

يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا

“Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat.” (Qs. an-Nisa’: 176)

Maksudnya, agar kalian 'tidak' menjadi sesat.

(b) Firman-Nya,

وَأَلْقَى فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu.” (Qs. an-Nahl: 15)

Yakni agar bumi 'tidak' berguncang menggoyahkan kalian.

(2) Sebagian kalangan berdalil dengan ayat ini bahwa malaikat lebih afdhal dari manusia karena Adam dan Hawa melanggar perintah Allah untuk mencapai derajat malaikat. Tetapi sebagian ulama tidak mendukung pendapat ini, karena ada kemungkinan kejadian ini sebelum diangkatnya Adam sebagai nabi atau tujuan Nabi Adam bukan ingin menjadi malaikat, tetapi ingin mempunyai kekuasaan yang menyebarkan kebaikan.

Jawaban ini sesuai dengan pendapat sebagian ulama, diantaranya: Ibnu ‘Abbas dan Yahya bin Abi Katsir yang membaca ayat ini dengan (مَلكَیۡنِ) meng-kasrahkan huruf (ل) yang berarti raja bukan malaikat.

Berkata al-Wahidi, “Terdapat ayat yang menunjukkan hal itu, yaitu firman-Nya,

هَلْ أدُلُّكَ عَلى شَجَرَةِ الخُلْدِ ومُلْكٍ لا يَبْلى

“Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” (Qs. Thaha: 21)

(3) Ibnu al-Qayyim mencoba untuk membandingkan antara ayat dalam surat al-A'raf ini dengan ayat 120 dari surat Thaha. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa ayat dalam surat al-A'raf, syetan menjanjikan dua hal yang berbeda: yang satu adalah sesuatu yang tidak mungkin, yaitu Adam akan menjadi malaikat. Dan yang kedua adalah sesuatu yang mungkin, yaitu akan tinggal di surga selamanya. Itupun memberikan pilihan dengan kata "atau".

Adapun pada ayat ini, syetan menjanjikan dua hal yang semua mungkin terjadi sekaligus, tanpa ada pilihan, yaitu Adam akan tinggal selamanya di surga dan memiliki kerajaan yang tidak punah.

 

***

Karawang, Sabtu, 16 September 2023

KARYA TULIS