Karya Tulis
318 Hits

Pensucian Jiwa: Bab 7 Ridha dengan Takdir Allah


 

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” 

(Qs. at-Taghabun: 11)

 

UJIAN PERASAAN

Orang yang berwawasan luas dan banyak ilmu belum tentu menjadi orang yang paling baik imannya. Bukankah iblis wawasannya luas? Dia bahkan mengetahui tentang dunia di langit, mengetahui tentang alam di akhirat. Tapi kenapa iblis malah tidak sebanding ilmu dan wawasannya dengan ketakwaan dan keimanannya?

Karena iblis tidak sabar dengan sebuah ujian. Ujian iblis apa? Exist ! Itu ujian iblis.

Ia tidak terima ketika tiba-tiba datang pendatang baru. Pendatang baru ini tiba-tiba melejit dan ke-exist-an nya melebihi iblis. Akhirnya iblis tidak kuat dengan ujian ini. Iblis diuji dengan ujian popularitas, ujian existensi, ujian siapa yang lebih dihargai. 

Sama seperti kita, kita merasa disuatu lingkungan sudah merasa lebih sering banyak berkorban dan berjuang dari awal tapi ternyata justru  tiba-tiba yang exist adalah orang lain. Ini ujian yang namanya zulzilu. Ujian perasaan. Ini yang dialami oleh iblis 

Ketika iblis disuruh mengalah atas Adam kerena Adam akan dijadikan pemimpin khalifatullahi fil ard, menjadi pemimpin wakilnya Allah di muka bumi, Iblis keberatan. Kenapa? Karna iblis merasa lebih baik, lebih senior daripada Adam, lebih keren, dan merasa lebih lainnya.

Sama seperti kita, ujian emosional, ujian ego, ujian perasaan itu berat untuk kita. Kadang ketika diuji sakit atau dirugikan orang lain dan ujian yang bersifat fisik, kita masih oke dan tidak membicarakannya, tapi ketika sakit hati kita akan langsung emosional dan mengungkit semua pengorbanan. Itu karna yang diuji adalah zulzilu, perasaan. 

Maka dari itu penting bagi kita untuk mempelajari sabar terhadap ujian perasaan. Sebab tidak disebut beriman kecuali dilihat dia sabar dalam ujian. Kalau dia gak sabar dalam ujian, Allah akan menggolongkannya termasuk orang-orang munafik. Mengaku beriman tapi ternyata tidak beriman. 

Ketika diuji perasaan kita, kita seharusnya bisa meresponnya dengan cara yang elegan, tidak kekanak-kanakan, merespon tanpa harus memperlihatkan emosional yang meledak-ledak, atau kita bisa Tabayyun. Tapi Tabayyun dengan marah itu beda, Tabayyun dengan mencela itu beda. Maka harus berhati-hati. Jangan sampai sikap tidak sabar kita dalam menghadapi ujian perasaan justru menyakiti perasaan orang lain bahkan sampai tingkat mendzalimi.

Na'udzubillah min dzalik.

Wallahu'alam. 

UJIAN PERASAAN
Orang yang berwawasan luas dan banyak ilmu belum tentu menjadi orang yang paling baik imannya. Bukankah iblis wawasannya luas? Dia bahkan mengetahui tentang dunia di langit, mengetahui tentang alam di akhirat. Tapi kenapa iblis malah tidak sebanding ilmu dan wawasannya dengan ketakwaan dan keimanannya?
Karena iblis tidak sabar dengan sebuah ujian. Ujian iblis apa? Exist ! Itu ujian iblis.
Ia tidak terima ketika tiba-tiba datang pendatang baru. Pendatang baru ini tiba-tiba melejit dan ke-exist-an nya melebihi iblis. Akhirnya iblis tidak kuat dengan ujian ini. Iblis diuji dengan ujian popularitas, ujian existensi, ujian siapa yang lebih dihargai. 
Sama seperti kita, kita merasa disuatu lingkungan sudah merasa lebih sering banyak berkorban dan berjuang dari awal tapi ternyata justru  tiba-tiba yang exist adalah orang lain. Ini ujian yang namanya zulzilu. Ujian perasaan. Ini yang dialami oleh iblis 
Ketika iblis disuruh mengalah atas Adam kerena Adam akan dijadikan pemimpin khalifatullahi fil ard, menjadi pemimpin wakilnya Allah di muka bumi, Iblis keberatan. Kenapa? Karna iblis merasa lebih baik, lebih senior daripada Adam, lebih keren, dan merasa lebih lainnya.
Sama seperti kita, ujian emosional, ujian ego, ujian perasaan itu berat untuk kita. Kadang ketika diuji sakit atau dirugikan orang lain dan ujian yang bersifat fisik, kita masih oke dan tidak membicarakannya, tapi ketika sakit hati kita akan langsung emosional dan mengungkit semua pengorbanan. Itu karna yang diuji adalah zulzilu, perasaan. 
Maka dari itu penting bagi kita untuk mempelajari sabar terhadap ujian perasaan. Sebab tidak disebut beriman kecuali dilihat dia sabar dalam ujian. Kalau dia gak sabar dalam ujian, Allah akan menggolongkannya termasuk orang-orang munafik. Mengaku beriman tapi ternyata tidak beriman. 
Ketika diuji perasaan kita, kita seharusnya bisa meresponnya dengan cara yang elegan, tidak kekanak-kanakan, merespon tanpa harus memperlihatkan emosional yang meledak-ledak, atau kita bisa Tabayyun. Tapi Tabayyun dengan marah itu beda, Tabayyun dengan mencela itu beda. Maka harus berhati-hati. Jangan sampai sikap tidak sabar kita dalam menghadapi ujian perasaan justru menyakiti perasaan orang lain bahkan sampai tingkat mendzalimi.
Na'udzubillah min dzalik.
Wallahu'alam. 

 

I. Pengertian Ridha

Ridha atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan rela dan dalam bahasa jawa disebut lego lilo adalah jiwa yang pasrah dengan takdir Allah dan tenang dalam menghadapi segala yang menimpanya. ridha ini adalah sifat yang sangat dicintai Allah dan rasul-Nya seperti halnya sifat sabar.

Ridha merupakan derajat tawakal yang paling tinggi. Sifat ridha ini bukan sesuatu yang wajib ada dalam diri seorang muslim, tetapi ini lebih kepada keutamaan.

Ridha dengan takdir Allah adalah salah satu cara untuk pensucian jiwa.  Karena dengan ridha, jiwa seseorang akan menjadi tenang, pasrah, dan bertambah imannya kepada Allah.

 

II. Perbedaan antara Ridha dan Sabar

Sabar adalah menahan diri dari marah sedangkan ridha adalah kelapangan hati menerima takdir (ketentuan) Allah.

Manusia dalam menghadapi musibah dibagi menjadi empat kelompok; Marah, Sabar, Ridha, dan Syukur.  Dari pembagian tersebut, diketahui bahwa ridha lebih utama dan lebih kedudukannya dari sabar.

 

III. Cara agar Hati menjadi Ridha

Salah satu cara agar seseorang mempunyai sifat ridha adalah menyakini bahwa “Ketika Allah tidak mengabulkan harapan dan keinginannya di dunia ini, sebenarnya Allah sedang memberikan kasih sayang-Nya kepadanya.” Bagaimana itu bisa terjadi? Iya karena seorang hamba tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang, kadang yang dia anggap baik baginya, ternyata di masa mendatang menjadi boomerang dalam hidupnya. Sebaliknya, kadang yang dianggap madharat ternyata membawa kebaikan bagi hidupnya. Hal ini telah diisyaratkan di dalam firman-Nya,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (Qs. al-Baqarah: 216)

Ini dikuatkan di dalam firman-Nya,

 وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Qs. an-Nisa: 19)

IV. Keutamaan Ridha di Dunia

Sikap ridha mempunyai keutamaan di dunia dan di akhirat. Adapun keutamaan ridha di dunia adalah;

(1) Ridha menyebabkan seseorang menjadi kaya hati. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jagalah dirimu dari keharaman-keharaman niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli ibadah, terimalah pemberian Allah dengan ridha niscaya kau menjadi orang terkaya. (HR. At-Tirmidzi, 2227)

(2) Ridha menyebabkan seseorang qana’ah dan mulia. Seorang mukmin yang meyakini bahwa rezekinya telah ditentukan oleh Allah dan tertulis di Lauhul Mahfudz semenjak 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi, tidak berkurang dan tidak bertambah sedikitpun, serta tidak akan berpindah ke orang lain; maka dia akan menjadi tenang hatinya, dia bekerja sesuai kemampuannya, qana’ah dengan yang diperoleh, tidak memburu dunia dengan sesuatu yang haram. Dia akan menjadi sosok yang percaya diri dan mulia di hadapan Allah juga di hadapan manusia.

(3) Ridha menyebabkan seseorang tawadhu’ (rendah hati). Jika Allah memberikannya rezeki, jabatan, ilmu, atau semisalnya; maka dia tidak akan sombong, karena semua itu adalah karunia Allah. Ini sesuai dengan firman-Nya,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (Qs. an-Nahl: 53)

(4) Ridha menyebabkan seseorang selalu bersyukur kepada Allah, karena dia meyakini bahwa semua yang dia peroleh dalam hidup ini adalah pemberian Allah yang harus disyukuri.

(5) Ridha menyebabkan seseorang mampu mengubah ujian menjadi sebuah nikmat, dan mengubah musibah menjadi sesuatu yang berpahala, ini sesuai dengan hadist Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bahwasanya ia berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَخْلَفَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

"Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya).' melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik.”

 Ummu Salamah radhiyallahu 'anha berkata; Ketika Abu Salamah telah meninggal, saya bertanya, "Siapakah orang muslim yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dia adalah orang yang pertama kali berhijrah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian akupun mengucapkan doa tersebut. Maka Allah pun menggantikannya bagiku Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Ummu Salamah mengkisahkan; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Hatib bin Abi Balta'ah melamarku untuk beliau sendiri. Maka saya pun menjawab, "Bagaimana mungkin, aku telah mempunyai seorang anak wanita, dan aku sendiri adalah seorang pencemburu." Selanjutnya beliau pun menjawab: "Adapun anaknya, maka kita do'akan semoga Allah mencukupkan kebutuhannya, dan aku mendo'akan pula semoga Allah menghilangkan rasa cemburunya itu." (HR. Muslim, 1525)  

(6) Ridha menyebabkan seseorang akan mendapatkan hidayah dari Allah, sebagaimana firman-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi hidayah (petunjuk) kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. at-Taghabun: 11)

Ayat di atas ditujukan kepada seseorang yang terkena musibah kemudian bersabar, pasrah dan ridha dengan ketentuan Allah serta mengharapkan pahala dari-Nya. Kemudian Allah memberikan pahala dan ganti yang lebih baik.

Berkata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

هي المصيبات تصيبُ المرءَ فيَعلمُ أنها من عند الله فيسلِّم ويرضى

“Maksud ayat di atas adalah musibah yang menimpa seseorang dan dia meyakini semuanya datang dari Allah, maka dia pasrah dan ridha dengannya. (as-Suyuthi, Durur al-Mantsur 8/184)

(7) Ridha menyebabkan seseorang akan mendapatkan ridha Allah di dunia. Ini sebagaimana di dalam hadits Anas radhiyallahu ‘anhu,

عن أنس رضي الله عنه: قال النبي صلى الله عليه وسلم:إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, Dia akan mengujinya. Barangsiapa yang ridha terhadapnya, maka Allah akan ridha. Barangsiapa yang marah terhadapnya, maka dia mendapat murka Allah.” (HR. at-Tirmidzi, 2396. Dia berkata: ini hadits hasan gharib.)

(8) Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca setiap saat adalah memohon ridha terhadap taqdir, sebagaimana hadist ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ، وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَكَلِمَةَ الْعَدْلِ وَالْحَقِّ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لاَ يَبِيدُ، وَقُرَّةَ عَيْنٍ لاَ تَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَأَسْأَلُكَ الشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ، فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ‏.‏ 

Ya Allah, dengan ilmu-Mu yang gaib dan kekuasaan-Mu atas seluruh makhluk, panjangkanlah umur hidupku bila Engkau mengetahui bahwa kehidupan selanjutnya lebih baik bagiku, dan matikanlah aku bila kematian itu lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar aku selalu takut kepada-Mu dalam keadaan sembunyi (sepi) atau ramai. Aku memohon kepada-Mu agar dapat berpegang dengan kalimat hak (kebenaran) ketika marah atau ridha dengan sesuatu. Aku memohon kepada-Mu agar aku bisa selalu sederhana, baik ketika miskin maupun kaya. Aku memohon kepada-Mu agar aku diberi nikmat yang tidak akan habis dan penyejuk mata yang tidak akan terputus. Aku memohon kepada-Mu agar aku dapat ridha dengan segala qadha-Mu. Aku mohon kepada-Mu (agar diberi) kehidupan yang menyenangkan setelah mati, dan Aku memohon kepada-Mu kenikmatan menatap wajah-Mu (di surga). Aku memohon kepada-Mu (agar) rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan (lurus) yang memperoleh bimbingan dari-Mu.” [Qs. 5: 12]. (HR. Ibnu Hibban, 1971. Shahih Ibnu Hibban.)

(9) Ridha menyebabkan seseorang terhindar dari tekanan jiwa.

(10) Ridha menyebabkan seseorang bisa mengimbangi antara perasaan gembira dan sedih.

 

V. Keutamaan Ridha di Akhirat

Adapun keutamaan ridha di akhirat adalah;

(1) Ridha menyebabkan seseorang diampuninya dosa-dosa, dalilnya adalah hadits Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa membaca ketika mendengar muadzdzin, Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, saya ridha Allah sebagai Rabb, dan Muhammad sebagai rasul, serta Islam sebagai agama, niscaya dosanya akan diampuni." (HR. Muslim, 579)

(2) Ridha menyebabkan seseorang masuk surga. Dalilnya adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا أَبَا سَعِيدٍ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Dari Abu Sa'id al-Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepadanya: "Wahai Abu Sa'id, barangsiapa ridla Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabinya, maka ia pasti masuk surga."  (HR. Muslim, 3496)

(3) Ridha menyebabkan seseorang merasakan nikmatnya keimanan, dalilnya adalah hadits al-’Abbas bin ‘Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

Dari al-Abbas bin Abdul Muththalib bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Orang yang ridla dengan Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Rasul, maka dia telah merasakan nikmatnya iman." (HR. Muslim, 49)

(4) Ridha menyebabkan seseorang mendapatkan keridhaan dari Allah yang abadi, dalilnya adalah firman Allah,

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗوَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridlaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (Q.S. at-Taubah: 72).

Hal ini dikuatkan oleh hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَقُولُونَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ فَيَقُولُ هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى يَا رَبِّ وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَلَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُونَ يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا

Dari Abu Sa'id al-Khudri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah bertanya kepada penduduk surga: 'Hai penduduk surga?' mereka menjawab: ‘Baik Rabb kami dan kebaikan ada di tangan-Mu.’ Allah bertanya: ‘Apa kalian ridha?’ Mereka menjawab: ‘Kenapa kami tidak ridha wahai Rabb, Kau telah memberi kami sesuatu yang tidak Engkau berikan pada seorang pun dari makhluk-Mu.” Allah berfirman: 'Maukan kalian Aku beri yang lebih baik darinya?’ Mereka bertanya: 'Wahai Rabb, apa yang lebih darinya?' Allah berfirman: 'Aku halalkan keridhaan-Ku untuk kalian, Aku tidak akan murka pada kalian setelah itu selamanya'." (HR. Muslim, 5057)

 

VI. Sosok Orang yang Ridha

(1) Sosok utama orang yang ridha dengan ketentuan Allah adalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini tersebut di dalam hadist ‘Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu,

عن عمر ابن الخطاب وَإِنَّهُ لَعَلَى حَصِيرٍ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ شَيْءٌ وَتَحْتَ رَأْسِهِ وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ حَشْوُهَا لِيفٌ وَإِنَّ عِنْدَ رِجْلَيْهِ قَرَظًا مَصْبُوبًا وَعِنْدَ رَأْسِهِ أَهَبٌ مُعَلَّقَةٌ فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْحَصِيرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ فَقَالَ مَا يُبْكِيكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيمَا هُمَا فِيهِ وَأَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمْ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ

Saat itu beliau berada di atas tikar yang tidak dilapisi sesuatu apa pun. Di bawah kepalanya hanya terdapat bantal yang terbuat dari kulit yang berisikan sabut. Pada kedua kakinya terdapat dedaunan yang dituangkan, sementara di kepalanya terdapat kulit yang telah disamak. Aku melihat bekas tikar itu di sebelah kiri badannya, dan aku pun menangis. Beliau bertanya, "Apa yang menyebabkanmu menangis?" Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Kisra dan Kaisar keduanya berada dalam kesenangan, sementara Anda wahai Rasulullah.." akhirnya beliau bersabda: "Tidakkah kamu ridha apabila dunia ini menjadi milik mereka, sedangkan akhirat untuk kita?"  (HR. al-Bukhari dan Muslim).

(2) Sosok lain yang mencapai tingkat keridhaan yang tinggi dan menjadi teladan bagi para wanita Muslimah adalah Siti Hajar. Ketika beliau dan bayinya ditinggal oleh suaminya Nabi Ibrahim ‘alaihi as-salam di lembah padang pasir yang tidak ada tanaman dan air. Beliau bertanya kepada suaminya, “Mengapa engkau tinggalkan aku sendirian di tempat yang gersang ini?” Suaminya menjawab, “Ini adalah perintah Allah.” Kemudian beliau berkata, “Kalau begitu saya ridha dengan ketentuan Allah.”

Dalam riwayat lain, Siti Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan engkau berbuat seperti ini?” Nabi Ibrahim menjawab, “Benar, Allah yang memerintahkannya.” Siti Hajar berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan aku.”

Kisah di atas secara lengkap telah disebutkan oleh al-Bukhari di dalam shahihnya.

 

VII. Tanda Hati Ridha

Salah satu tanda seseorang ridha dengan takdir (ketentuan) Allah adalah menjauhi untuk untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang mengandung ketidaksenangan dengan takdir tersebut. Sebaliknya dia harus memperbanyak untuk mengucapkan kalimat al-istirja’ (innalillahi wa inna ilaihi raji’un).

 

VIII. Madharat Tidak Ridha

(1) Tidak ridha menyebabkan seseorang tenggelam dalam kesedihan yang berkepanjangan dan tekanan jiwa yang tidak kunjung selesai.

(2) Tidak ridha menyebabkan seseorang terganggu kesehatan badan.

Dalil dari itu semua adalah firman Allah,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Qs. Thaha: 124)

 

IX. Perkataan Ulama tentang Ridha

(1) Berkata Maimun bin Mahran, “Barangsiapa yang tidak bisa ridha dengan takdir, maka tidak ada obat bagi kebodohannya.”

(2) Berkata al-Hulaimi, “Barangsiapa yang mencintai Allah, tidak akan menganggap musibah yang menimpa dirinya sebagai sesuatu keburukan bagi dirinya, dan dia tidak akan berat melaksanakan perintah dan beribadah kepada-Nya.”

(3) Berkata ‘Abdul Wahid bin Zaid, “Saya mengira tidak ada yang suatu amal yang lebih afdhal daripada sabar kecuali ridha. Dan saya tidak mengetahui derajat yang lebih tinggi dan mulia daripada ridha. Ridha adalah puncak kecintaan.”

Dalam kaidah Ushul Fiqih mengatakan,

الرِّضَا بِالشَّيْءِ رِضَا بِمَا يَتَوَلَّدُ مِنْهُ

“Ridha dengan sesuatu maka juga ridha terhadap konsekuensi dari sesuatu tersebut.”

(4) Salah seorang penyair menulis tentang nikmat hidup yang dirasakan orang yang ridha.

فَلَيْتَكَ تَحْلُو، وَالحَيَاة ُ مَرِيرَة

وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالأَنَامُ غِضَابُ

وَلَيْتَ الّذي بَيْني وَبَيْنَكَ عَامِرٌ

وبيني وبينَ العالمينَ خرابُ إ

ذا صَحَّ منك الودّ فالكُلُّ هَيِّنٌ

وكُلُّ الذي فَوقَ التُّرابِ تُرابِ

“Sekira engkau nyaman, walau hidup ini terasa pahit,

Sekiranya engkau ridha, walaupun semua orang marah,

Sekiranya antara aku dan kamu akrab.

Walaupun  antara aku dan semua orang rusak,

Jika cintamu benar, maka semua menjadi ringan.

Dan setiap yang di atas pasir ini, adalah pasir.”

 

(5) Penyair lain menulis tentang ridha,  

“Jika ujian bertambah berat, akan menjadi ringan dengan keridhaan kepada Allah.

Sungguh, beruntung orang yang selalu ridha dan merasa diawasi Allah.

Betapa banyak nikmat yang disertai dengan ujian.”

 

*** 

 

Bekasi, 25 September 2021

KARYA TULIS