Tafsir An-Najah (Qs. 7: 56) Antara Takut dan Harapan

وَلَا تُفۡسِدُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفࣰا وَطَمَعًاۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِیبࣱ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِینَ
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(Qs. al-A'raf: 56)
Pelajaran (1) Membuat Kerusakan dengan Maksiat
وَلَا تُفۡسِدُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.”
(1) Berkata al-Qurthubi, “Dalam ayat ini, Allah melarang seseorang merusak sesuatu yang telah diperbaiki, walaupun hanya sedikit. Hukum ini berlaku secara umum.”
(2) Berkata al-Qusyairi, “Maksudnya di sini adalah janganlah kalian berbuat syirik. Jadi, ayat ini melarang perbuatan syirik dan menumpahkan darah di muka bumi. Serta perintah untuk mengikuti ajaran syariah setelah adanya perbaikan bumi dengan diutusnya para rasul.”
(3) Al-Baghawi menukil perkataan Athiyah, “Jangan kalian bermaksiat kepada Allah, karena hal itu menyebabkan tidak turunnya hujan dan datangnya musim paceklik, sehingga tumbuh-tumbuhan dan ternak pada mati.”
(4) Abu Bakar bin Ayyas pernah ditanya tentang ayat ini. Beliau menjawab bahwa Allah mengutus nabi Muhammad ﷺ kepada penduduk bumi yang waktu itu dalam keadaan rusak. Kemudian Allah memperbaiki mereka dengan petunjuk Nabi Muhammad ﷺ. Dengan demikian, barangsiapa yang mengajak kepada sesuatu yang menyelisihi apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ, maka dia dianggap telah membuat kerusakan di muka bumi.”
(5) Mengapa dalam ayat ini disebutkan bahwa larangan membuat kerusakan di muka bumi khusus setelah ada perbaikan? Apakah ini berarti dibolehkan membuat kerusakan sebelum ada perbaikan?
(a) Menurut Ibnu Katsir merusak sesuatu yang sudah baik, sangat buruk dampaknya bagi manusia.
(b) Di sisi lain, Rasyid Ridha mengatakan bahwa merusak setelah perbaikan jauh lebih dahsyat dampaknya daripada merusak sebelum ada perbaikan. Hal itu dikarenakan dengan adanya perbaikan, mestinya bisa membuat jera para perusak. Maka sangat ironis jika mereka merusaknya kembali.
(c) Intinya, merusak itu perbuatan yang dilarang secara mutlak, kapan dan di mana saja, setelah ada perbaikan maupun ketika belum ada perbaikan.
(6) Sebagian ulama menafsirkan ayat di atas di atas dengan penafsiran tertentu, seperti berikut ini:
(a) Menutup aliran air yang bersih.
(b) Menebang pohon yang berbuah dengan niat memberikan madharat kepada orang lain.
Menurut al-Qurthubi dua hal ini dilarang jika membahayakan orang Islam. Lain halnya, jika hal itu dilakukan untuk memberikan madharat kepada orang-orang kafir, khususnya ketika terjadi perang, maka dibolehkan.
Ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dalam Perang Badar dengan menutup sumur Badar agar pasukan musuh kehausan. Begitu juga beliau menebang pohon-pohon yang dijadikan tempat bersembunyi orang-orang kafir.
Pelajaran (2) Takut dan Berharap
وَٱدۡعُوهُ خَوۡفࣰا وَطَمَعًاۚ
“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).”
(1) Ayat ini menjelaskan bahwa seseorang yang berdoa kepada Allah, hendaknya menghadirkan rasa takut dan harapan sekaligus.
Tetapi rasa takut dan harapan ini tidak hanya dihadirkan ketika berdoa saja. Tetapi juga harus dihadirkan di dalam kehidupan sehari-hari secara lebih luas, diantaranya:
(a) Ketika mengingat dosa-dosa masa lalu, harus disikapi dengan rasa takut dan penuh harapan kepada Allah sekaligus. Keduanya harus dilakukan secara seimbang, tidak boleh umpamanya dia sangat takut secara berlebihan dengan dosa-dosanya di masa lalu, karena hal ini akan menimbulkan rasa putus asa terhadap rahmat dan ampunan Allah.
(b) Sebaliknya pula, dia juga tidak boleh berlebihan di dalam mengharap rahmat dan ampunan Allah, sehingga meremehkan dosa-dosa yang selama ini dia kerjakan, bahkan menganggap enteng dosa besar dengan dalih bahwa Allah Maha Pengampun.
(2) Menurut para ulama rasa takut dan harapan ini bagaikan dua sayap seekor burung, dengannya dia mampu terbang ke angkasa dengan bebas dan penuh percaya diri. Jika salah satunya hilang atau patah, maka akan terjatuh ke dalam jurang kehancuran di dunia dan di akherat kelak.
(3) Berkata al-Qurthubi, “Setiap orang hendaknya selalu dalam keadaan waspada dengan menghadirkan rasa takut dan pengharapan sekaligus, sehingga keduanya bagaikan dua sayap burung, yang dengan keduanya burung tersebut mampu terbang di atas jalan istiqamah. Artinya, jika seseorang hanya mengandalkan satu sayap, niscaya dia akan jatuh dan celaka.”
(4) Ayat-ayat yang menunjukkan pentingnya menghadirkan rasa takut dan harapan di dalam berdoa dan dalam setiap kehidupannya adalah sebagai berikut:
(a) Firman-Nya,
نَبِّئۡ عِبَادِیۤ أَنِّیۤ أَنَا ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ ۞ وَأَنَّ عَذَابِی هُوَ ٱلۡعَذَابُ ٱلۡأَلِیمُ ۞
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (Qs. al-Hijr: 49-50)
(b) Firman-Nya,
فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ یَحۡیَىٰ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُۥۤۚ إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ یُسَـٰرِعُونَ فِی ٱلۡخَیۡرَ ٰتِ وَیَدۡعُونَنَا رَغَبࣰا وَرَهَبࣰاۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِینَ
“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.” (Qs. al-Anbiya': 90)
(c) Firman-Nya,
أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Qs. al-Isra': 57)
(d) Firman-Nya,
وَلَا تُفۡسِدُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفࣰا وَطَمَعًاۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِیبࣱ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِینَ
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. al-A'raf: 56)
(5) Ibnu Juzai menulis satu kaidah, “Hendaknya seorang hamba lebih mendahulukan rasa takut daripada berharap selama hidupnya, supaya istiqamah dalam ketaatan dan menghindari segala bentuk kemaksiatan. Akan tetapi ketika terlihat tanda-tanda datangnya kematian, hendaknya mendahulukan pengharapan.” Ini sesuai dengan hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,
سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ ﷺ، قَبْلَ مَوْتِهِ بثَلاثَةِ أَيّامٍ يقولُ: لا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إلّا وَهو يُحْسِنُ الظَّنَّ باللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
“Aku mendengar Rasulullah ﷺ (bersabda): sebelum kematiannya selama tiga hari beliau mengatakan, ‘Janganlah salah satu dari kalian meninggal melainkan berprasangka baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla’.” (HR. Muslim)
(6) Ibnu Juzai menyebutkan tiga tingkatan dan maqam rasa takut dan pengharapan dalam diri manusia.
(6.1) Adapun tingkatan rasa takut, yaitu:
(a) Rasa takut yang yang terbetik dalam hati secara sekilas. Ini tidak mempunyai pengaruh apa-apa secara batin maupun lahir.
(b) Rasa takut yang sangat kuat di dalam hatinya. Ini bisa menyadarkan seorang hamba dari kelengahan dan kelupaan, serta membawanya untuk istiqamah berjalan di atas jalan yang lurus.
(c) Rasa takut yang berlebihan, sehingga menyebabkan putus asa dari rahmat Allah. Ini hukumnya haram.
(6.2) Adapun tiga maqam rasa takut, yaitu:
(a) Maqam pertama, rasa takut orang awam, yaitu: rasa takut terhadap dosa-dosa yang dikerjakan.
(b) Maqam kedua, rasa takut orang khusus, yaitu rasa takut dari su'u al-khatimah.
(c) Maqam ketiga, rasa takut orang yang sangat khusus, yaitu rasa takut terhadap masa lalu, karena akhir hidup biasanya mengikuti apa yang telah dikerjakan selama ini.
(6.3). Adapun harapan juga mempunyai tiga tingkatan, yaitu:
(a) Mengharap rahmat Allah dengan melaksanakan ketaatan dan menjauhi maksiat. Inilah pengharapan yang terpuji.
(b) Mengharap rahmat Allah, tetapi terus melakukan kemaksiatan dan malas melakukan ketaatan. Ini pengharapan orang yang tertipu.
(c) Mengharapkan rahmat Allah dengan sangat berlebihan, sehingga menyebabkan dia tidak takut lagi dengan siksa dan ancaman Allah. Ini hukumnya haram.
(6.4) Rasa pengharapan ini juga mempunyai tiga maqam.
(a) Maqam pertama, pengharapan orang awam, yaitu mengharap pahala dari Allah.
(b) Maqam kedua, pengharapan orang khusus, yaitu mengharapkan ridha Allah.
(c) Maqam ketiga, pengharapan orang yang paling khusus, yaitu mengharapkan pertemuan Allah yang diwujudkan dalam kerinduan dan senang untuk segera bertemu dengan Allah.
(7) Firman-Nya,
إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِیبࣱ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِینَ
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(a) Maksudnya bahwa Allah akan selalu memberikan rahmat-Nya kepada orang-orang yang berbuat baik.
(b) Atau bisa diartikan bahwa Allah akan memberikan pahala kepada orang-orang yang berbuat baik. Karena rahmat Allah itu mengandung pahala. Oleh karenanya, dalam ayat ini ditulis (قَرِیبࣱ) dekat, padahal (رَحۡمَتَ) itu muannats mestinya ditulis (قريبة). Salah satu jawabannya bahwa rahmat di sini mengandung makna pahala dan pahala (الثواب) adalah mudzakkar, maka tepat kalau kalau ditulis (قَرِیبࣱ). Ini mirip dengan firman Allah,
وَإِذَا حضر القسمة أولوا الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ
“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya)” (Qs. an-Nisa’: 8)
Kata (القسمة) adalah muannats, tetapi dhamirnya ditulis (مِنْهُ) mudzakkar, hal itu karena (القسمة) "pembagian" mengandung makna (المال) harta atau (الميراث) warisan. Dan keduanya adalah mudzakkar.
(c) Ayat lain yang menerangkan bahwa rahmat Allah dekat dengan orang-orang baik adalah Firman-Nya,
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ. [وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ۞ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ…
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi.” (Qs. al-A’raf: 156-157)
***
Karawang, Sabtu, 14 Oktober 2023.
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »