Karya Tulis
345 Hits

Pensucian Jiwa: Bab 1 Berdzikir


 

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” 

(Qs. ar-Ra’du: 28)

 

I. Pengertian Dzikir

(1) Dzikir secara bahasa adalah mengingat. Yang dimaksud di sini adalah mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Mengingat Allah di sini mencakup mengingat nikmat-nikmat-Nya, mengingat ciptaan-ciptaan-Nya yang ada di alam raya, mengingat pahala yang akan Allah berikan kepada setiap yang taat kepada-Nya, mengingat adzab-Nya yang pedih bagi yang bermaksiat.

(2) Di dalam al-Qur’an kata dzikir disebut sebanyak 268 kali, dan mempunyai mempunyai arti yang beragam, diantaranya;

(a) Dzikir berarti al-Qur’an, ini sesuai dengan firman Allah

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (Qs. Al-Hijr: 9)

(b) Dzikir berarti ilmu, ini sesuai dengan firman Allah,

وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Anbiya’: 7)

(c) Dzikir berarti kemuliaan, ini sesuai dengan firman Allah

لَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ كِتٰبًا فِيْهِ ذِكْرُكُمْۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab (Al-Qur'an) yang di dalamnya terdapat kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tidak mengerti?” (Qs. Al-Anbiya’: 10)

Makna ini juga terdapat di dalam firman-Nya,

وَاِنَّهٗ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ ۚوَسَوْفَ تُسْٔـَلُوْنَ

Dan sungguh, Al-Qur'an itu benar-benar suatu kemuliaan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban.” (Qs. Az-Zukhruf: 44)

Juga disebutkan di dalam firman-Nya,

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Dan telah Kami angkat kemulianmu” (Qs. asy-Syarh:4)

(d) Dzikir berarti mengingat dan menyebut nama Allah, sebagaimana di dalam firman-Nya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,” (Qs. Al-Ahzab: 41).

(e) Dzikir berarti lawan dari lupa, sebagaimana di dalam firman-Nya,

قَالَ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا 

Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” (Qs. Al-Kahfi: 63)

 

II. Kedudukan Dzikir

(1) Dzikir lebih utama daripada doa. Karena dzikir berisi pujian kepada Allah, sedangkan doa berisi permintaan kepada Allah. Tentu pujian lebih utama daripada permintaan. Oleh karenanya, sebagian ulama membagi dzikir menjadi dua; dzikir pujian dan dzikir permintaan.

(2) Dzikir adalah tujuan utama berbagai ibadah, diantaranya adalah ibadah shalat, sebagaimana di dalam firman-Nya,

 إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Qs. Thaha: 14)

 

III. Sarana  Berdzikir

Berdzikir mempunyai dua cara; dzikir dengan hati dan dzikir dengan lisan.

(a) Dzikir dengan hati, yaitu mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dengan hatinya meskipun tidak diucapkan di lisan, tetapi hatinya selalu tertambat untuk mengingat Allah subhanahu wa ta’ala. Seseorang jika mencintai sesuatu, maka dia akan selalu mengingatnya walau tidak mesti diucapkan. Begitu juga jika dia mencintai Allah, maka hatinya akan terus mengingat-Nya. Dzikir dengan hati ini lebih utama daripada dzikir dengan lisan.

Berkata Rasyid Ridha (w. 1354 H) di dalam tafsir al-Manar (9/464), “Tidak ada manfaat dzikir dengan lisan, kecuali kalau diiringi dengan dzikir di hati yang merupakan bentuk perenungan makna dzikir itu sendiri. Betapa banyak orang yang mempunyai wirid dzikir dengan menggunakan tasbih ratusan hingga ribuan kali, tetapi tidak memberikan manfaat baginya di dalam ma’rifatullah (mengenal Allah) dan muraqabatullah (selalu merasa diawasi). Dzikir semacam itu hanyalah sebuah rutinitas belaka tanpa makna.” Pernyataan tersebut dinukil kembali oleh al-Maraghi di dalam tafsirnya (9/157) dan yang senada oleh Wahbah Zuhaili di dalam at-Tafsir al-Munir (9/230).

(b) Dzikir dengan lisan, yaitu mengingat Allah dengan lisannya. Ini harus diucapkan minimal terdengar oleh dirinya sendiri. Tandanya adalah dengan menggerakkan lisan. Kadang dzikir dengan lisan ini diucapkan dengan suara keras, seperti ketika mengumandangkan adzan dan iqamah, menjadi imam shalat jahriyah, memimpin doa, dan lainnya.

Kedua dzikir tersebut termaktub di dalam firman-Nya,

قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا

Katakanlah (Muhammad), “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma‘ul husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.” (Qs. Al-Isra’: 110)

Ini dikuatkan di dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.” (HR. al-Bukhari, 6856 dan Muslim, 4851)

 

IV. Manfaat Dzikir

(a) Dzikir bisa menghapus dosa-dosa, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radyiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa mengucapkan 'Subhanallah wa bihamdihi Maha suci Allah dan segala pujian hanya untuk-Nya' sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. al-Bukhari, 5926)

(b) Dzikir bisa mendatangkan rahmat Allah dan ketenangan hati. Ini sesuai dengan firman-Nya,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Qs. ar-Ra’du: 28)

Ini dikuatkan dengan hadits Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu  bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ َيتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca al-Qur'an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang ketinggalan amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.”  (HR. Muslim, 4867)

(c) Dzikir bisa menyembuhkan hati yang sakit dan menghidupkan hati yang mati. Dzikir yang berfungsi untuk menghidupkan hati, bagaikan air yang berfungsi untuk kehidupan ikan. Hati akan mati jika tidak ada dzikir, sebagaimana ikan akan mati jika tidak ada air.

(d) Dzikir bisa membuat hati bersih dari karat dan menjadi mengkilap. Karena hati akan berkarat jika seseorang lalai dari dzikir dan mengikuti hawa nafsunya. Hadits tentang besi berkarat,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ، كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ " قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا جِلَاؤُهَا؟ قَالَ: " كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya hati ini akan berkarat sebagaimana berkaratnya besi jika terkena air.’ Ditanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana cara menghilangkannya?’ Beliau berkata, ‘Banyak mengingat mati dan membaca al-Qur’an’.” (HR. al-Baihaqi, di dalam Syuabul Iman no. 2112)

 

V. Waktu-waktu Berdzikir

Waktu-waktu berdzikir terbagi menjadi dua;

(a) Dzikir Mutlak yaitu dzikir yang dilakukan kapan saja tidak terikat dengan waktu tertentu. Ini seperti perintah Allah di dalam firman-Nya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,” (Qs. Al-Ahzab: 41).

(b) Dzikir Muqayyad yaitu dzikir yang dilakukan di waktu-waktu tertentu, seperti dzikir pagi dan petang, dzikir bakda shalat, dzikir masuk dan keluar rumah, dzikir ketika naik kendaraan, dzikir ketika mau makan, dzikir ketika masuk dan keluar toilet, dan lain-lainnya. Di antara kitab yang menyebut dzikir muqayyad ini adalah al-Adzkar karya Imam an-Nawawi.

 

VI. Adab Berdzikir

Diantara adab berdzikir adalah tidak mengeraskan suara kecuali jika diperlukan. Ini sesuai firman Allah,

قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا

“Katakanlah (Muhammad), “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma‘ul husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.” (Qs. Al-Isra’: 110)

Berkata Wahbah Zuhaili dalam tafsir al-Munir (9/231), “Ayat di atas menunjukkan bahwa sebaik-baik berdzikir adalah dilakukan secara pelan.”

Ini dikuat dengan hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ

Dari Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Kami pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan apabila menaiki bukit kami bertalbiyah dan bertakbir dengan suara yang keras. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai sekalian manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha suci nama-Nya dan Maha Tinggi kebesaran-Nya".

 Dikuatkan juga dengan hadist Sa’ad bin Malik,

عَنْ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيُّ وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِي

“Dari Sa'd bin Malik berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi dan sebaik baik rezeki adalah yang mencukupi.” (HR. Ahmad, 1397)

 

VII. Akibat Lupa Berdzikir

(1) Orang yang lupa dzikir akan menyebabkan lupa kepada Allah dan Allah akan lupa kepadanya sehingga dia juga lalai terhadap dirinya sendiri, sebagaimana firman-Nya,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hasyr: 19)

Orang yang lalai terhadap dirinya sendiri bagaikan orang yang memiliki tanaman, kebun, sawah, ternak, yang merupakan sumber rezeki, kehidupan dan kebahagiaannya; namun dia lalai mengurusinya. Sehingga dia tidak dapat memanfaatkan dan menyebabkan sengsara.

(2) Lupa berdzikir akan menyebabkan seseorang mudah digoda dan diganggu syaitan. Ini sesuai dengan firman Allah,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”  (Qs. az-Zukhruf: 36)

 

***

 

Bekasi, 21/10/2021

KARYA TULIS