Karya Tulis
57 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 24-25) Bumi Sebagai Tempat Tinggal


 { قَالَ ٱهۡبِطُوا۟ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوࣱّۖ وَلَكُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرࣱّ وَمَتَـٰعٌ إِلَىٰ حِینࣲ }

“Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.".”

(Qs. al-A'raf: 24)

 

Pelajaran (1) Turunnya Adam dari Surga

قَالَ ٱهۡبِطُوا۟ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوࣱّۖ

“Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain".”

(1) Pada ayat ini tidak disebutkan bahwa Allah menerima taubat Adam, karena menurut Ibnu Asyur tujuan disampaikan ayat ini adalah untuk mengingatkan bahaya tipu daya syetan beserta akibatnya, yaitu kerugian di dunia dan di akhirat.

Bisa dikatakan juga bahwa taubat Nabi Adam sudah terwakili pada ayat sebelumnya, tepatnya ketika Nabi Adam berdoa kepada Allah dan meminta ampun atas kesalahan yang dilakukannya.

(2) Firman-Nya,

قالَ اهْبِطُوا

“Turunlah kamu sekalian.”

Maksudnya bahwa Allah memerintah agar mereka turun dari surga. Menurut Abu Muslim, maknanya, “Pergilah kalian”. Dan ini ditujukan kepada Adam, Hawa dan Iblis.

Hal yang sama juga dijelaskan dalam surat Taha,

 قالَ اهْبِطا مِنها جَمِيعًا

“Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama".” (Qs. Thaha: 123)

Maksudnya di sini adalah Adam dan Iblis. Adapun Hawa diwakili oleh Adam, karena wanita diikutkan kepada laki-laki di dalam banyak hal, termasuk di sini.

(3) Menurut Makki bahwa terdapat beberapa hadits yang yang menunjukkan bahwa Adam diciptakan pada hari Jum’at. Pada hari Jum'at pula Adam diturunkan dari surga, diterima taubatnya dan dicabut nyawanya.

(4) Yang dimaksud oleh Makki adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

 خَيْرُ يَومٍ طَلَعَتْ عليه الشَّمْسُ يَوْمُ الجُمُعَةِ، فيه خُلِقَ آدَمُ، وفيهِ أُدْخِلَ الجَنَّةَ، وفيهِ أُخْرِجَ مِنها

“Sebaik-baik hari adalah hari Jum'at, karena pada hari itulah Adam diciptakan. Pada hari itu pula ia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu pula ia dikeluarkan daripadanya.” (HR. Muslim)

(5) Ibnu Zaid berkata, “Adam turun di India, dan Hawa di Jeddah, lalu dia datang mencarinya hingga dia sampai pada suatu tempat, dan Hawa berlari mendekat ke arahnya, sehingga tempat itu dinamakan ‘Muzdalifah’ (tempat yang dekat). Kemudian keduanya berkenalan di suatu tempat yang disebut ‘Arafat’ (tempat berkenalan). Pada akhirnya keduanya berkumpul di suatu tempat yang bernama ‘Jam'an’ (tempat berkumpul).”

(6) Ibnu Katsir mengomentari tempat turunnya Adam yang disebutkan oleh sebagian ulama tafsir, beliau berkata, “Ulama tafsir menyebutkan beberapa tempat dimana mereka diturunkan di dunia ini. Tetapi sumber berita mengenai hal ini berasal dari kisah Israiliyat, hanya Allah yang lebih mengetahui kebenarannya. Sekiranya penyebutan beberapa tempat tersebut mengandung faedah dan manfaat bagi orang-orang mukallaf dalam urusan agama dan urusan dunia mereka, niscaya Allah akan menuturkan kisahnya di dalam Kitab-Nya atau melalui Rasul-Nya.”

(7) Firman-Nya,

بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوࣱّۖ

“Sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain.”

Menurut Ibnu Katsir ayat ini merupakan dasar terjadinya permusuhan antara Adam dan Iblis.

 

Pelajaran (2) Bumi sebagai Tempat Tinggal

وَلَكُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرࣱّ وَمَتَـٰعٌ إِلَىٰ حِینࣲ

“Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.”

(1) Maksudnya menurut Ibnu Katsir bahwa di bumi ini kalian menetap dan hidup sampai waktu yang ditentukan oleh catatan al-Qalam, ditetapkan oleh takdir, serta digariskan di dalam Lauhul Mahfuz.

(2) Kata (مُسْتَقَرٌّ) maksudnya bertempat tinggal.

Sedangkan kata (مَتَـٰعٌ) artinya hidup untuk mengambil manfaat dan bersenang-senang.

(3) Firman-Nya (إِلَىٰ حِینࣲ) maksudnya sampai ajal menjemput atau sampai hari kiamat untuk manusia secara umum. Sedangkan kata (حِینࣲ) menurut al-Mawardi artinya adalah waktu yang tidak ditentukan, bisa pendek dan bisa pula panjang.

(4) Menurut Ibnu Asyur bahwa di sini, Allah tidak menyebutkan batas waktu tertentu, karena setiap orang berbeda-beda ajalnya, sesuai dengan takdir yang telah ditentukan bagi masing-masing dari mereka.

 

Pelajaran (3) Dibangkitkan dari Bumi

قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

“Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan".” (Qs. al-A'raf :25)

(1) Ayat ini tidak didahului huruf (و) ‘wawu athaf’ yang artinya ‘dan’. Hal ini menurut Ibnu Asyur untuk menunjukkan perbedaan objek dengan ayat sebelumnya. Karena pada ayat sebelumnya objeknya adalah Adam, Hawa dan Iblis, sedangkan objek pada ayat ini khusus Nabi Adam dan keturunannya.

Ini dibuktikan dengan firman-Nya,

وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

“Dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.”

Artinya bahwa kalian akan dibangkitkan dari kuburan. Ini tidak berlaku pada Iblis, karena dia dan keturunannya tidak mati dan dikuburkan, tetapi mereka hidup sampai hari kiamat.

(2) Ayat ini juga memberikan isyarat bahwa Adam dan Hawa akan mempunyai keturunan banyak di muka bumi ini.

(3) Kata (تُخْرَجُونَ) maksudnya kalian akan dikeluarkan dari alam kubur menuju padang mahsyar pada hari kebangkitan.

(4) Ayat ini juga memberikan isyarat bahwa Padang Mahsyar, tempat berkumpulnya manusia setelah mati adalah di bumi, walaupun bukan bumi yang ditempati manusia ketika berada di dunia. Hal ini diterangkan di dalam firman-Nya,

یَوۡمَ تُبَدَّلُ ٱلۡأَرۡضُ غَیۡرَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تُۖ وَبَرَزُوا۟ لِلَّهِ ٱلۡوَ ٰ⁠حِدِ ٱلۡقَهَّارِ

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Qs. Ibrahim: 48)

(5) Ini dikuatkan dengan hadits Sahl bin Sa'ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ، كَقُرْصَةِ النَّقِيِّ، لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ

“Kelak manusia di hari kiamat akan dihimpunkan di bumi yang putih lagi tandus seperti perak yang putih bersih, tiada suatu tanda pun bagi seseorang padanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Bumi yang putih, tidak pernah dialirkan darah padanya, tidak pernah pula dilakukan suatu dosa pun padanya.”

(6) Ayat ini semakna dengan firman Allah,

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (Qs. Thaha: 55)

 

***

Karawang, Ahad, 17 September 2023

KARYA TULIS