Karya Tulis
95 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 65-72) Dakwah Nabi Hud


وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمۡ هُودࣰاۚ قَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’”

(Qs. al-A’raf: 65)

 

Pelajaran (1) Kaum 'Ad

(1) Kaum 'Ad adalah keturunan dari 'Ad bin Iram bin 'Aush bin Sam bin Nuh. Ath-Thabari menyebutkan bahwa Kaum 'Ad tinggal di Hadhramaut, Yaman, tepatnya di Ahqaf.

Al-Ahqaf adalah sebuah lembah pasir yang dikelilingi gunung-gunung yang terletak antara Hadramaut dan Oman. Al-Ahqaf ini disebutkan di dalam firman Allah,

وَٱذۡكُرۡ أَخَا عَادٍ إِذۡ أَنذَرَ قَوۡمَهُۥ بِٱلۡأَحۡقَافِ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَیۡنِ یَدَیۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦۤ أَلَّا تَعۡبُدُوۤا۟ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّیۤ أَخَافُ عَلَیۡكُمۡ عَذَابَ یَوۡمٍ عَظِیمࣲ

“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): "Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar".” (Qs. al-Ahqaf: 21)

Kaum 'Ad terdiri dari 10 atau 13 suku yang semuanya sudah punah.

(2)  Tempat tinggal kaum 'Ad dikelilingi kebun-kebun yang subur, tetapi mereka tidak pandai bersyukur dengan nikmat tersebut. Allah berfirman,

وَٱتَّقُوا۟ ٱلَّذِیۤ أَمَدَّكُم بِمَا تَعۡلَمُونَ ۞ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَـٰمࣲ وَبَنِینَ ۞ وَجَنَّـٰتࣲ وَعُیُونٍ ۞

“Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air.” (Qs. asy-Syu'ara: 132-134)

(3) Kaum 'Ad di sini sering juga disebut dengan 'Ad Pertama. Sedang 'Ad Kedua, menurut Siddiq Khan adalah kaum Tsamud jarak antara kedua sekitar 100 tahun. Sedangkan menurut az-Zuhaili adalah penduduk Yaman dari Qahthan dan Saba'.

Kaum 'Ad pertama tersebut di dalam beberapa ayat, diantaranya:

(a) Firman-Nya,

وَأَنَّهُۥۤ أَهۡلَكَ عَادًا ٱلۡأُولَىٰ

“Dan bahwasanya Dia telah membinasakan kaum 'Ad yang pertama” (Qs. an-Najm: 50)

(b) Firman-Nya,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ ۞ إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ ۞ الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلادِ

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.” (Qs. al-Fajr: 6-8)

(c) Firman-Nya,

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ.

“Adapun kaum 'Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: "Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?" Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.” (Qs. Fushshilat: 15)

(4) Sedangkan Nabi Hud, nama lengkapnya menurut al-Qurthubi adalah Hud bin ‘Abdullah bin Ribah bin Julud bin 'Ad bin 'Aush bin Iram bin Sam bin Nuh

Beliau adalah orang yang paling mulia nasabnya di antara kaumnya. Allah memilih para rasul dari orang terbaik dari kaumnya.

Jarak antara Nabi Hud dan Nabi Nuh sekitar 800 tahun. Sedang umur Nabi Hud 464 tahun. Beliau diperintah untuk meninggalkan kediaman kaum 'Ad sebelum datangnya siksaan dan bencana. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi Hud dikuburkan di Hadhramaut.

(5) Kata (الأخ) di sini artinya saudara dalam satu kabilah. Sebagian ulama mengatakan saudara satu bapak yaitu Adam as. Menurut Ibnu Asyur (الأخ) di sini bisa diartikan seseorang yang selalu bersamanya seperti yang tersebut di dalam firman-Nya,

إنَّ المُبَذِّرِينَ كانُوا إخْوانَ الشَّياطِينِ

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Qs. al-Isra’: 27)

Begitu juga disebut (أخُو الحَرْبِ) karena seseorang sering berperang. Artinya Nabi Hud selalu bersama kaum 'Ad sehingga disebut saudara mereka. Di sini perlu digarisbawahi bahwa sebutan 'saudara' hanya disematkan kepada Nabi Hud, bukan kepada Nabi Nuh. Hal itu karena pada zaman Nabi Nuh belum muncul kabilah-kabilah sebagaimana yang terjadi pada zaman Nabi Hud

(6) Firman-Nya,

قَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۤۚ

Dakwah Nabi Hud berisi tentang tauhid, yaitu mengajak kaumnya agar menyembah Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

(7) Kemudian ayat ini ditutup dengan pertanyaan yang menunjukkan pengingkaran,

أَفَلَا تَتَّقُون

“Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”

Ini menunjukkan bahwa pesan dari ketakwaan adalah tauhid dan menjauhi kesyirikan.

 

Pelajaran (2) Kurang Akal

قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ مِن قَوۡمِهِۦۤ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِی سَفَاهَةࣲ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَـٰذِبِینَ

“Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami benar benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang orang yang berdusta".” (Qs. al-A’raf: 66)

(1) Kata (ٱلۡمَلَأُ) para pembesar. Makna aslinya adalah penuh. Menurut al-Biqai, disebut demikian karena kehadiran mereka memenuhi mata masyarakat dengan kewibaan dan kehormatan.

(2) Kaum 'Ad menuduh Nabi Hud sebagai orang yang kurang akal dan pembohong.

Kata (سَفَاهَةࣲ) artinya kurang akal. Kata ini disebutkan secara nakirah karena disertai tanwin mengesankan penghinaan yang mendalam kepada Nabi Hud.

(3) Pada ayat ini disebutkan bahwa Kaum 'Ad menuduh Nabi Hud sebagai orang yang berbohong (مِنَ ٱلۡكَـٰذِبِینَ) mengaku sebagai rasul, karena mereka mengetahui bahwa sebelumnya terdapat rasul yang diutus yaitu Nabi Nuh. Sedangkan kaum Nabi Nuh menuduh Nabi Nuh sebagai orang sesat, karena mereka belum pernah mengenal sekarang rasul pun.

 

Pelajaran (3) Etika Seorang Nabi

قَالَ یَـٰقَوۡمِ لَیۡسَ بِی سَفَاهَةࣱ وَلَـٰكِنِّی رَسُولࣱ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ

“Hud herkata "Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam.” (Qs. al-A’raf: 67)

(1) Berkata Ibnu al-Jauzi bahwa ayat ini menunjukkan adab dan etika dari seorang Nabi ketika dituduh sebagai orang yang bodoh, dia cukup menjawab dengan mengatakan, “Saya bukan orang bodoh”, tanpa membalas kepada lawan bicara dengan tuduhan serupa.

(2) Jawaban: “Tetapi saya adalah utusan dari Tuhan semesta alam”, menurut Siddiq Khan ini mengandung makna bahwa Nabi Hud adalah orang yang sangat sempurna akalnya karena merupakan utusan Tuhan yang menciptakan alam ini.

 

 Pelajaran (4) Tiga Sifat Nabi

أُبَلِّغُكُمۡ رِسَـٰلَـٰتِ رَبِّی وَأَنَا۠ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِینٌ

“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu".” (Qs. al-A’raf: 68)

(1) Terdapat tiga sifat Nabi Hud dalam ayat ini, yaitu: tabligh, nashih dan amin.

Adapun ‘Amin’, maksudnya adalah sangat amanah dalam memegang, menjalankan dan menyampaikan wahyu.

Berkata Ibnu Katsir, “Inilah sifat-sifat yang dimiliki oleh para rasul, yaitu al-Balaghah, an-Nushu, dan al-Amanah.”

(2) Ayat ini menunjukkan kebolehan seseorang untuk menerangkan keadaan yang sebenarnya tentang dirinya dengan tujuan membersihkan dirinya dari tuduhan yang disematkan kepadanya. Sehingga tidak perlu membalas kepada lawan bicara dengan melempar tuduhan yang serupa.

Inilah adalah akhlak dari ‘Ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman) sebagaimana firman-Nya,

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلَّذِینَ یَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنࣰا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَـٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَـٰمࣰا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Qs. al-Furqan: 63)

(3) Menurut Siddiq Khan, perbedaan keterangan Nabi Nuh dengan keterangan yang disampaikan Nabi Hud, bahwa Nabi Nuh menggunakan kata kerja yang menunjukkan kesinambungan karena Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya secara terus menerus tanpa mengenal lelah siang dan malam, sebagaimana yang digambarkan di dalam firman-Nya,

قَالَ رَبِّ إِنِّی دَعَوۡتُ قَوۡمِی لَیۡلࣰا وَنَهَارࣰا

“Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang.” (Qs. Nuh: 5)

Sedangkan Nabi Hud menggunakan kata benda yang menunjukkan adanya jeda dalam berdakwah.

Oleh karenanya, tak ayal jika Nabi Nuh dimasukkan dalam Ulul ‘Azmi (golongan para nabi yang mempunyai kemauan kuat).

 

Pelajaran (5) Mengingat Nikmat Allah

أَوَعَجِبۡتُمۡ أَن جَاۤءَكُمۡ ذِكۡرࣱ مِّن رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلࣲ مِّنكُمۡ لِیُنذِرَكُمۡۚ وَٱذۡكُرُوۤا۟ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَاۤءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحࣲ وَزَادَكُمۡ فِی ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةࣰۖ فَٱذۡكُرُوۤا۟ ءَالَاۤءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Qs. al-A'raf: 69)

(1) Keheranan mereka atas diutusnya Nabi Hud, seperti keheranan kaum Quraisy terhadap apa yang disampaikan Nabi Muhammad ﷺ tentang tauhid. Allah berfirman,

أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Qs. Shad: 5)

(2) Firman-Nya,

وَٱذۡكُرُوۤا۟ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَاۤءَ مِنۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحࣲ

“Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh.”

Dalam ayat ini disebutkan dua nikmat Allah yang diberikan kepada Kaum 'Ad yaitu (pertama), diberikan kesempatan untuk hidup dengan berbagai fasilitas yang Allah berikan kepada mereka berupa tanah yang subur dan tempat yang nyaman. Ini terjadi, setelah sebelumnya Allah menghancurkan kaum Nabi Nuh dengan banjir bandang yang memusnahkan manusia di muka bumi ini.

(3) Firman-Nya,

وَزَادَكُمۡ فِی ٱلۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةࣰۖ

“Dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu).”

Nikmat (kedua) adalah mereka diberikan kekuatan fisik yang luar biasa dan postur tubuh yang tinggi. Bahkan menurut Ibnu Abbas, tinggi mereka antara 60 sampai 100 hasta.

Ini mirip dengan apa yang diberikan Allah kepada Thalut yang tersebut di dalam firman-Nya,

وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ

“Menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” (Qs. al-Baqarah: 237)

Karena kuatnya fisik mereka sampai mereka mengatakan, “Siapa yang lebih kuat fisiknya dari kami?” Allah berfirman,

فَأَمَّا عَادࣱ فَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ بِغَیۡرِ ٱلۡحَقِّ وَقَالُوا۟ مَنۡ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةًۖ أَوَلَمۡ یَرَوۡا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِی خَلَقَهُمۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُمۡ قُوَّةࣰۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا یَجۡحَدُونَ

“Adapun kaum 'Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: "Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?" Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.” (Qs. Fushshilat: 15)

(4) Firman-Nya,

فَٱذۡكُرُوۤا۟ ءَالَاۤءَ ٱللَّهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Mengingat nikmat Allah menyebabkan seseorang bisa lebih bersyukur kepada Allah. Sedangkan bersyukur kepada Allah menyebabkan seseorang akan mendapatkan kemenangan.

 

Pelajaran (6) Adat Istiadat Nenek Moyang

قَالُوۤا۟ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ یَعۡبُدُ ءَابَاۤؤُنَا فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَاۤ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّـٰدِقِینَ

“Mereka berkata: "Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar".” (Qs. al-A'raf: 70)

(1) Kaum 'Ad menolak ajakan Nabi Hud untuk  menyembah Allah  dengan alasan bahwa hal itu bertentangan dengan adat istiadat nenek moyang mereka.  Hal ini terjadi juga pada Abu Thalib paman Nabi Muhammad ﷺ yang menolak untuk mengucapkan syahadat, karena terpengaruh dengan perkataan para pembesar Quraisy yang berada di sekelilingnya, agar Abu Thalib tidak meninggalkan agama nenek moyangnya.

(2) Mereka menantang Allah dan meminta agar Nabi Hud mendatangkan siksa yang diancamkan kepada mereka. Ini mirip dengan permintaan kaum Quraisy agar ditimpakan siksa atas mereka. Allah berfirman,

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih".” (Qs. al-Anfal: 32)

 

Pelajaran (7) Terkena Murka Allah

قَالَ قَدۡ وَقَعَ عَلَیۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ رِجۡسࣱ وَغَضَبٌۖ أَتُجَـٰدِلُونَنِی فِیۤ أَسۡمَاۤءࣲ سَمَّیۡتُمُوهَاۤ أَنتُمۡ وَءَابَاۤؤُكُم مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَـٰنࣲۚ فَٱنتَظِرُوۤا۟ إِنِّی مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُنتَظِرِینَ

“Ia berkata: "Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu." Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yamg menunggu bersama kamu".” (Qs. al-A'raf: 71)

(1) Menurut al-Qasimi bahwa kata (رِجۡسࣱ) maksudnya adalah siksa. Kata (رِجۡسࣱ) maknanya sama dengan kata (رجز) hanya diganti hurus (س) dengan (ز). Ini seperti kata (الأسد) dan (الأزد) yang berarti singa.

Adapun makna asli dari (رِجۡسࣱ) adalah goyang, kacau, berantakan. Tetapi kemudian diartikan siksa karena siksaan itu menjadikan seseorang goyang, kacau dan berantakan hidupnya.

(2) Ayat ini menunjukkan bahwa kaum 'Ad telah ditetapkan atas mereka dua hal yang tidak bisa dihindari, yaitu: siksa dan murka Allah dikarenakan perbuatan syirik mereka. Yaitu menyembah berhala-berhala yang telah mereka beri nama-nama tertentu tanpa ada dalil satupun yang membenarkannya.

(3) Kata (أَسۡمَاۤءࣲ) nama-nama berhala mereka. Menurut ath-Thabari, kaum Nabi Hud menyembah tiga berhala yang mereka beri nama: Shuda', Shumud dan al-Haba'.

 

Pelajaran (8) Selamat dari Bencana

فَأَنجَیۡنَـٰهُ وَٱلَّذِینَ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةࣲ مِّنَّا وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَاۖ وَمَا كَانُوا۟ مُؤۡمِنِینَ

“Maka kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman.” (Qs. al-A'raf: 72)

(1) Ayat di atas menunjukkan bahwa para pengikut Nabi akan ditolong oleh Allah di dalam kehidupan dunia dan akhirat, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (Qs. Ghafir: 51)

(2) Ayat di atas menunjukkan bahwa selamat dari bencana dan musibah semata-mata karena rahmat dari Allah.

Kata (بِرَحۡمَةࣲ) disebutkan secara nakirah, menurut Ibnu ‘Asyur ini mengandung makna ta'zhim (pemuliaan). Artinya benar-benar rahmat Allah ini sangat menentukan di dalam penyelamatan orang-orang beriman dan sama sekali tidak boleh dianggap remeh.

(3) Siksa Allah yang ditimpakan kepada kaum 'Ad secara rinci telah dijelaskan pada ayat- ayat lain, di antaranya firman Allah,

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ ۞ سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ ۞ فَهَلْ تَرَى لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ ۞

“Adapun kaum 'Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.” (Qs. al-Haqqah: 6-8)

(4) Ibnu Katsir menyebutkan bahwa angin yang begitu kencang mampu mengangkat mereka ke atas, kemudian membanting mereka ke tanah dengan kepalanya di bawah, sehingga kepalanya hancur karena membentur tanah.

(5) Firman-Nya,

وَقَطَعۡنَا دَابِرَ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَاۖ

“Dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.”

(a) Kata (وَقَطَعۡنَا) "Kami putus" dan kata (دَابِرَ) "belakang"

Maksudnya di sini bahwa Allah membinasakan mereka sampai akar-akarnya, sehingga tidak ada satupun yang tersisa atau dibiarkan hidup.

Ini seperti dalam firman-Nya,

فَقُطِعَ دابِرُ القَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا

“Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya.” (Qs. al-An’am: 45)

(b) Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa siksa yang diturunkan atas kaum 'Ad sehingga mereka punah bertujuan untuk membersihkan Jazirah Arab dari bibit-bibit kesyirikan di awal pembangunan peradaban sekaligus menyiapkannya sebagai daerah yang akan menjadi pusat tauhid yang akan dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.

 

***

Karawang, Senin 23 Oktober 2023

KARYA TULIS