Karya Tulis
97 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 85-87) Dakwah Nabi Syu'aib -1


وَإِلَىٰ مَدۡیَنَ أَخَاهُمۡ شُعَیۡبࣰاۚ قَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۖ قَدۡ جَاۤءَتۡكُم بَیِّنَةࣱ مِّن رَّبِّكُمۡۖ فَأَوۡفُوا۟ ٱلۡكَیۡلَ وَٱلۡمِیزَانَ وَلَا تَبۡخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشۡیَاۤءَهُمۡ وَلَا تُفۡسِدُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَاۚ ذَ ٰلِكُمۡ خَیۡرࣱ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ

“Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu'aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".”

(Qs. al-A’raf: 85)

 

Pelajaran (1) Kaum Madyan

(1) Madyan adalah salah satu nama kabilah yang dinisbatkan kepada Madyan bin Ibrahim. Mereka tinggal di suatu daerah yang bernama Ma'an, letaknya di antara Hijaz dan Syam. Mereka juga disebut dengan penduduk al-Aikah (suatu daerah yang tumbuh pohon-pohon). Ma'an dan al-Aikah letaknya berdampingan. Nabi Syu'aib diutus kepada mereka semua.

(2) Adapun nama Nabi Syu'aib adalah Syu'aib bin Mikil bin Yasyjir bin Madyan bin Ibrahim. Nabi Syu'aib dijuluki oratornya para nabi, karena pandai dalam berdialoq dan mampu membantah berbagai tuduhan kaumnya dengan hujjah yang sangat kuat.

Menurut Makki, Nabi Syu'aib menikah dengan anak perempuan Nabi Luth.

Jika demikian, maka Nabi Luth adalah mertua dari Nabi Syu'aib. Sedangkan Nabi Syu'aib adalah mertua dari Nabi Musa.

(3) Kaum Madyan selain mereka adalah orang-orang kafir, mereka juga mempunyai akhlak yang buruk yaitu mengurangi timbangan dan takaran. Maka, Allah mengutus Nabi Syu'aib kepada mereka dengan mengajak mereka kepada tauhid dan melarang mereka untuk mengurangi timbangan dan takaran.

(4) Para ulama berbeda pendapat apakah Nabi Syu'aib diutus kepada satu umat atau dua umat?

(a) Pendapat pertama mengatakan bahwa Nabi Syu'aib diutus kepada dua umat, yaitu:

  • Penduduk Madyan yang dihancurkan dengan suara yang memekakkan telinga.
  • Penduduk al-Aikah yang dihancurkan dengan awan yang dingin. Dan tidak ada nabi yang diutus kepada dua umat sekaligus, kecuali Nabi Syu'aib.

(b) Pendapat kedua mengatakan bahwa Nabi Syu'aib diutus kepada satu umat yang mencakup penduduk Madyan dan al-Aikah. Atau mereka satu kabilah yang mempunyai dua julukan. Adapun adzab yang ditimpakan kepada mereka datang silih berganti, dimulai dari gempa, kemudian diikuti dengan datangnya awan yang dingin, dan berakhir dengan terdengarnya suara yang memekakkan telinga, sehingga mereka terbakar.

(5) Firman-Nya,

قَالَ یَـٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَـٰهٍ غَیۡرُهُۥۖ

“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.”

Menunjukkan bahwa dakwah utama Nabi Syu'aib adalah ajakan kepada tauhid dan meninggal syirik.

(6) Firman-Nya,

قَدۡ جَاۤءَتۡكُم بَیِّنَةࣱ مِّن رَّبِّكُمۡۖ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu.”

(a) Kata (بَیِّنَةࣱ) artinya penjelasan, maksudnya adalah mukjizat. Setiap Nabi dan Rasul pasti dibekali dengan mukjizat atau bukti kebenaran yang dia bawa. Hanya saja mukjizat Nabi Syu'aib tidak dijelaskan di dalam al-Qur'an.

(b) Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud (بَیِّنَةࣱ) di sini adalah kedatangan Nabi Syu'aib mengajak mereka kepada tauhid.

(7) Firman-Nya,

فَأَوۡفُوا۟ ٱلۡكَیۡلَ وَٱلۡمِیزَانَ

“Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan.”

  • Ayat ini berisi perintah untuk menyempurnakan takaran dan timbangan. Ini menunjukkan bahwa penduduk Madyan memiliki kebiasaan buruk dan akhlak yang tercela, yaitu mengurangi takaran dan timbangan.
  • Terdapat perbedaan antara takaran dan timbangan, yaitu:

(7.1) Takaran digunakan sebagai alat ukur satuan isi, seperti,

(a) 1 kailah = 16,5 liter.

(b) Mud (dua tangkupan tangan) 1 mud = 510 gr/675 gr.

(c) 1 sha’ = 4 mud/2,04 kg/2,1 kg/3,8 kg.

(d) 1 wasaq = 60 sha’. 5 wasaq = 300 sha’ = 653 kg.

(e) 1 qullah = 95,6 kg.

(7.2) Adapun timbangan digunakan untuk mengukur satuan berat, seperti:

(a) 1 Dirham = 4,25 gr emas.

(b) 1 Dirham= 2,9 perak.

(c) 1 Uqiyah = 40 dirham.

(d) 1 Qirath = 24 dinar.

(e) 1 Qinthar = 8.400 dinar.

(8) Firman-Nya,

 وَلَا تَبۡخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشۡیَاۤءَهُمۡ

“Janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya.”

(a) Larangan mengurangi takaran dan timbangan setelah perintah menyempurnakannya, hal ini untuk menguatkan bahwa perintah tersebut sangat penting.

(b) Kata (تَبۡخَسُوا۟) dari kata (الخبس) artinya mengurangi.

Mengurangi barang dalam jual beli dengan beberapa cara, diantaranya: memberikan barang yang cacat, menguranginya, atau memberikan barang yang palsu. Semuanya masuk dalam katagori memakan harta dengan cara yang batil.

(c) Menurut Ibnu Abbas, maksudnya di sini adalah larangan berbuat dzalim kepada orang lain. Salah satu bentuk kezaliman yang mereka lakukan adalah dengan mengambil pajak dari setiap barang yang masuk ke pasar mereka.

(9) Firman-Nya,

وَلَا تُفۡسِدُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَاۚ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya.”

Berkata Makki, yaitu jangankah kalian membuat kerusakan di muka bumi ini dengan melakukan kemaksiatan di dalamnya setelah Allah memperbaikinya dengan mengutus nabi yang mengarahkan jalan lurus.

(10) Firman-Nya,

ذَ ٰلِكُمۡ خَیۡرࣱ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ

“Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.”

Yaitu bahwa mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi segala orangnya jauh lebih baik dari perbuatan maksiat yang selama ini kalian kerjakan.

 

Pelajaran (2) Menghalangi Jalan Allah

وَلَا تَقۡعُدُوا۟ بِكُلِّ صِرَ ٰطࣲ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَن سَبِیلِ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِهِۦ وَتَبۡغُونَهَا عِوَجࣰاۚ وَٱذۡكُرُوۤا۟ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِیلࣰا فَكَثَّرَكُمۡۖ وَٱنظُرُوا۟ كَیۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِینَ

“Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. al-A'raf: 86)

(1) Firman-Nya,

وَلَا تَقۡعُدُوا۟ بِكُلِّ صِرَ ٰطࣲ تُوعِدُونَ

“Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti.”

Berkata al-Qasimi, ayat ini menunjukkan larangan menjadi perampok. Yaitu janganlah kalian duduk di pinggir-pinggir jalan yang dilalui para musafir. Kalian pukul mereka, kemudian kalian ambil barang-barang mereka seraya mengancam untuk membunuh jika tidak mengikuti keinginan kalian.

(2) Firman-Nya,

وَتَصُدُّونَ عَن سَبِیلِ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِهِۦ

“Dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah.”

Maksudnya bahwa penduduk Madyan duduk di jalan-jalan untuk menghalangi orang-orang yang datang ke tempat Nabi Syu'aib untuk beriman kepadanya. Mereka mengancam akan membunuh siapa saja yang beriman kepada Nabi Syu'aib.

(3) Firman-Nya,

وَتَبۡغُونَهَا عِوَجࣰاۚ

“Dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok.”

Yaitu dengan mengatakan bahwa Nabi Syu'aib adalah pembohong.

Menurut al-Qasimi yaitu dengan melemparkan syubhat tentang dakwah Nabi Syu'aib dan menyematkannya dengan label-label yang buruk dan negatif.

(4) Firman-Nya,

وَٱذۡكُرُوۤا۟ إِذۡ كُنتُمۡ قَلِیلࣰا فَكَثَّرَكُمۡۖ

“Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu.”

(a) Menurut Makki, jumlah penduduk Madyan dahulu sangat sedikit, kemudian Allah memperbanyak jumlah mereka.

Berkata al-Qasimi, Allah memperbanyak jumlah dan perbekalan mereka.

(b) Dari sini, bisa dikatakan bahwa jumlah penduduk yang banyak adalah nikmat dari Allah yang patut disyukuri, karena banyaknya jumlah membawa kebaikan dan keberkahan serta kekuatan.

(c) Ini dikuatkan dengan nikmat Allah yang diberikan kepada Bani Israel sebagaimana dalam firman-Nya,

ثُمَّ رَدَدۡنَا لَكُمُ ٱلۡكَرَّةَ عَلَیۡهِمۡ وَأَمۡدَدۡنَـٰكُم بِأَمۡوَ ٰ⁠لࣲ وَبَنِینَ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ أَكۡثَرَ نَفِیرًا

“Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.” (Qs. al-Isra': 6)

(5) Firman-Nya,

وَٱنظُرُوا۟ كَیۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُفۡسِدِینَ

“Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Maksudnya, lihatlah umat-umat terdahulu yang Allah hancurkan karena mengkufuri ayat-ayat Allah dan mendustakan para nabi.

 

Pelajaran (3) Dua Kelompok

وَإِن كَانَ طَاۤىِٕفَةࣱ مِّنكُمۡ ءَامَنُوا۟ بِٱلَّذِیۤ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَاۤىِٕفَةࣱ لَّمۡ یُؤۡمِنُوا۟ فَٱصۡبِرُوا۟ حَتَّىٰ یَحۡكُمَ ٱللَّهُ بَیۡنَنَاۚ وَهُوَ خَیۡرُ ٱلۡحَـٰكِمِینَ

“Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (Qs. al-A'raf: 87)

(1) Yaitu dengan datangnya Nabi Syu'aib di tengah-tengah mereka, penduduk Madyan terpecah menjadi dua kelompok, yaitu: kelompok yang beriman kepada Nabi Syu'aib dan kelompok yang menentangnya.

Ini mirip dengan apa yang dialami oleh Nabi Isa, sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya,

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُونُوۤا۟ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِیسَى ٱبۡنُ مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیِّـۧنَ مَنۡ أَنصَارِیۤ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِیُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ فَـَٔامَنَت طَّاۤىِٕفَةࣱ مِّنۢ بَنِیۤ إِسۡرَ ٰ⁠ۤءِیلَ وَكَفَرَت طَّاۤىِٕفَةࣱۖ فَأَیَّدۡنَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ فَأَصۡبَحُوا۟ ظَـٰهِرِینَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (Qs. ash-Shaf: 14)

(2) Kata (فَٱصۡبِرُوا۟) “maka bersabarlah”, mempunyai dua makna:

(a) Pertama, ini ditujukan kepada orang-orang beriman agar bersabar terhadap gangguan orang-orang kafir terhadap mereka, sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, yaitu kemenangan bagi orang-orang beriman.

Makna pertama ini masuk dalam berita gembira.

(b) Kedua, ini ditujukan kepada orang-orang kafir. Ini bukan perintah bersabar tetapi ancaman kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih.

Makna kedua ini termasuk dalam kategori ancaman, seperti firman-Nya,

قُلۡ تَرَبَّصُوا۟ فَإِنِّی مَعَكُم مِّنَ ٱلۡمُتَرَبِّصِینَ

“Katakanlah: ‘Tunggulah, maka sesungguhnya akupun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu’.” (Qs. ath-Thur: 31)

 

***

Karawang, Sabtu, 28 Oktober 2003

KARYA TULIS