Tafsir An-Najah (Qs. 7: 73-79) Dakwah Nabi Shalih

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمۡ صَـٰلِحࣰاۚ قَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۖ قَدۡ جَاۤءَتۡكُم بَیِّنَةࣱ مِّن رَّبِّكُمۡۖ هَـٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَایَةࣰۖ فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِیۤ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوۤءࣲ فَیَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٌ أَلِیمࣱ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhammu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih".”
(Qs. al-A'raf: 73)
Pelajaran (1) Kaum Tsamud
(1) Firman-Nya,
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمۡ صَـٰلِحࣰاۚ
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shalih.”
Selain dalam surat al-A'raf, kisah Nabi Shalih dan Kaum Tsamud dijelaskan di dalam surat lain, seperti: surat Hud, asy-Syu'ara', an-Naml, dan al-Qamar.
(a) Kaum Tsamud adalah anak keturunan dari Tsamud bin 'Ad bin Iram bin Sam bin Nuh.
(b) Adapun nasab Nabi Shalih adalah Shalih bin 'Ubaid bin Asif bin Masih bin 'Ubaid bin Hadir bin Tsamud.
(c) Disebut Tsamud karena berasal dari (الثمد) yang mempunyai arti: air yang sedikit.
(d) Kaum Tsamud tinggal di daerah al-Hijr, yaitu daerah yang terletak antara Hijaz dan Syam. Kini tempat itu disebut dikenal dengan ‘Madain Shalih’ masuk dalam wilayah Propinsi Madinah, Kerajaan Saudi Arabia.
(e) Nabi Muhammad ﷺ pernah melewati tempat tersebut ketika dalam perjalanan menuju Perang Tabuk pada tahun sembilan Hijriyah.
(2) Firman-Nya,
قَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۖ
Berkata Ibnu Katsir, “Semua rasul berdakwah untuk mengajak agar manusia hanya menyembah Allah saja, dan tiada sekutu bagi-Nya.” Ini sesuai dengan,
(a) Firman-Nya,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".” (Qs. al-Anbiya’: 25)
(b) Firman-Nya,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut’.” (Qs. an-Nahl: 36)
(3) Firman-Nya,
قَدۡ جَاۤءَتۡكُم بَیِّنَةࣱ مِّن رَّبِّكُمۡۖ هَـٰذِهِۦ نَاقَةُ ٱللَّهِ لَكُمۡ ءَایَةࣰۖ
“Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu.”
(a) Nabi Shalih diberikan mukjizat oleh Allah berupa unta betina. Hewan ini disebut dengan (نَاقَةُ ٱللَّهِ) 'Unta Allah', dinisbatkan kepada Allah untuk menunjukkan kemulian unta tersebut dan menunjukkan bahwa unta tersebut diciptakan Allah berbeda dengan unta-unta lainnya.
(b) Menurut Ibnu Katsir bahwa sebelum itu, kaum Tsamud selalu meminta suatu tanda dari Allah kepada Nabi Shalih. Mereka meminta agar Nabi Shalih mengeluarkan untuk mereka dari sebuah batu besar seekor unta bisa disaksikan oleh mata kepala mereka sendiri.
(c) Maka Nabi Shalih membuat perjanjian dan ikrar terhadap mereka: Jika Allah mengabulkan permintaan mereka, maka mereka mau beriman kepada Nabi Shalih dan benar-benar akan mengikutinya. Setelah mereka bersedia, maka Nabi Shalih berdoa memohon kepada Allah, maka batu besar itu mendadak bergerak dan terbelah, kemudian keluarlah darinya seekor unta betina yang sedang mengandung kembar, sesuai dengan apa yang mereka minta.
(4) Firman-Nya,
فَذَرُوهَا تَأۡكُلۡ فِیۤ أَرۡضِ ٱللَّهِۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوۤءࣲ فَیَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٌ أَلِیمࣱ
“Maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.”
(a) Allah menguji kaum Tsamud untuk tidak menyentuh unta tersebut atau mengganggunya dengan cara apapun juga.
(b) Firman-Nya (وَلَا تَمَسُّوهَا) ‘Janganlah kalian menyentuhnya’, menunjukkan bahwa larangan Allah dimulai dari yang paling ringan tetapi mengandung larangan untuk berbuat lebih daripada itu yaitu melukai, memukul, serta membunuhnya.
(c) Ini seperti larangan untuk mengatakan "Ah" kepada kedua orang tua yang secara otomatis mengandung larangan yang lebih besar dari itu, misalnya menyakiti dan memukulnya. Sebagaimana dalam firman-Nya,
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِیَّاهُ وَبِٱلۡوَ ٰلِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنًاۚ إِمَّا یَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَاۤ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَاۤ أُفࣲّ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلࣰا كَرِیمࣰا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Qs. al-Isra’: 23)
Pelajaran (2) Nikmat Allah kepada Kaum Tsamud
وَٱذۡكُرُوۤا۟ إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَاۤءَ مِنۢ بَعۡدِ عَادࣲ وَبَوَّأَكُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورࣰا وَتَنۡحِتُونَ ٱلۡجِبَالَ بُیُوتࣰاۖ فَٱذۡكُرُوۤا۟ ءَالَاۤءَ ٱللَّهِ وَلَا تَعۡثَوۡا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِینَ
“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (Qs. al-A’raf: 74)
(1) Pada ayat ini Allah memberikan beberapa kenikmatan kepada kaum Tsamud, diantaranya:
(a) Diberikan kesempatan hidup sebagai pengganti Kaum 'Ad setelah Allah menghancurkan mereka karena dosa-dosa yang mereka kerjakan.
(b) Disediakan tempat berupa dataran yang mereka bisa membangun istana-istana di atasnya.
(c) Diberikan kemampuan untuk memahat gunung-gunung sebagai rumah-rumah tempat tinggal mereka.
(2) Ibnu ‘Abbas menyebutkan bahwa Kaum Tsamud menempati rumah-rumah yang mereka pahat dari gunung pada musim dingin. Karena rumah-rumah tersebut mampu melindungi mereka dari udara dingin yang menusuk tulang.
Sedang pada musim panas mereka tinggal di rumah-rumah di atas dataran untuk bekerja dan bercocok tanam
(3) Karena nikmat yang begitu banyak tersebut, mereka diperintahkan untuk bersyukur dan dilarang untuk membuat kerusakan di muka bumi ini. Larangan membuat kerusakan diungkap dengan lafadz (وَلَا تَعۡثَوۡا۟) berasal dari kata (العيث), menurut al-Baghawi artinya adalah membuat kerusakan besar.
(4) Dari ayat di atas, para ulama berbeda pendapat tentang hukum membangun rumah yang besar dan bertingkat:
(4.1) Pendapat pertama hukumnya boleh membangun rumah yang besar dan bertingkat selama itu sesuai dengan kebutuhan dan tetap mengeluarkan kewajibannya, seperti zakat dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Dalilnya adalah:
(a) Firman Allah,
قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِینَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِیۤ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّیِّبَـٰتِ مِنَ ٱلرِّزۡقِۚ قُلۡ هِیَ لِلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا خَالِصَةࣰ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِۗ كَذَ ٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡـَٔایَـٰتِ لِقَوۡمࣲ یَعۡلَمُونَ
“Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat." Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (Qs. al-A'raf: 32)
(b) Hadist Imran bin al-Husain radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
إنَّ اللَّهَ إذاَ أنعمَ على عبدٍ نعمةً أحبَ أن يرى أثرَ نعمتِهِ على عبدِهِ
“Sesungguhnya Allah jika memberikan nikmat pada hamba-Nya, Dia menyukai melihat jejak (pengaruh) nikmat-Nya pada hamba tersebut.” (Hadist ini dishahihkan oleh al-'Iraqi di dalam Takhrij al-Ihya', Ahmad Syakir dan al-Albani)
Berkata Ibnu Sirrin, “Salah satu nikmat Allah yang terlihat adalah rumah dan baju yang bagus.”
(4.2) Pendapat kedua mengatakan bahwa membangun rumah yang besar dan tinggi, hukumnya makruh apalagi jika tidak ada keperluan untuk itu.
Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
إذا أراد اللهُ بعبدٍ شرًّا خضَّر له في اللَّبِنِ والطِّينِ حتّى يبنيَ
(HR. ath-Thabrani. Al-Mundziri berkata di dalam at-Targhib wa at-Tarhib, "Hadist ini sanadnya Jayyid.")
(5) Firman-Nya,
فَٱذۡكُرُوۤا۟ ءَالَاۤءَ ٱللَّهِ
“Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah.”
Berkata al-Qurthubi, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir juga diberikan nikmat oleh Allah kepada mereka.”
Pelajaran (3) Dialog Antara Para Pembesar dengan Rakyat Kecil
قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِینَ ٱسۡتَكۡبَرُوا۟ مِن قَوۡمِهِۦ لِلَّذِینَ ٱسۡتُضۡعِفُوا۟ لِمَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُمۡ أَتَعۡلَمُونَ أَنَّ صَـٰلِحࣰا مُّرۡسَلࣱ مِّن رَّبِّهِۦۚ قَالُوۤا۟ إِنَّا بِمَاۤ أُرۡسِلَ بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ۞ قَالَ ٱلَّذِینَ ٱسۡتَكۡبَرُوۤا۟ إِنَّا بِٱلَّذِیۤ ءَامَنتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ ۞
“Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: "Tahukah kamu bahwa Shalih di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shalih diutus untuk menyampaikannya." Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu".” (Qs. al-A’raf: 75-76)
(1) Tujuan para pembesar bertanya kepada rakyat kecil yang beriman tentang status Nabi Shalih, menurut al-Qasimi adalah untuk mengancam sekaligus menghina mereka. Hal itu dikarenakan para pembesar mengetahui bahwa rakyat kecil dari kalangan orang-orang beriman sudah mengetahui bahwa Nabi Shalih adalah utusan Allah.
(2) Oleh karena itu, orang-orang beriman tidak perlu menjawab pertanyaan yang diajukan para pembesar tersebut, karena status Nabi Shalih sebagai utusan Allah sudah sangat jelas. Justru mereka mengatakan sesuatu yang lebih penting untuk disampaikan kepada mereka, yaitu: “Sesungguhnya kami beriman dengan apa yang dibawa Nabi Shalih.”
(3) Jawaban ini mengandung ajakan untuk beriman kepada Nabi Shalih, karena yang beliau bawa adalah kebenaran mutlak yang harus diikuti.
(4) Jawaban ini juga menunjukkan keberanian mereka dalam mengungkapkan kebenaran yang tersimpan di dalam hati mereka.
(5) Ketika diajak untuk mengikuti kebenaran yang dibawa oleh Nabi Shalih, para pembesar tersebut serta merta menolaknya dengan mengatakan bahwa, “Sesungguhnya kami tidak percaya kepada apa yang kalian imani itu.”
Pelajaran (4) Menyembelih Unta
فَعَقَرُوا۟ ٱلنَّاقَةَ وَعَتَوۡا۟ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ وَقَالُوا۟ یَـٰصَـٰلِحُ ٱئۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَاۤ إِن كُنتَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِینَ
“Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: "Hai Shalih, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)".” (Qs. al-A’raf: 77)
(1) Kaum Tsamud mengkufuri apa yang dibawa oleh Nabi Shalih dengan dua hal, yaitu:
(a) Dengan perkataan, sebagaimana yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya.
(b) Dengan perbuatan, yang mereka buktikan dengan menyembelih unta betina tersebut.
(2) Menyembelih dalam ayat ini diungkap dengan lafadz (فَعَقَرُوا۟) yang berasal dari kata (العقر) yang artinya memotong betis unta. Menurut al-Qusyairi, karena biasanya hal ini berlanjut dengan menyembelih unta tersebut, sehingga istilah ini digunakan untuk mengungkapkan penyembelihan unta.
(3) Tidak semua dari kaum Tsamud ikut menyembelih unta betina, walaupun begitu, penyembelihan ini dinisbatkan kepada mereka semuanya. Mengapa? Karena yang tidak ikut menyembelih mendukung kejahatan tersebut, maka mereka dianggap ikut menyembelih.
Berkata Ibnu Katsir, “Allah menisbatkan penyembelihan kepada seluruh kaum Tsamud. Hal itu menunjukkan bahwa mereka semuanya merestui perbuatan tersebut. Wallahu a'lam.”
(4) Tidak cukup menyembelih unta saja, bahkan kaum Tsamud berani menentang Allah dan merasa tinggi di hadapan-Nya. Kesombongan mereka ini diungkapkan dengan kata (عَتَوۡا۟) dari kata (العتو) yang berarti melampaui batas dalam bermaksiat dan sombong terhadap kebenaran.
(5) Bahkan lebih dari itu, mereka menantang Nabi Shalih dengan memanggil namanya dan meminta agar disegerakan siksa dari Allah kepada mereka.
(6) Kesimpulannya, terdapat empat hal yang dilakukan oleh kaum Tsamud terhadap dakwah Nabi Shalih, yaitu:
(a) Mengkufuri dakwah nabi Shalih dengan menyatakan dari lisan mereka secara terang-terangan.
(b) Menyembelih unta betina.
(c) Merasa tinggi dan takabbur kepada Allah.
(d) Menantang Nabi Shalih dan meminta agar disegerakan siksa dari Allah kepada mereka.
Pelajaran (5) Siksa yang Menimpa Kaum Tsamud
فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُوا۟ فِی دَارِهِمۡ جَـٰثِمِینَ ۞ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ وَقَالَ یَـٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّی وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَـٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّـٰصِحِینَ ۞
“Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat".” (Qs. al-A'raf: 78-79)
(1) Karena empat pelanggaran yang dilakukan kaum Tsamud terhadap dakwah nabi, maka Allah segera menurunkan siksa yang pedih kepada mereka berupa (ٱلرَّجۡفَةُ) yaitu gempa bumi yang sangat dahsyat, sehingga mereka bergelimangan di atas tanah.
Kata (جَـٰثِمِینَ) dari kata (الجثوم) yang berarti jatuh tertelungkup di atas dada.
(2) Kemudian Nabi Shalih berpaling dari mereka, seraya menyatakan dua hal:
(a) Beliau telah menyampaikan risalah Allah (wahyu) kepada kaumnya, diantaranya adalah tentang tauhid.
(b) Beliau telah memberi nasihat kepada kalian, agar takut kepada siksaan Allah.
Hanya saja kaumnya menolak dua hal itu, dan tidak menyukai para pemberi nasehat.
(3) Pertanyaannya: kapan Nabi Hud menyampaikan dua hal yang disebutkan di atas?
(a) Sebagian ulama mengatakan itu disampaikan sebelum mereka binasa dengan dalil bahwa Nabi Shalih berkata di akhir ayat, “Tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.”
(b) Sebagian yang lain mengatakan bahwa itu disampaikan sesudah mereka binasa. Tetapi muncul pertanyaan berikutnya, bagaimana Nabi Shalih berbicara kepada orang-orang yang sudah binasa? Jawabannya ini untuk memberikan pelajaran kepada orang-orang sekelilingnya yang menyaksikan kejadian tersebut. Kemudian mereka yang sudah binasa dianggap bisa mendengar pernyataan Nabi Shalih tersebut.
(4) Hal yang sama pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ terhadap orang-orang kafir yang terbunuh pada perang Badar. Di dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
وقفَ رسولُ اللَّهِ ﷺ على قَتلى بَدرٍ ثم قالَ يا عُتبةُ بنَ ربيعةَ ويا شَيبةُ بنَ ربيعةَ ويا وليدُ بنَ عُتبةَ، هَل وجدتُمْ ما وعدَ ربُّكم حقًّا؟ فإنِّي وجدتُ ما وعدَني ربِّي حقًّا فقيل له: يا رسولَ اللَّهِ أتُنادي قومًا قد جيَّفوا قالَ: ما أنتُمْ بأسمعَ لما أقولُ منهُم ولَكِنَّهم لا يستطيعونَ أن يُجيبوا
“Rasulullah ﷺ berhenti (berdiri) di atas yang terbunuh dalam perang Badar, beliau bersabda: "Hai Utbah bin Rabi'ah, hai Syaibah bin Rabi'ah, hai Walid bin Utbah, bukankah kalian telah menemukan kebenaran janji Rabb kalian, sesungguhnya aku telah menemukan kebenaran janji Rabbku yang dijanjikan padaku." Umar mendengar ucapan nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam, ia berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana mereka mendengar dan bagaimana mereka menjawab, mereka telah menjadi bangkai? Beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, kalian tidak lebih mendengar ucapanku melebihi mereka, hanya saja mereka tidak bisa menjawab".” (HR. Muslim)
(5) Rasulullah ﷺ sendiri pernah melewati tempat tinggal Kaum Tsamud yang sekarang di kenal dengan "Madain Shalih", tepatnya pada tahun sembilan Hijriyah ketika melakukan perjalanan ke Tabuk. Di dalam hadist ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,
أنَّ رسولَ اللهِ ﷺ نزَل عامَ تبوكَ بالحِجْرِ عندَ بيوتِ ثمودَ فاستقى النّاسُ مِن الآبارِ الَّتي كانت تشرَبُ منها ثمودُ فنصَبوا القُدورَ وعجَنوا الدَّقيقَ فقال رسولُ اللهِ ﷺ: (اكفَؤُوا القُدورَ واعلِفوا العجينَ الإبلَ) ثمَّ ارتحَل حتّى نزَل في الموضِعِ الَّذي كانت تشرَبُ منه الناقةُ وقال: (لا تدخُلوا على هؤلاءِ القومِ الَّذينَ عُذِّبوا فيُصيبَكم مِثْلُ ما أصابهم)
“Rasulullah ﷺ pernah singgah bersama sahabatnya di Hijir pada tahun terjadinya perang Tabuk. Beliau singgah bersama mereka di bekas-bekas rumah kaum Tsamud. Para sahabat meminta beliau untuk mengambil air dari sumur yang biasa dipergunakan kaum Tsamud untuk minum. Dari air itu mereka mengolah makanan dan memasak daging dengan pancinya. Serta merta Rasulullah ﷺ memberi isntruksi agar mereka menumpahkan panci-pancinya, dan masakannya diberikan kepada unta-untanya. Nabi terus melanjutkan perjalanan hingga singgah di sebuah sumur yang pernah digunakan unta Nabi Shalih minum. Beliau melarang mereka untuk menemui kediaman kaum yang pernah diazab itu. Beliau bersabda: "Aku khawatir, jangan-jangan kalian ditimpa seperti yang menimpa mereka, maka janganlah kalian memasuki kediaman mereka".” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
***
Karawang, Rabu, 25 Oktober 2023
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »