Tafsir An-Najah (Qs. 7: 57-58) Tanah Subur dan Tanah Gersang

وَهُوَ ٱلَّذِی یُرۡسِلُ ٱلرِّیَـٰحَ بُشۡرَۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِهِۦۖ حَتَّىٰۤ إِذَاۤ أَقَلَّتۡ سَحَابࣰا ثِقَالࣰا سُقۡنَـٰهُ لِبَلَدࣲ مَّیِّتࣲ فَأَنزَلۡنَا بِهِ ٱلۡمَاۤءَ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦ مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَ ٰتِۚ كَذَ ٰلِكَ نُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”
(Qs. al-A'raf: 57)
Pelajaran (1) Persesuaian Ayat
(1) Ayat ini adalah lanjutan dari ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang kekuasaan dan keesaan Allah sebagai Tuhan semesta alam.
(2) Firman-Nya,
وَهُوَ ٱلَّذِی یُرۡسِلُ ٱلرِّیَـٰحَ بُشۡرَۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِهِۦۖ
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan).”
(a) Kata (بُشۡرَۢا) maksudnya adalah kabar gembira. Karena angin yang membawa awan adalah tanda-tanda turunnya hujan, sesuatu yang sangat menggembirakan manusia.
(b) Kata (رَحۡمَتِهِۦۖ) ‘rahmat-Nya’, maksudnya di sini adalah hujan. Hujan adalah salah satu bentuk rahmat Allah yang bisa dilihat dan dirasakan oleh manusia bahkan oleh hewan dan tumbuh-tumbuhan.
(c) Angin sebagai wujud rahmat Allah kepada manusia telah dijelaskan di dalam hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
الرِّيحُ مِن رَوحِ اللهِ تأتي بالرَّحمةِ وتأتي بالعذابِ فلا تسبُّوها وسَلُوا اللهَ خيرَها واستعيذوا مِن شرِّها
“Angin itu dari rahmat Allah. Terkadang angin datang bersama rahmat Allah dan terkadang datang dengan membawa siksa. Maka jika kalian melihatnya janganlah mencela, mohonlah kepada Allah akan kebaikannya, dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya.” (HR. Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh al-Arnauth dan al-Albani)
(3) Ayat-ayat yang kandungan nya mirip dengan ayat di atas adalah sebagai berikut;
(a) Firman-Nya,
وَمِنۡ ءَایَـٰتِهِۦۤ أَن یُرۡسِلَ ٱلرِّیَاحَ مُبَشِّرَ ٰتࣲ وَلِیُذِیقَكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ وَلِتَجۡرِیَ ٱلۡفُلۡكُ بِأَمۡرِهِۦ وَلِتَبۡتَغُوا۟ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahn kamu bersyukur.” (Qs. ar-Rum: 46)
(b) Firman-Nya,
وَهُوَ ٱلَّذِی یُنَزِّلُ ٱلۡغَیۡثَ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُوا۟ وَیَنشُرُ رَحۡمَتَهُۥۚ وَهُوَ ٱلۡوَلِیُّ ٱلۡحَمِیدُ
“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (Qs. asy-Syura: 28)
(4) Firman-Nya,
حَتَّىٰۤ إِذَاۤ أَقَلَّتۡ سَحَابࣰا ثِقَالࣰا
“Hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung.”
Kata (ثِقَالࣰا) artinya berat. Angin membawa awan yang berat karena mengandung air yang sangat banyak. Ini sesuatu yang luar biasa karena beberapa hal, sebagai berikut:
(a) Awan yang kelihatan ringan, empuk, dan lembut itu ternyata bisa membawa air yang begitu banyak dan sangat berat.
Berdasarkan perhitungan yang dibuat oleh Margaret LeMone, ilmuwan atmosfer dari National Center for Atmospheric Research, Colorado, Amerika Serikat, awan tersebut memiliki berat sekitar 550 ton.
(b) Awan seberat itu bisa berjalan di udara tanpa ada mesin yang menggerakkan maupun penopang di bawahnya agar tidak jatuh.
(c) Tiupan angin bisa mendorong awan seberat itu dan menggiringnya ke atas bumi yang tandus. Bayangkan betapa kuatnya tenaga angin tersebut.
(5) Firman-Nya,
سُقۡنَـٰهُ لِبَلَدࣲ مَّیِّتࣲ
“Kami halau ke suatu daerah yang tandus.”
(a) Kata (مَّیِّتࣲ) ‘mati’, maksudnya di sini adalah tanah tandus yang jika ditanami suatu tanaman, maka tanaman tersebut tidak bisa hidup, maka disebut dengan tanah mayit.
Ini mirip dengan firman-Nya,
وَآيَةٌ لَهُمُ الأرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.” (Qs. Yasin: 33)
(b) Kandungan ayat ini mirip dengan kandungan di dalam firman Allah,
وَٱللَّهُ ٱلَّذِیۤ أَرۡسَلَ ٱلرِّیَـٰحَ فَتُثِیرُ سَحَابࣰا فَسُقۡنَـٰهُ إِلَىٰ بَلَدࣲ مَّیِّتࣲ فَأَحۡیَیۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ كَذَ ٰلِكَ ٱلنُّشُورُ
“Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.” (Qs. Fathir: 9)
(6) Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa Allah mempermisalkan wahyu yang turun dari langit bagaikan air hujan yang turun dari langit. Dan hati manusia yang menerima wahyu bagaikan bumi yang menerima air hujan. Keduanya, yaitu wahyu dan hujan mengubah hati dan tanah menjadi hidup.
Oleh karenanya, hati yang menerima wahyu dan mengambil manfaat darinya, sehingga menjadi tenang dan tentram, seperti tanah yang subur ketika menerima guyuran hujan, ia akan tumbuh dan berkembang kemudian berubah memberikan manfaat kepada lingkungannya. Sedangkan hati yang tidak bisa mengambil manfaat dari wahyu bagaikan tanah yang gersang, walaupun turun hujan, ia tidak bisa menumbuhkan pepohonan.
(7) Firman-Nya,
كَذَ ٰلِكَ نُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ
“Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”
(a) Al-Qasimi menyebutkan bahwa Allah menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati dan membangkitkannya dari kuburan dengan cara menurunkan air hujan dari langit yang mengguyur bumi selama 40 hari. Dari situ mayit-mayit dari kuburan bangkit ke permukaan tanah, sebagaimana munculnya biji-bijian dari tanah.
(b) Menurut riwayat Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas bahwa ketika ditiup sangkakala yang pertama, maka seluruh manusia akan mati. Kemudian Allah akan menurunkan hujan yang berasal dari air di bawah ‘Arsy yang disebut dengan air kehidupan. Dengan air itu, manusia yang berada di dalam kuburan akan tumbuh seperti tumbuhnya pepohonan. Setelah sempurna jasad mereka, maka Allah akan mengirim roh ke dalam tubuh mereka dan diberi rasa kantuk, sehingga mereka tidur di dalam kuburan. Ketika sangkakala ditiup untuk kedua kalinya, mereka akan bangun dari kuburannya seakan mereka baru bangun dari tidur yang panjang dan mengatakan sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya,
قَالُوا۟ یَـٰوَیۡلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرۡقَدِنَاۜۗ هَـٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ وَصَدَقَ ٱلۡمُرۡسَلُونَ
“Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya).” (Qs. Ya-Sin: 52)
(c) Hadist Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ -أَوْ قالَ: يُنْزِلُ اللَّهُ- مَطَرًا كَأنَّهُ الطَّلُّ -أَوِ الظِّلُّ؛ نُعْمانُ الشّاكُّ- فَتَنْبُتُ منه أَجْسادُ النّاسِ، ثُمَّ يُنْفَخُ فيه أُخْرى، فَإِذا هُمْ قِيامٌ يَنْظُرُونَ، ثُمَّ يُقالُ: يا أَيُّها النّاسُ، هَلُمَّ إلى رَبِّكُمْ، وَقِفُوهُمْ إنَّهُمْ مَسْؤُولونَ
“Setelah itu Allah mengirim -atau bersabda: Menurunkan- hujan seperti hujan rintik-rintik kemudian tubuh manusia bermunculan, 'Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)." (Az Zumar: 68) setelah itu beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, kemarilah menuju Rabb kalian 'Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) Karena Sesungguhnya mereka akan ditanya." (Ash Shaaffaat: 24)” (HR.Muslim)
Pelajaran (2) Tanda Subur dan Tanah Gersang
وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَٱلَّذِی خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ إِلَّا نَكِدࣰاۚ كَذَ ٰلِكَ نُصَرِّفُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لِقَوۡمࣲ یَشۡكُرُونَ
“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Qs. al-A'raf: 58)
(1) Berkata Ibnu Katsir, “Tanah yang subur akan menumbuhkan tanaman secara cepat dan baik.”
Ini mirip dengan firman-Nya,
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا
“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik.” (Qs. Ali Imran: 37)
Di sini Ibnu Katsir menganalogikan cepatnya pertumbuhan tanaman di atas tanah yang subur dengan cepatnya pertumbuhan Maryam di dalam pengawasan Nabi Zakariya.
(2) Para ulama menyebutkan makna yang terkandung dalam ayat ini diantaranya:
(a) Ini adalah perumpamaan antara hati yang mau menerima nasehat atau peringatan dan hati yang tidak mau menerimanya.
(b) Ini adalah perumpamaan seorang mukmin yang mendengar al-Qur’an, kemudian memahaminya dan mengamalkannya, serta mendakwahkannya. Dia mampu mengambil manfaat dari al-Qur’an tersebut. Adapun tanah yang tandus adalah perumpamaan orang munafik yang tidak bisa mengambil manfaatkan sedikitpun dari al-Qur’an.
(c) Ini adalah perumpamaan antara seorang mukmin yang beramal karena Allah dan mencari pahalanya dan hati orang munafik yang beramal karena riya’.
(3) Di dalam hadits Abu Musa al-‘Asy'ari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
مَثَلُ ما بَعَثَنِي اللَّهُ به مِنَ الهُدى والعِلْمِ، كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أصابَ أرْضًا، فَكانَ مِنْها نَقِيَّةٌ، قَبِلَتِ الماءَ، فأنْبَتَتِ الكَلَأَ والعُشْبَ الكَثِيرَ، وكانَتْ مِنْها أجادِبُ، أمْسَكَتِ الماءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بها النّاسَ، فَشَرِبُوا وسَقَوْا وزَرَعُوا، وأَصابَتْ مِنْها طائِفَةً أُخْرى، إنَّما هي قِيعانٌ لا تُمْسِكُ ماءً ولا تُنْبِتُ كَلَأً، فَذلكَ مَثَلُ مَن فَقُهَ في دِينِ اللَّهِ، ونَفَعَهُ ما بَعَثَنِي اللَّهُ به فَعَلِمَ وعَلَّمَ، ومَثَلُ مَن لَمْ يَرْفَعْ بذلكَ رَأْسًا، ولَمْ يَقْبَلْ هُدى اللَّهِ الذي أُرْسِلْتُ بهِ.
“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun mengenai tanah. Diantara tanah itu ada jenis yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan di antaranya ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang) sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan yang lain ada permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. perumpamaan itu adalah seperti orang yang faham agama Allah dan dapat memanfa'atkan apa yang aku diutus dengannya, dia mempelajarinya dan mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat derajat dan tidak menerima hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
(4) Kandungan ayat di atas juga mirip dengan kandungan di dalam firman-Nya,
أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَاۤءࣰ فَسَالَتۡ أَوۡدِیَةُۢ بِقَدَرِهَا فَٱحۡتَمَلَ ٱلسَّیۡلُ زَبَدࣰا رَّابِیࣰاۖ وَمِمَّا یُوقِدُونَ عَلَیۡهِ فِی ٱلنَّارِ ٱبۡتِغَاۤءَ حِلۡیَةٍ أَوۡ مَتَـٰعࣲ زَبَدࣱ مِّثۡلُهُۥۚ كَذَ ٰلِكَ یَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ وَٱلۡبَـٰطِلَۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَیَذۡهَبُ جُفَاۤءࣰۖ وَأَمَّا مَا یَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَیَمۡكُثُ فِی ٱلۡأَرۡضِۚ كَذَ ٰلِكَ یَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Qs. ar-Ra'd: 17)
***
Karawang, Ahad, 15 Oktober 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »