Karya Tulis
90 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 55) Adab Berdoa -1



ٱدۡعُوا۟ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعࣰا وَخُفۡیَةًۚ إِنَّهُۥ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِینَ 
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(Qs. al-A'raf: 55)

Pelajaran (1) Merendahkan Diri dengan Suara Pelan
ٱدۡعُوا۟ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعࣰا وَخُفۡیَةًۚ
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.”
(1) Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang menunjukkan keesaan dan keagungan Allah, selanjutnya pada ayat ini, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya dengan cara berdoa secara khusyu', merendahkan diri dengan suara pelan. 
(2) Berkata al-Qurthubi, “Ini adalah perintah untuk berdoa dan beribadah kepada-Nya. Kemudian Allah menyebutkan sifat dan adab dalam berdoa yaitu khusyu', merendahkan diri dengan bersimpuh diri di hadapan Allah.”
(3) Kata (خُفۡیَةًۚ) artinya adalah lirih dan pelan diucapkan dalam hati untuk menghindari riya'. 
Berkata ath-Thabari, “Yang dimaksud dengan (خُفۡیَةًۚ) di sini adalah dengan hati yang khusyu’, penuh keyakinan kepada Keesaan dan Kekuasaan-Nya, ini hanya diketahui antara kalian dan Dia saja, bukan dengan suara yang keras dengan tujuan riya.”
(4) Beberapa dalil yang menunjukkan hal itu:
(a) Allah memuji Nabi Zakariya yang berdoa pelan dan lirih, sebagaimana dalam firman-Nya, 
إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَاۤءً خَفِیࣰّا 
“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (Qs. Maryam: 3)
(b) Di dalam hadits Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu ‘anhu disebutkan, 
كُنّا مع رَسولِ اللَّهِ ﷺ، فَكُنّا إذا أشْرَفْنا على وادٍ، هَلَّلْنا وكَبَّرْنا ارْتَفَعَتْ أصْواتُنا، فَقالَ النبيُّ ﷺ: يا أيُّها النّاسُ ارْبَعُوا على أنْفُسِكُمْ، فإنَّكُمْ لا تَدْعُونَ أصَمَّ ولا غائِبًا، إنَّه معكُمْ إنَّه سَمِيعٌ قَرِيبٌ، تَبارَكَ اسْمُهُ وتَعالى جَدُّهُ.
“Kami pernah bepergian bersama Rasulullah ﷺ dan apabila menaiki bukit kami bertalbiyah dan bertakbir dengan suara yang keras. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Wahai sekalian manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha suci nama-Nya dan Maha Tinggi kebesaran-Nya".” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
(c) Hadits Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, 
خيرُ الذِّكرِ الخفيُّ وخيرُ الرِّزقِ ما يَكفي
“Sebaik baik dzikir adalah yang tersembunyi dan sebaik baik rezeki adalah yang mencukupi.” (HR. Ibnu Hibbah dan dishahihkannya) 
(d) Menurut al-Hasan al-Bashri bahwa doa yang dilakukan pelan-pelan pahalanya 70 kali lipat dari doa yang diucapkan secara keras. 
(e) Berkata al-Qurthubi, “Di dalam syariat telah ditetapkan bahwa amal shalih yang disembunyikan, secara umum  lebih baik dan lebih utama dibanding dengan amal yang dinampakkan.”
(f) Abu Hanifah berpendapat bahwa mengucapkan 'Amin' dalam shalat, sebaiknya dilakukan secara pelan (sirri) dan tidak dikeraskan. Alasannya ucapan 'Amin' masuk dalam katagori berdoa. 
(5) Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari ‘Abdullah bin al-Mubarak meriwayatkan dari al-Mubarak bin Fudalah, dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa, 
(a) “Sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar hafal Al-Qur'an seluruhnya, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.” 
(b) “Dahulu ada orang yang benar-benar banyak menguasai ilmu fiqih, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.” 
(c) “Dahulu ada orang yang benar-benar gemar melakukan shalat yang panjang di dalam rumahnya, sedangkan di rumahnya terdapat banyak para pengunjung yang bertamu, tetapi mereka tidak mengetahuinya.” 
(d) “Tetapi sekarang ini, kita menjumpai banyak orang yang tidak mampu mengerjakan suatu amal pun di muka bumi ini secara tersembunyi, mereka selalu mengerjakannya dengan terang-terangan. Padahal kaum muslimin di masa lalu selalu berusaha dengan sungguh-sungguh agar suara doanya tidak terdengar, kecuali sebatas bisikan antara dia dan Tuhannya. Hal itu karena Allah berfirman, “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (Al-A'raf: 55);  
Allah pun berfirman menceritakan seorang hamba shalih yang Dia diridhai, 
إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
“Yaitu tatkala ia (Zakariya) berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (Maryam: 3)
(6) Tujuan utama seseorang berdoa, menurut al-Qasimi yaitu untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang hamba yang sangat lemah dan membutuhkan  pertolongan Allah, Tuhan yang Maha mampu atas segala sesuatu dan mempunyai rahmat yang sangat luas. Maka, seharusnya dilakukan dengan suara lirih agar tercapai keikhlasan dan terjaga dari segala bentuk riya’. 
(7) Ibnu al-Munir pernah menulis masalah ini di dalam kitab al-Intisaf yang teringkas dalam beberapa point di bawah ini:
(a) Ayat di atas menunjukkan perintah untuk berdoa secara lirih dan pelan. Kata kuncinya adalah dua (تَضَرُّعࣰا) dan (خُفۡیَةًۚ);
Adapun (تَضَرُّعࣰا) berarti merendah diri, karena doa yang tidak diiringi dengan rasa rendah diri tidak akan menimbulkan khusyu' di dalam hati, jika demikian maka sulit untuk dikabulkan oleh Allah.
Begitu juga doa yang tidak disertai dengan (خُفۡیَةًۚ) suara lirih sulit untuk menghadirkan kekhusyu'an dan ketenangan dalam hati 
(b) Pada zaman sekarang, banyak orang yang berdoa dengan suara keras secara bersama-sama di masjid-masjid, sehingga  suaranya menggelegar, bergema dan saling bersahutan. Padahal secara tidak sadar mereka telah melakukan dua bentuk bid'ah, yaitu: (1) berdoa dengan suara keras, dan (2) hal itu dilakukan di masjid. 
(c) Mungkin saja, dengan suara yang keras tersebut, terdapat sebagian kecil dari orang awam yang tersentuh hatinya atau menangis tersedu-sedu. Tetapi tangisan itu mirip dengan tangisan wanita dan anak kecil ketika menghadapi suatu masalah, yaitu: tangisan yang tidak keluar dari hati yang paling dalam. Karena jika itu benar dari hatinya, tentu akan terwujud dengan mengikuti sunnah dan adab dalam berdoa, yaitu dengan rasa rendah diri dan suara pelan. 
(8) Adapun ayat lain yang memerintahkan untuk berdoa kepada Allah dengan merendahkan diri dan suara yang lembut adalah firman-Nya, 
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ  
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Qs. al-A’raf: 205)

Pelajaran (2) Berlebihan dalam Berdoa
إِنَّهُۥ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِینَ 
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(1) Larangan untuk bertindak melampaui batas pada ayat di atas berlaku umum, mencakup segala hal, tetapi penekanannya adalah dalam masalah berdoa. 
(2) Di dalam hadits ‘Abdullah bin al-Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, 
سمِع ابنَه يقولُ اللَّهمَّ إنِّي أسألُك القصرَ الأبيضَ عن يمينِ الجنَّةِ إذا دخلتُها فقال أيْ بنيَّ سلِ اللهَ الجنَّةَ وعُذْ به من النّارِ فإنِّي سمِعتُ رسولَ اللهِ ﷺ يقولُ سيكونُ قومٌ يعتدون في الدُّعاءِ 
“Dia mendengar anaknya berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu istana berwarna putih, jika memasukinya dari sisi kanan surga.’ Maka dia berkata, ‘Wahai anakku, memintalah surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari api neraka. Karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: akan terdapat suatu kaum yang berlebihan dalam berdoa’.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi. Hadits ini dihasankan oleh Ibnu Hajar dan Syuaib al-Arnauth, serta disahihkan al-Albani) 
(3) Ini dikuatkan dengan hadits Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, 
أنَّ سَعدًا سمِعَ ابْنًا له يَدعو، وهو يَقولُ: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ، ونَعيمَها، وإستَبْرَقَها، ونَحوًا مِن هذا، وأعوذُ بكَ مِنَ النّارِ، وسَلاسِلِها، وأغلالِها. فقال: لقد سألتَ اللهَ خَيرًا كَثيرًا، وتعَوَّذتَ باللهِ مِن شَرٍّ كَثيرٍ، وإنِّي سمِعتُ رَسولَ اللهِ ﷺ يَقولُ: إنَّهُ سيَكونُ قَومٌ يَعتَدونَ في الدُّعاءِ. وقرَأَ هذه الآيةَ: ﴿ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾ [الأعراف: ٥٥]، وإنَّ بِحَسْبِكَ أنْ تَقولَ: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ، وما قرَّبَ إليها مِن قَولٍ، أو عَمَلٍ، وأعوذُ بكَ مِنَ النّارِ، وما قرَّبَ إليها مِن قَولٍ، أو عَمَلٍ.
“Ayahku mendengarku berkata: Ya Allah, aku memohon kepadaMu Surga dan kenikmatannya, keindahannya dan demikian dan demikian dan aku berlindung kepadaMu dari Neraka, rantai serta belenggu-belenggunya, dan demikian dan demikian. Kemudian ia berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Akan ada sebuah kaum berlebihan dalam berdoa." Maka hati-hatilah engkau menjadi bagian dari mereka, sesungguhnya apabila engkau diberi Surga maka engkau telah diberi kebaikan yang ada padanya, dan apabila engkau dilindungi dari Neraka maka engkau telah dilindungi darinya dan dari keburukan yang ada padanya.” (HR. Ahmad. Menurut Syu'aib al-Arnuth hadits ini Hasan Li Ghairihi.)
(4) Diantara bentuk-bentuk melampaui batas di dalam berdoa, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qurthubi adalah sebagai berikut;
(a) Berdoa dengan suara keras dan berteriak. 
(b) Berdoa akan mendapatkan derajat para nabi.
(c) Berdoa meminta sesuatu yang mustahil.
(d) Berdoa agar bisa melakukan suatu maksiat.
(e) Berdoa dengan doa-doa yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi justru lebih senang memilih lafadz-lafadz yang menyerupai sajak atau syair dan sejenisnya 
Semua itu dapat menyebabkan tidak diterimanya suatu doa. 

***
Karawang, Jumat, 13 Oktober 2023

 ٱدۡعُوا۟ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعࣰا وَخُفۡیَةًۚ إِنَّهُۥ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِینَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

(Qs. al-A'raf: 55)


Pelajaran (1) Merendahkan Diri dengan Suara Pelan

ٱدۡعُوا۟ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعࣰا وَخُفۡیَةًۚ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.”

(1) Pada ayat sebelumnya telah dijelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta yang menunjukkan keesaan dan keagungan Allah, selanjutnya pada ayat ini, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya dengan cara berdoa secara khusyu', merendahkan diri dengan suara pelan. 

(2) Berkata al-Qurthubi, “Ini adalah perintah untuk berdoa dan beribadah kepada-Nya. Kemudian Allah menyebutkan sifat dan adab dalam berdoa yaitu khusyu', merendahkan diri dengan bersimpuh diri di hadapan Allah.”

(3) Kata (خُفۡیَةًۚ) artinya adalah lirih dan pelan diucapkan dalam hati untuk menghindari riya'. 

Berkata ath-Thabari, “Yang dimaksud dengan (خُفۡیَةًۚ) di sini adalah dengan hati yang khusyu’, penuh keyakinan kepada Keesaan dan Kekuasaan-Nya, ini hanya diketahui antara kalian dan Dia saja, bukan dengan suara yang keras dengan tujuan riya.”

(4) Beberapa dalil yang menunjukkan hal itu:

(a) Allah memuji Nabi Zakariya yang berdoa pelan dan lirih, sebagaimana dalam firman-Nya, 

إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَاۤءً خَفِیࣰّا 

“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (Qs. Maryam: 3)

(b) Di dalam hadits Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu ‘anhu disebutkan, 

كُنّا مع رَسولِ اللَّهِ ﷺ، فَكُنّا إذا أشْرَفْنا على وادٍ، هَلَّلْنا وكَبَّرْنا ارْتَفَعَتْ أصْواتُنا، فَقالَ النبيُّ ﷺ: يا أيُّها النّاسُ ارْبَعُوا على أنْفُسِكُمْ، فإنَّكُمْ لا تَدْعُونَ أصَمَّ ولا غائِبًا، إنَّه معكُمْ إنَّه سَمِيعٌ قَرِيبٌ، تَبارَكَ اسْمُهُ وتَعالى جَدُّهُ.

“Kami pernah bepergian bersama Rasulullah ﷺ dan apabila menaiki bukit kami bertalbiyah dan bertakbir dengan suara yang keras. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Wahai sekalian manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha suci nama-Nya dan Maha Tinggi kebesaran-Nya".” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

(c) Hadits Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, 

خيرُ الذِّكرِ الخفيُّ وخيرُ الرِّزقِ ما يَكفي

“Sebaik baik dzikir adalah yang tersembunyi dan sebaik baik rezeki adalah yang mencukupi.” (HR. Ibnu Hibbah dan dishahihkannya) 

(d) Menurut al-Hasan al-Bashri bahwa doa yang dilakukan pelan-pelan pahalanya 70 kali lipat dari doa yang diucapkan secara keras. 

(e) Berkata al-Qurthubi, “Di dalam syariat telah ditetapkan bahwa amal shalih yang disembunyikan, secara umum  lebih baik dan lebih utama dibanding dengan amal yang dinampakkan.”

(f) Abu Hanifah berpendapat bahwa mengucapkan 'Amin' dalam shalat, sebaiknya dilakukan secara pelan (sirri) dan tidak dikeraskan. Alasannya ucapan 'Amin' masuk dalam katagori berdoa. 

(5) Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari ‘Abdullah bin al-Mubarak meriwayatkan dari al-Mubarak bin Fudalah, dari al-Hasan yang mengatakan bahwa, 

(a) “Sesungguhnya dahulu ada orang yang benar-benar hafal Al-Qur'an seluruhnya, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.” 

(b) “Dahulu ada orang yang benar-benar banyak menguasai ilmu fiqih, tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.” 

(c) “Dahulu ada orang yang benar-benar gemar melakukan shalat yang panjang di dalam rumahnya, sedangkan di rumahnya terdapat banyak para pengunjung yang bertamu, tetapi mereka tidak mengetahuinya.” 

(d) “Tetapi sekarang ini, kita menjumpai banyak orang yang tidak mampu mengerjakan suatu amal pun di muka bumi ini secara tersembunyi, mereka selalu mengerjakannya dengan terang-terangan. Padahal kaum muslimin di masa lalu selalu berusaha dengan sungguh-sungguh agar suara doanya tidak terdengar, kecuali sebatas bisikan antara dia dan Tuhannya. Hal itu karena Allah berfirman, “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (Qs. al-A'raf: 55);  

Allah pun berfirman menceritakan seorang hamba shalih yang Dia diridhai, 

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

“Yaitu tatkala ia (Zakariya) berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (Maryam: 3)

(6) Tujuan utama seseorang berdoa, menurut al-Qasimi yaitu untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang hamba yang sangat lemah dan membutuhkan  pertolongan Allah, Tuhan yang Maha mampu atas segala sesuatu dan mempunyai rahmat yang sangat luas. Maka, seharusnya dilakukan dengan suara lirih agar tercapai keikhlasan dan terjaga dari segala bentuk riya’. 

(7) Ibnu al-Munir pernah menulis masalah ini di dalam kitab al-Intisaf yang teringkas dalam beberapa point di bawah ini:

(a) Ayat di atas menunjukkan perintah untuk berdoa secara lirih dan pelan. Kata kuncinya adalah dua (تَضَرُّعࣰا) dan (خُفۡیَةًۚ);

Adapun (تَضَرُّعࣰا) berarti merendah diri, karena doa yang tidak diiringi dengan rasa rendah diri tidak akan menimbulkan khusyu' di dalam hati, jika demikian maka sulit untuk dikabulkan oleh Allah.

Begitu juga doa yang tidak disertai dengan (خُفۡیَةًۚ) suara lirih sulit untuk menghadirkan kekhusyu'an dan ketenangan dalam hati 

(b) Pada zaman sekarang, banyak orang yang berdoa dengan suara keras secara bersama-sama di masjid-masjid, sehingga  suaranya menggelegar, bergema dan saling bersahutan. Padahal secara tidak sadar mereka telah melakukan dua bentuk bid'ah, yaitu: (1) berdoa dengan suara keras, dan (2) hal itu dilakukan di masjid. 

(c) Mungkin saja, dengan suara yang keras tersebut, terdapat sebagian kecil dari orang awam yang tersentuh hatinya atau menangis tersedu-sedu. Tetapi tangisan itu mirip dengan tangisan wanita dan anak kecil ketika menghadapi suatu masalah, yaitu: tangisan yang tidak keluar dari hati yang paling dalam. Karena jika itu benar dari hatinya, tentu akan terwujud dengan mengikuti sunnah dan adab dalam berdoa, yaitu dengan rasa rendah diri dan suara pelan. 

(8) Adapun ayat lain yang memerintahkan untuk berdoa kepada Allah dengan merendahkan diri dan suara yang lembut adalah firman-Nya, 

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ  

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Qs. al-A’raf: 205)


Pelajaran (2) Berlebihan dalam Berdoa

إِنَّهُۥ لَا یُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِینَ 

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

(1) Larangan untuk bertindak melampaui batas pada ayat di atas berlaku umum, mencakup segala hal, tetapi penekanannya adalah dalam masalah berdoa. 

(2) Di dalam hadits ‘Abdullah bin al-Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, 

سمِع ابنَه يقولُ اللَّهمَّ إنِّي أسألُك القصرَ الأبيضَ عن يمينِ الجنَّةِ إذا دخلتُها فقال أيْ بنيَّ سلِ اللهَ الجنَّةَ وعُذْ به من النّارِ فإنِّي سمِعتُ رسولَ اللهِ ﷺ يقولُ سيكونُ قومٌ يعتدون في الدُّعاءِ 

“Dia mendengar anaknya berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu istana berwarna putih, jika memasukinya dari sisi kanan surga.’ Maka dia berkata, ‘Wahai anakku, memintalah surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari api neraka. Karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: akan terdapat suatu kaum yang berlebihan dalam berdoa’.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi. Hadits ini dihasankan oleh Ibnu Hajar dan Syuaib al-Arnauth, serta disahihkan al-Albani) 

(3) Ini dikuatkan dengan hadits Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, 

أنَّ سَعدًا سمِعَ ابْنًا له يَدعو، وهو يَقولُ: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ، ونَعيمَها، وإستَبْرَقَها، ونَحوًا مِن هذا، وأعوذُ بكَ مِنَ النّارِ، وسَلاسِلِها، وأغلالِها. فقال: لقد سألتَ اللهَ خَيرًا كَثيرًا، وتعَوَّذتَ باللهِ مِن شَرٍّ كَثيرٍ، وإنِّي سمِعتُ رَسولَ اللهِ ﷺ يَقولُ: إنَّهُ سيَكونُ قَومٌ يَعتَدونَ في الدُّعاءِ. وقرَأَ هذه الآيةَ: ﴿ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾ [الأعراف: ٥٥]، وإنَّ بِحَسْبِكَ أنْ تَقولَ: اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ، وما قرَّبَ إليها مِن قَولٍ، أو عَمَلٍ، وأعوذُ بكَ مِنَ النّارِ، وما قرَّبَ إليها مِن قَولٍ، أو عَمَلٍ.

“Ayahku mendengarku berkata: Ya Allah, aku memohon kepadaMu Surga dan kenikmatannya, keindahannya dan demikian dan demikian dan aku berlindung kepadaMu dari Neraka, rantai serta belenggu-belenggunya, dan demikian dan demikian. Kemudian ia berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Akan ada sebuah kaum berlebihan dalam berdoa." Maka hati-hatilah engkau menjadi bagian dari mereka, sesungguhnya apabila engkau diberi Surga maka engkau telah diberi kebaikan yang ada padanya, dan apabila engkau dilindungi dari Neraka maka engkau telah dilindungi darinya dan dari keburukan yang ada padanya.” (HR. Ahmad. Menurut Syu'aib al-Arnuth hadits ini Hasan Li Ghairihi.)

(4) Diantara bentuk-bentuk melampaui batas di dalam berdoa, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qurthubi adalah sebagai berikut;

(a) Berdoa dengan suara keras dan berteriak. 

(b) Berdoa akan mendapatkan derajat para nabi.

(c) Berdoa meminta sesuatu yang mustahil.

(d) Berdoa agar bisa melakukan suatu maksiat.

(e) Berdoa dengan doa-doa yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi justru lebih senang memilih lafadz-lafadz yang menyerupai sajak atau syair dan sejenisnya 

Semua itu dapat menyebabkan tidak diterimanya suatu doa. 


***

Karawang, Jumat, 13 Oktober 2023

KARYA TULIS