Tafsir An-Najah (Qs. 7: 59-64) Dakwah Nabi Nuh

لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤ إِنِّیۤ أَخَافُ عَلَیۡكُمۡ عَذَابَ یَوۡمٍ عَظِیمࣲ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”
(Qs. al-A'raf: 59)
Pelajaran (1) Persesuaian Ayat
(1) Di awal surat disebutkan kisah penciptaan Nabi Adam dan permusuhan Iblis kepadanya. Kemudian Allah melanjutkan pada ayat ini dengan kisah para nabi dan rasul sesudahnya yang juga dimusuhi oleh para pengikut Iblis dari kalangan manusia.
(2) Pada ayat sebelumnya dijelaskan tentang bukti-bukti keesaan Allah di alam semesta ini, beserta perintah beribadah kepada-Nya. Kemudian pada ayat ini dijelaskan tentang kisah para nabi yang mengajak kaumnya untuk beribadah kepada-Nya saja.
(3) Ayat ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa penentangan terhadap kebenaran bukan hanya terjadi pada zaman Nabi Muhammad ﷺ saja, tetapi juga terjadi pada umat-umat terdahulu. Sekaligus sebagai hiburan untuk Nabi Muhammad ﷺ, bahwa beliau dalam hal ini tidak sendiri.
Pelajaran (2) Nasab Nabi Nuh
لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya.”
(1) Dia adalah Nuh bin Lamik bin Mutusyalikh bin Akhnukh (Nabi Idris) bin Burd bin Mahlil bin Qanin bin Yanisy bin Syis bin Adam.
(2) Dia adalah rasul pertama yang diutus. Pada waktu diutus umurnya adalah 40 tahun. Dinamakan Nuh, karena sering meratapi dirinya sendiri. Mengapa sering meratapi dirinya sendiri?
(a) Karena pernah mendoakan kehancuran kaumnya, sebagaimana dalam firman-Nya,
وَقَالَ نُوحࣱ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَـٰفِرِینَ دَیَّارًا
“Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (Qs. Nuh: 26)
(b) Karena pernah meminta ampunan untuk anaknya Kan'an, kemudian mendapat teguran dari Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya,
وَنَادَىٰ نُوحࣱ رَّبَّهُۥ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ٱبۡنِی مِنۡ أَهۡلِی وَإِنَّ وَعۡدَكَ ٱلۡحَقُّ وَأَنتَ أَحۡكَمُ ٱلۡحَـٰكِمِینَ }قَالَ یَـٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَیۡسَ مِنۡ أَهۡلِكَۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَیۡرُ صَـٰلِحࣲۖ فَلَا تَسۡـَٔلۡنِ مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۖ إِنِّیۤ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلۡجَـٰهِلِینَ
“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya." Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan".” (Qs. Hud: 45- 46)
(3) Menurut Ibnu ‘Abbas bahwa jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh sekitar 10 abad.
Pelajaran (3) Dakwah Nabi Nuh
فَقَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤ
“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.”
(1) Dakwah Nabi Nuh adalah mengajak kepada tauhid, menyembah hanya kepada Allah. Ini sesuai dakwah Nabi Muhammad ﷺ juga. Allah berfirman,
وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".” (Qs. al-Anbiya': 25)
Juga dengan firman-Nya,
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى ٱللَّهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَیۡهِ ٱلضَّلَـٰلَةُۚ فَسِیرُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُوا۟ كَیۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِینَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Qs. an-Nahl: 36)
(2) Dahulu sebelum Nabi Nuh, manusia semuanya menyembah Allah. Kemudian beberapa orang shalih meninggal dunia. Untuk mengenang jasa mereka dan agar manusia mengikuti jejak mereka, maka masyarakat membuat patung-patung mereka. Setelah berlalu beberapa generasi, akhirnya mereka menyembah patung-patung tersebut dan memberi nama dengan nama-nama orang shalih seperti: Wadda, Suwa'a, Ya'uqa, Yaghutsa, Nasra.
Hal ini telah disebutkan di dalam firman-Nya,
وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ وَلَا تَذَرُنَّ وَدࣰّا وَلَا سُوَاعࣰا وَلَا یَغُوثَ وَیَعُوقَ وَنَسۡرࣰا
“Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr.” (Qs. Nuh: 23)
Setelah itu, diutuslah Nabi Nuh untuk mengajak mereka agar menyembah Allah dan meninggal segala bentuk kesyirikan.
(3) Umur dakwah Nabi Nuh kepada kaumnya selama 950 tahun, sebagaimana dalam firman-Nya,
وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَلَبِثَ فِیهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِینَ عَامࣰا فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ وَهُمۡ ظَـٰلِمُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Qs. al-Ankabut: 14)
(4) Firman-Nya,
إِنِّیۤ أَخَافُ عَلَیۡكُمۡ عَذَابَ یَوۡمٍ عَظِیمࣲ
“Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”
Ayat ini menunjukkan bahwa kesyirikan akan berdampak turunnya adzab Allah yang sangat pedih. Sebaliknya Tauhid membawa rasa aman dan ketentraman, sebagaimana di dalam firman-Nya:
(a) Allah berfirman,
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلࣰا قَرۡیَةࣰ كَانَتۡ ءَامِنَةࣰ مُّطۡمَىِٕنَّةࣰ یَأۡتِیهَا رِزۡقُهَا رَغَدࣰا مِّن كُلِّ مَكَانࣲ فَكَفَرَتۡ بِأَنۡعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَ ٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلۡجُوعِ وَٱلۡخَوۡفِ بِمَا كَانُوا۟ یَصۡنَعُونَ ۞ وَلَقَدۡ جَاۤءَهُمۡ رَسُولࣱ مِّنۡهُمۡ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ ٱلۡعَذَابُ وَهُمۡ ظَـٰلِمُونَ ۞
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Qs. an-Nahl: 112-113)
(b) Allah juga berfirman,
وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰۤ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوۡا۟ لَفَتَحۡنَا عَلَیۡهِم بَرَكَـٰتࣲ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذۡنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ یَكۡسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. al-A’raf: 96)
Pelajaran (4) Tuduhan Orang Kafir
قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِهِۦۤ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینࣲ
“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. al-A’raf: 60)
(1) Firman-Nya,
قَالَ ٱلۡمَلَأُ مِن قَوۡمِهِۦۤ
“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata”
Menunjukkan bahwa yang paling sering menentang dakwah para nabi dan ulama adalah para pembesar, pejabat dan para pemegang kekuasaan serta orang-orang kaya dari kalangan mereka. Pasalnya, mereka takut kehilangan kekuasaan, pengaruh, dan kekayaan mereka.
(2) Firman-Nya,
إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِی ضَلَـٰلࣲ مُّبِینࣲ
“Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.”
Menunjukkan bahwa orang-orang kafir, terutama para pemimpin mereka menuduh orang-orang beriman yang selalu mengajak untuk menyembah Allah adalah orang-orang yang sesat. Karena dianggap telah merusak tatanan masyarakat yang selama ini sudah mapan dan dianggap tidak menghormati adat istiadat nenek moyang mereka yang sudah berlaku turun temurun.
(2) Hal ini diterangkan di banyak tempat dalam al-Qur’an, diantaranya:
(a) Firman-Nya,
وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلاءِ لَضَالُّونَ﴾ [الْمُطَفِّفِينَ:٣٢]
“Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat".” (Qs. al-Muthaffifin: 32)
(b) Firman-Nya,
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ
“Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Kalau sekiranya di (al-Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: "Ini adalah dusta yang lama".” (Qs. al-Ahqaf: 11)
Pelajaran (5) Pembelaan Nabi Nuh
قَالَ یَـٰقَوۡمِ لَیۡسَ بِی ضَلَـٰلَةࣱ وَلَـٰكِنِّی رَسُولࣱ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ
“Nuh menjawab: "Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam".” (Qs. al-A’raf: 60)
(1) Ayat ini menunjukkan kebolehan, bahkan anjuran untuk melakukan pembelaan diri ketika para pendakwah dan pembawa kebenaran dituduh sesat, gila, terkena sihir, pemberontak, teroris, pemecah belah bangsa dan berbagai julukan jelek lainnya.
(2) Nabi Yusuf juga membela diri ketika dituduh bahwa dirinya ingin berbuat tidak senonoh dengan istri pembesar Mesir. Kemudian menjelaskan masalah yang sebenarnya. Allah berfirman,
قَالَ هِیَ رَ ٰوَدَتۡنِی عَن نَّفۡسِیۚ وَشَهِدَ شَاهِدࣱ مِّنۡ أَهۡلِهَاۤ إِن كَانَ قَمِیصُهُۥ قُدَّ مِن قُبُلࣲ فَصَدَقَتۡ وَهُوَ مِنَ ٱلۡكَـٰذِبِینَ ۞ وَإِن كَانَ قَمِیصُهُۥ قُدَّ مِن دُبُرࣲ فَكَذَبَتۡ وَهُوَ مِنَ ٱلصَّـٰدِقِینَ ۞
“Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar".” (Qs. Yusuf: 26-27)
(3) Pada ayat ini disebutkan bahwa Nabi Nuh adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Yaitu Tuhan yang merawat dan mengasuh seluruh makhluk di dunia ini. Salah satu bentuk perhatian yang paling utama, menurut as-Sa'di adalah mengutus para rasul untuk mengajak mereka kepada amal perbuatan yang baik dan akhlak yang mulia.
Pelajaran (6) Tabligh dan Nashih
أُبَلِّغُكُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّی وَأَنصَحُ لَكُمۡ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
“Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. al-A’raf: 62)
(1) Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu tugas seorang rasul adalah menyampaikan wahyu Allah (tabligh) dan menasehati kaumnya agar mengikuti petunjuk Allah (nashih). Ini sesuai dengan hadist Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat tentang tugas kenabian yang diembannya,
فَما أَنْتُمْ قائِلُونَ؟ قالوا: نَشْهَدُ أنَّكَ قدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحتَ،
“Kalian semua akan ditanya mengenai diriku, lalu bagaimana nanti jawab kalian?" mereka menjawab: "Kami bersaksi bahwa Anda benar-benar telah menyampaikan risalah, Anda telah menunaikan tugas dan telah memberi nasehat kepada kami".” (HR. Muslim)
(2) Ayat di atas juga menunjukkan bahwa para nabi lebih mengetahui tentang Allah dan lebih mengetahui tentang kebahagiaan hidup serta cara menuju surga. Oleh karenanya, masyarakat harus mengikuti petunjuk mereka.
Pelajaran (7) Mereka Merasa Heran
أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَاۤءَكُمۡ ذِكۡرࣱ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلࣲ مِّنكُمۡ لِیُنذِرَكُمۡ وَلِتَتَّقُوا۟ وَلَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ
“Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?” (Qs. al-A’raf: 63)
(1) Firman-Nya,
أَوَعَجِبۡتُمۡ
“Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran”
Keheranan mereka barangkali muncul disebabkan keyakinan mereka bahwa rasul yang diutus itu semestinya dari orang yang hebat di luar kalangan mereka, seperti malaikat.
(2) Keheranan mereka itu terhadap kedatangan dari kalangan mereka sendiri, juga direkam dalam ayat-ayat lain:
(a) Firman-Nya,
كانَ لِلنّاسِ عَجَبًا أنْ أوْحَيْنا إلى رَجُلٍ مِنهم أنْ أنْذِرِ النّاسَ
“Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka: "Berilah peringatan kepada manusia.” (Qs. Yunus: 2)
(b) Firman-Nya,
بَلْ عَجِبُوا أنْ جاءَهم مُنْذِرٌ مِنهُمْ
“(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir: "Ini adalah suatu yang amat ajaib".” (Qs. Qaf: 2)
(3) Firman-Nya,
أَن جَاۤءَكُمۡ ذِكۡرࣱ مِّن رَّبِّكُمۡ
“Datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu.”
Kata (ذِكۡرࣱ) di sini artinya adalah nasehat atau penjelasan.
(4) Firman-Nya,
عَلَىٰ رَجُلࣲ مِّنكُمۡ
“Dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu.”
(a) Ayat ini menyebutkan bahwa rasul yang diutus adalah orang yang berasal dari kalangan kaumnya sendiri. Hikmahnya agar mereka bisa mengambil contoh secara langsung dari dirinya.
(b) Bisa juga dimaknai bahwa rasul yang diutus adalah seorang manusia seperti mereka, bukan dari kalangan malaikat. Karena kalau dari malaikat, manusia akan sulit untuk mengikuti jejak mereka. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya,
وَمَا مَنَعَ ٱلنَّاسَ أَن یُؤۡمِنُوۤا۟ إِذۡ جَاۤءَهُمُ ٱلۡهُدَىٰۤ إِلَّاۤ أَن قَالُوۤا۟ أَبَعَثَ ٱللَّهُ بَشَرࣰا رَّسُولࣰا ۞ قُل لَّوۡ كَانَ فِی ٱلۡأَرۡضِ مَلَـٰۤىِٕكَةࣱ یَمۡشُونَ مُطۡمَىِٕنِّینَ لَنَزَّلۡنَا عَلَیۡهِم مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ مَلَكࣰا رَّسُولࣰا ۞
“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?" Katakanlah: "Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul".” (Qs. al-Isra': 94-95)
(5) Firman-Nya,
وَلِتَتَّقُوا۟ وَلَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ
“Dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat.”
Ini menunjukkan bahwa ketaqwaan menyebabkan turunnya rahmat Allah, sebagaimana firman-Nya,
وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰۤ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوۡا۟ لَفَتَحۡنَا عَلَیۡهِم بَرَكَـٰتࣲ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذۡنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ یَكۡسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. al-A'raf: 96)
Pelajaran (8) Kaum yang Buta
فَكَذَّبُوهُ فَأَنجَیۡنَـٰهُ وَٱلَّذِینَ مَعَهُۥ فِی ٱلۡفُلۡكِ وَأَغۡرَقۡنَا ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَاۤۚ إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ قَوۡمًا عَمِینَ
“Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (Qs. al-A’raf: 64)
(1) Firman-Nya,
فَأَنجَیۡنَـٰهُ وَٱلَّذِینَ مَعَهُۥ فِی ٱلۡفُلۡكِ
“Kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera.”
(a) Pada ayat ini disebutkan terlebih dahulu selamatnya orang-orang beriman yang bersama Nuh, padahal selamatnya mereka terjadi setelah tenggelam orang-orang kafir. Apa hikmahnya? Menurut Ibnu ‘Asyur hal itu untuk menyegerakan berita gembira kepada orang-orang beriman bahwa mereka akan selamat ketika Allah menjatuhkan siksa kepada orang-orang kafir.
(b) Ibnu Athiyah menyebutkan bahwa yang ikut berlayar di kapal Nabi Nuh berjumlah 40 orang, termasuk ketiga anaknya, yaitu Sam, Ham dan Yafits. Sebagian yang lain mengatakan jumlahnya 80 orang.
(2) Firman-Nya,
إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ قَوۡمًا عَمِینَ
“Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).”
Maksud buta di sini adalah:
(a) Buta terhadap kebenaran.
(b) Buta bahwa Allah mampu menurunkan adzab kepada mereka. Berkata Ibnu ‘Abbas, “Hati mereka buta tentang Ma'rifatullah, Kemampuan-Nya dan dahsyatnya siksa yang akan diturunkan-Nya.”
***
Karawang, Jumat 20 Oktober 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »