Karya Tulis
40 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 21-22) Jebakan Syetan


وَقَاسَمَهُمَاۤ إِنِّی لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّـٰصِحِینَ

Dan dia (syetan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua".

(Qs. al-A'raf: 21)

 

Pelajaran (1) Bersumpah dengan Nama Allah

 وَقَاسَمَهُمَاۤ إِنِّی لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّـٰصِحِین

“Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua".” (Qs. al-A'raf: 21)

(1) Syetan bersumpah dengan nama Allah untuk menipu Adam dan Hawa.

Berkata Ibnu Katsir, “Memang, kadangkala seorang mukmin tertipu karena nama Allah disebutkan.”

(2) Menurut Makki, bahwa Adam dan Hawa tertipu dengan sumpah Iblis. Sedangkan Adam mengira bahwa tidak mungkin seseorang berbohong ketika bersumpah dengan nama Allah. Dia telah tertipu dengannya.

(3) Di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

رأى عيسى ابنُ مريمَ رجلًا يسرقُ فقالَ أسرقتَ فقالَ لا والَّذي لا إلَه إلّا هوَ فقالَ عيسى آمنتُ باللهِ وكذَّبتُ بصري.

“Isa bin Maryam melihat ada seseorang sedang mencuri lalu dia bertanya kepadanya: "Apakah kamu mencuri?" Orang itu menjawab: "Tidak, demi Allah, yang tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia." Maka 'Isa berkata: "Aku beriman kepada Allah dan aku dustakan (penglihatan) mataku.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Nabi Isa ‘alaihi as-salam pada haditst di atas merasa takut menuduh pencuri yang bersumpah dengan nama Allah. Nama Allah di dalam hatinya sangatlah mulia. Makanya, beliau lebih cenderung menuding matanya yang barangkali salah lihat, daripada menuduh seorang pencuri yang bersumpah dengan nama Allah. Walaupun faktanya pencuri itu telah berbohong kepadanya.

(4) Ibnu al-Qayyim menyebutkan bahwa dalam ayat ini, syetan menipu Adam dan Hawa dengan enam metode penegasan, yaitu:

(a) Dengan sumpah.

(b) Dengan huruf taukid (penegasan), yaitu (إن) "Inna".

(c) Menggunakan metode pengkhususan, dengan mendahulukan objek (لَكُمَا) atas subjek (ٱلنَّـٰصِحِینَ) dalam firman- Nya,

إِنِّی لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّـٰصِحِینَ

“Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.”

Artinya sesungguhnya saya khususkan nasehat ini untuk kalian berdua, manfaatnya akan kembali kepada kalian, bukan kembali kembali kepada saya.

(d) Menggunakan Ismu Fa'il (ٱلنَّـٰصِحِینَ) yang menunjukkan sesuatu yang tetap dan lazim.

(e) Menggunakan huruf (lam taukid) untuk penegasan.

(f) Mengklaim dirinya masuk dalam golongan orang-orang yang menasihati.

(5) Cara menipu dengan mengucapkan sumpah dan menggunakan metode penegasan diwariskan syetan kepada para pengikutnya, diantaranya adalah orang-orang munafik. Ini dijelaskan di dalam beberapa firman Allah,

(a) Firman-Nya,

إِذَا جَاۤءَكَ ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ قَالُوا۟ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ یَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ لَكَـٰذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah." Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (Qs. al-Munafiqun: 1)

(b) Firman-Nya,

وَیَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ إِنَّهُمۡ لَمِنكُمۡ وَمَا هُم مِّنكُمۡ وَلَـٰكِنَّهُمۡ قَوۡمࣱ یَفۡرَقُونَ

“Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu).” (Qs. at-Taubah: 56)

 

Pelajaran (2) Syetan Mengulurkan Jebakan

فَدَلَّىٰهُمَا بِغُرُورࣲۚ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتۡ لَهُمَا سَوۡءَ ٰ تُهُمَا وَطَفِقَا یَخۡصِفَانِ عَلَیۡهِمَا مِن وَرَقِ ٱلۡجَنَّةِۖ وَنَادَىٰهُمَا رَبُّهُمَاۤ أَلَمۡ أَنۡهَكُمَا عَن تِلۡكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَاۤ إِنَّ ٱلشَّیۡطَـٰنَ لَكُمَا عَدُوࣱّ مُّبِینࣱ

“Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’” (Qs. al-A'raf: 22)

(1) Firman-Nya,

فَدَلَّىٰهُمَا بِغُرُورࣲۚ

“Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya.”

(a) Menurut al-Qurthubi bahwa (فَدَلَّىٰهُمَا) artinya syetan menjebak keduanya kepada kebinasaan.

(b) Al-Baghawi menyebutkan pendapat lain, bahwa syetan menurunkan keduanya dari derajat ketaatan kepada derajat kemaksiatan, karena maknanya menurunkan sesuatu dari atas ke bawah. 

(c) Al-Azhari berkata, makna aslinya adalah orang yang kehausan mengulurkan ember ke dalam sumur untuk mengambil airnya, ternyata dia tidak mendapatkan air tersebut. Inilah yang dimaksud dengan terjebak dalam tipuan.

(d) Rasyid Ridha melengkapi keterangan di atas, dengan mengatakan bahwa artinya mengulurkan ke bawah pelan-pelan. Hal ini menunjukkan bahwa syetan secara pelan-pelan dan terus-menerus membujuk Adam untuk memakan buah tersebut sampai berhasil.

(2) Firman-Nya,

 فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ 

“Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu”

(a) Berkata al-Qurthubi, pertama kali yang memakan buah terlarang adalah Hawa dan belum terjadi apa-apa, tetapi ketika Adam ikut memakan buah tersebut, terjadilah hukuman tersebut, karena larangan ditujukan kepada dua orang.

(b) Sebagian ulama mengatakan bahwa Hawa juga ikut membujuk Adam untuk memakan buah terlarang, sehingga beliau ikut memakannya. Ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

ولَوْلا حَوّاءُ لَمْ تَخُنَّ أُنْثى زَوْجَها

“Dan seandainya bukan karena Hawa' (istri Nabi Adam) tentu wanita tidak akan mengkhiyanati suaminya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

(3) Firman-Nya,

بَدَتۡ لَهُمَا سَوۡءَ ٰ تُهُمَاتُهُمَا

“Nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya.”

Menurut al-Maraghi bahwa ketika Adam dan Hawa memakan buah terlarang terbukalah auratnya masing-masing, padahal sebelumnya tertutup. Sejak itu mulai terasa adanya syahwat kepada lawan jenisnya akibat memakan buah tersebut. Pada akhirnya keduanya sadar akan keadaan dirinya dan merasa malu serta ingin menutup aurat tersebut.

 (4) Firman-Nya,

وَطَفِقَا یَخۡصِفَانِ عَلَیۡهِمَا مِن وَرَقِ ٱلۡجَنَّةِۖ

“Dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.”

(a) Kata (یَخۡصِفَانِ) artinya mereka berdua memetik daun, kemudian memakaikannya ke tubuh mereka berdua.

(b) Al-Qurthubi menyebutkan bahwa pengarang kitab al-Bayan (Abu al-Khair al-Imrani) mengatakan, “Asy-Syafi'i berpendapat bahwa barangsiapa tidak mendapatkan apa yang menutupi auratnya, kecuali hanya daun pohon, maka dia wajib menutupi auratnya dengan daun tersebut. Ini seperti apa yang dilakukan oleh Adam di surga.”

(c) Kalimat (وَرَقِ ٱلۡجَنَّةِۖ) maksudnya menurut Qatadah adalah daun buah Tin yang bentuknya dijadikan seperti baju.

(5) Yang menarik adalah apa yang disebutkan oleh al-Jashshash bahwa dosa yang dilakukan oleh Adam adalah dosa kecil, bukan dosa besar. Beliau memberikan dua alasan, yaitu:

(a) Adam lupa terhadap larangan tersebut dan mengira bahwa larangannya bersifat makruh bukan haram.

Allah berfirman,

وَلَقَدۡ عَهِدۡنَاۤ إِلَىٰۤ ءَادَمَ مِن قَبۡلُ فَنَسِیَ وَلَمۡ نَجِدۡ لَهُۥ عَزۡمࣰا

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (Qs. Thaha: 115)

(b) Adam mengira bahwa yang dilarang adalah pohon yang ditunjuk, padahal maksudnya adalah jenis pohon tersebut.

 

***

Karawang, Sabtu, 16 September 2023

KARYA TULIS